Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Rapuh


__ADS_3

"Ka..."


"Hem... Kenapa sayang ku?"


"Kalau suatu hari nanti kita menikah... apa kaka mau berjanji untuk setia dengan ku saja, jangan pernah ada perempuan lain di antara kita. Jika pun suatu hari nanti kaka bosan dengan ku... katakan dan jujurlah dengan ku, aku tidak akan menghalangi kebahagiaan Kaka, aku akan relakan Kaka, tapi aku minta sama Kaka...." gadis remaja yang yang sebentar lagi lulus sekolah itu mengangkat wajahnya dan menatap sang kekasih hati yang duduk dengan jas kantor yang masih melekat di tubuh gagahnya.


Inayah melanjutkan ucapannya "jangan pernah khianati cinta kita ka, jangan pernah hadirkan perempuan lain di keluarga kita nanti, jangan pernah berpura-pura mencintai aku demi menutupi cinta yang lain.... aku mohon ka" Kedua sudut bibir Zidan terangkat membentuk senyum yang begitu indah. Zidan mengusap pucuk kepala Inayah gemas.


"kamu itu baru tujuh belas tahun---" Inayah menyingkirkan tangan Zidan dari atas kepalanya, ia tatap sengit sang kekasih hati.


"Bulan depan aku delapan belas tahun! aku ingatkan kalau Kaka lupa" Zidan tertawa pelan, ia sibak rambutnya yang nampak panjang hingga mampu menutupi daun telinganya.


"Iya iya, cantik ku ini bulan depan sudah delapan belas tahun, aku ingat sayang, ingat banget cintaku" pria itu menarik nafas dalam.


"Kamu ini ko jadi dewasa banget, berasa ngomong sama yang seumuran aku aja. Sayang..."


"Hem" Inayah bergumam sebagai jawaban, gadis remaja itu sibuk mencabuti rumput taman yang ia duduki bersama Zidan.


"Aku janji sama kamu.... kalau nggak akan ada perempuan lain di antara kita. Hanya kamu perempuan yang ingin aku bahagiakan setelah mamah, nggak akan ada kata bosan untuk perempuan ku yang cantik ini, aku akan terus jatuh cinta dengan Inayah setiap menitnya" Inayah kembali mengarahkan tatapan tajam pada Zidan, ia pukul pelan lengan kokoh pria itu.


"ko setiap menit, biasanya setiap detik" Zidan tak kuasa menahan tawanya, pria dua puluh tiga tahun itu terbahak-bahak begitu gemas dengan wanita dengan tatapan teduh yang berhasil mencuri hatinya.


"Setiap detik aku gunakan untuk bertahan hidup agar bisa terus bersama kamu" Inayah menahan senyumnya, tak kuasa ia menahan gejolak salah tingkah malu-malu kucing mendengar gombalan Zidan. Inayah palingkan wajahnya ke arah lain, ia tidak ingin Zidan melihat perubahan raut wajahnya.


'"liat aku sayang...." panggil Zidan begitu lembut


"Inayah..."


"iya iya, ini aku lihat kamu"

__ADS_1


"cantik. Aku nggak tau waktu tuhan menciptakan kamu di tambahin apa ya? Ko bisa secantik ini sih"


Blus


Zidan tak henti-hentinya menggoda gadis remaja itu, Inayah menyentuh kedua pipinya yang sudah bersemu itu. Melihat tingkah Inayah, Zidan semakin gencar menggodanya.


"cie ada yang salting... Cie cie"


Satu tamparan mendarat di paha kanan Zidan.


"KA Zidan! ngeselin banget sumpah" Zidan tertawa puas.


"kita nikah yu , Aya. Sebentar lagi kamu lulus SMA, kita langsung nikah aja, aku nggak sabar jadiin kamu miliki ku seutuhnya"


"nikah setelah lulus SMA? Yang bener aja kamu ka. Ya ada mamah papah ngga akan kasih ijin" Zidan menurunkan senyumannya.


"yaah, harus sabar empat tahun lagi dong" Inayah mengangguk.


"emang aku ka Zidan, banyak di deketin cewek-cewek"


"ya siapa tau kan, secara kamu cantik gini, pintar ngomong juga, incaran kaka tingkat deh pokonya"


"eum, tau banget ya, pengalaman kayanya nih" Inayah mengejek dan Zidan tersenyum simpul.


