
Malam memilukan telah berlalu,digantikan matahari yang siap menyebarkan kehatannya.
mulan masih betah bermalas-malasan di atas kasurnya yang berukuran sedang,menyembunyikan dirinya dengan selimut tebalnya,dia hampir tak bisa tidur semalaman karena memikirkan nasib sial yang akan menimpanya kedepannya?,di benar-benar tak menyangka akan tiba saatnya pernikahan menghampiri dirinya dan yang lebih sial lagi ia harus menikah dengan pria yang tak pernah ia temui sebelumnya ,matanya bahkan berkantung hitam menyerupai panda di tambah mata yang sembab dan memerah akibat menangis semalaman.
"huft...kenapa nasibku jadi semenyedihkan ini sih", gerutunya pelan bibirnya maju beberapa senti akibat kekesalan yang melanda hatinya.
mulan beranjak malas dari perbaringannya dan memilih bersih-bersih sebelum menjumpai ibu dan ayah yang tak berperasaan itu.
mulan berjalan dengan gontai kearah meja makan yang menampilkan wajah-wajah yang menampilkan ekspresi yang berbeda beda.
mulan duduk tepat di hadapan ibunya yang menampilkan raut wajah datar dan biasa-biasa saja seolah-olah tak terjadi apapun semalam.
__ADS_1
" baru bangun?"tanya ibu dengan sinis menatap tajam ke arah mulan.
Degh.....jantung mulan hampir copot mendengar suara sinis ibunya ia hanya mengangguk sebagai tanggapan lalu melanjutkan makannya.
"mulai besok kamu sudah harus bangun pagi pagi sekali,bantu ibu buat sarapan!" mulan yang mendengar perkatan tegas ibunya hanya terdiam dan mengagguk kembali sebagai respon.
"kalau ibu ngomong itu di jawab lan!!!" mulan tersentak mendengar bentakan ibunya"i...iya bu.."jawab mulan dengan pelan sambil melanjutkan suapan ke mulutnya dan mengunyahnya sepelan mungkin.
"tapi mulankan belum menyetujui pernikahan itu bu..." ucap mulan sendu dengan mata yang mulai berembun.
"berapa kali sih ibu harus bilang sama kamu! TIDAK ADA PENOLAKAN!" ujar ibu dengan menggebe-gebu ,menekankan bahwa ucapannya tak bisa dibantah.
__ADS_1
"ta...tapi ..kan bu.." ucapan mulan terhenti karna ayahnya menggebrak meja dengan sangat keras lalu menatap tajam kearah mulan dan ibu,mulan hanya bisa menunduk sambil menggigit bibirnya keras-keras menahan isakan yang akan keluar dari mulutnya.
"sudah bicaranya?!" ayah mulan berucap dengan dingin.
"kamu tak punya piliha nak kamu harus tetap menikah dengan pemuda itu, ini sudah menjadi keputusan ayah dan ibu" ucapnya tegas tanpa menoleh kearah mulan sedikit pun.
"tapi kenapa yah.....kenapa aku nggak boleh mengambil keputusan untuk hal sebesar ini dalam hidupku yah....kenapa?!!" gertakku sambil menangis tersedu -sedu tak kuasa lagi menahan tangis yang berusaha kutahan sejak tadi.
"maafkan ayah nak ini semua ayah lakukan demi kebahagiaan kamu nak,ayah tak tahan mendengar kamu selalu dihina oleh orang-orang sedangkan ayah tak bisa berbuat apa- apa,sekali lagi ayah minta maaf nak" lelaki paruh baya itu menatap putri satu-satunya dengan sendu,jangan fikir ia tak tau apa yang selama ini dialami oleh putrinya ia tahu semuanya tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia fikir setelah tamat dari sekolah itu putrinya akan terbebas dari hinaan orang-orang ,fikirannya salah besar hinaan orang malah semakin menjadi -jadi.
ayah mulanpun melenggang pergi di ikuti oleh ibu dan dua adik lelakinya yang sedari tadi hanya diam .
__ADS_1
meninggalkan mulan sendirian yang terisak semakin keras dan pilu.