Mereka kembali menatap lurus kedepan, dua sejoli yang sudah menjalin hubungan hampir tiga tahun lamanya. Inayah mana tau jika pria yang pernah berjanji untuk tidak menghadirkan wanita lain di hidup mereka ternyata mengikari janjinya, mengingkari janji suci pernikahan mereka, merusak kepercayaan Inayah, menghancurkan rumah tangga impiannya.


"Inayah mengusap air matanya, cincin pernikahan di jari manisnya ia usap. Cincin yang nampak sederhana tapi terlihat begitu mewah dengan harga pantastik.


"dasar pembohong, katanya tidak akan pernah menghadirkan perempuan lain... tapi nyatanya selingkuh sampai punya anak. Kamu jahat banget ka... Aku nggak nyangka kamu setega ini sama aku, ternyata semua kecurigaan ku benar... kamu main-main di belakang aku, kamu berubah bukan karena marah, tapi karena ada perempuan lain yang kamu jaga perasaannya, dan justru tega melukai perasaan ku.... Jahat kamu ka, aku benci kamu, aku benci semua tentang kamu!! Pekik Inayah tak sadar ia ada di mana.

__ADS_1


"Ma--maah" Panggilan kecil dari sang putra barulah menyadarkan Inayah, Inayah tersenyum menatap putranya, ia usap pipi gembul sang anak, perasaan bersalah pun hadir di hatinya. Hancurnya rumah tangganya dengan Zidan bukan hanya melukai dirinya sendiri, tapi melukai anaknya juga, Aska lah yang akan terdampak paling parah setelah mereka berpisah. Inayah mengangkat tubuh kecil Aska duduk di pangkuannya, ia peluk putra semata wayangnya.


"Nak... maaf ya sayang, maaf karena keegoisan mamah kamu harus kehilangan papahmu yang brengsek itu, maafkan mamah ya nak, maaf..." Inayah bergumam dalam hatinya.


Inayah tidak tau harus kemana, ia tidak punya uang, tidak punya ponsel, tidak tau rumah Khansa ada di mana, wanita yang sekarang wajahnya nampak pucat itu menggendong putranya mencari tempat dimana ia dan Zidan dulu memesan cincin pernikahan. Inayah akan menjual benda kecil itu, dia tidak ingin terus larut dalam kesedihan jika melihat cincin pemberian Zidan. Inayah juga butuh uang untuk bertahan hidup beberapa bulan kedepan di kota besar ini, ia akan segera pulang ke kampung halaman setelah perceraiannya selesai.


Di lepasnya cincin mewah itu dari jari manisnya, di dalam bagian cincin itu terdapat tanggal pertama kali mereka bertemu dan menikah, setetes air mata Inayah kembali turun membasahi pipinya.


"Ini mbak"


"saya periksa dulu ya, Mbak" Inayah hanya mengangguk, sungguh ia tidak tega melihat Aska yang harus ikut terluntang-lantung bersamanya, sebentar lagi malam, Inayah harus segera menemukan tempat untuk beristirahat.


Proses jual beli berjalan lancar, Inayah mendapatkan banyak uang dari penjualan cincin pernikahannya, ia segera menuju ke toko baju untuk membeli pakaian baru untuknya dan Aska.


Setelahnya Inayah mencari warung makan untuk mengisi perut.


"Mbak, rendangnya dua ya"


"iya mbak"


"Inayah" langkah kaki Inayah terhenti saat seseorang memanggil namanya, entahlah tiba-tiba Inayah merasakan sesak lagi di dalam dadanya, ia menoleh ke arah sumber suara.


"Khansa..." lirih Inayah begitu pilu, Khansa yang melihat sang sahabat jelas khawatir, ia berjalan cepat ke arah Inayah.


"Lo kenapa Aya?' tanya Khansa khawatir. Inayah tidak menjawab, ia turunkan Aska terlebih dahulu, baru di peluknya sang sahabat begitu erat.


"Khansa..." Khansa membalas pelukan Inayah, di usapnya punggung wanita yang nampak rapuh itu.


"kenapa, Aya?" tanya Khansa penuh dengan kekwatiran.

__ADS_1


"Hancur, Sa... Hancur semuanya, gue di khianati Sa, gue..." Inayah tak sanggup melanjutkan Kalimatnya, Khansa yang belum mendengar kejelasan cerita Inayah pun ikut meneteskan air matanya, ia dapat rasakan kesakitan yang sang sahabatnya rasakan saat ini.


"Ka Zidan Sa... Ka Zidan selingkuh..."


__ADS_2