
"Syukurnya luka tusuk di pinggang pasien tidak terlalu dalam. Kalian bisa masuk, pasien sudah sadar, saya permisi"
"terimakasih dok" dokter berumur 50 tahunan itu tersenyum tipis kemudian melangakah pergi. Tama menggenggam tangan Inayah, tapi saat Tama ingin melangakah masuk ke ruangan Zidan, Inayah melepaskan genggaman tangannya.
"sayang, ayo" Ajak Tama, Inayah menggeleng.
"mas aja yang masuk, aku tunggu di sini aja" Tama menghela nafas, ia kembali menggenggam tangan sang istri.
"Kenapa?hm" Inayah kembali duduk di kursi tunggu di depan ruang rawat Zidan, Tama ikut juga mendudukkan diri di sana
ia genggam tangan Inayah, ibu jarinya mengusap-usap punggung tangan sang istri.
"Karena dia masalalu kamu? makannya kamu nggak mau nemuin dia, sayang" Inayah bungkam, sorot matanya kosong, tidak ada ekspresi di wajahnya.
"Sayang..." Inayah menoleh ke arah Tama, wanita itu kini berkaca-kaca matanya, melihat hal itu, Tama segera menarik Inayah dalam pelukannya.
"mas..." panggil Inayah dengan suara lirih.
"iya sayang"
"Zidan terluka karena aku mas, harusnya aku yang celaka, harusnya aku yang ada di dalam sana, tapi Zidan..." Inayah menjeda sesaat ucapannya, tenggorokannya tercekat.
"tapi Zidan... Di tiba-tiba meluk aku, sampai pria misterius itu melukainya mas" Tama menggangguk pelan, sorot matanya pun menggambarkan hal yang sulit untuk di tebak,Tama diam, ia mendengarkan saja apa yang Inayah bicarakan.
"Maafin aku mas, aku nggak pernah ada maksud buat bersentuhan dengannya, aku merasa bersalah sebagai istri kamu mas, aku di peluk pria lain, kalau boleh mengulang lagi, aku rela terluka dari pada harus bersentuhan dengannya mas" ucap Inayah pilu, Tama mengusap punggung sang istri yang nampak bergetar. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"maafkan aku mas, maaf" Inayah mengeratkan cengkramanya di pinggang Tama.
__ADS_1
"Nggak papa sayang, nggak papa, mas juga yakin, Zidan nggak akan mungkin selancang itu buat nyentuh kamu, dia kaya gitu untuk menyelamatkan kamu dari pria itu"
"tapi aku tetap merasa bersalah sama kamu mas, tidak seharusnya aku yang sudah bukan siapa-siapa lagi untuknya bersentuhan sedekat itu" Pintu rawat yang derdecit membuat keduanya menoleh.
"Zidan" gumam Tama, Tama melepaskan pelukannya begitu juga dengan Inayah, wanita itu tidak dapat menyembunyikan kekwatiran nya, bahkan Inayah yang lebih dulu berdiri, Jika saja Tama tidak langsung melangkah memapah tubuh Zidan, mungkin saja Inayah tanpa sadar yang akan membantu pria lemah itu, Inayah meremas ke-dua jari-jari tangannya untuk menahan diri.
"Lo apa-apaan sih Zidan, Lo butuh istirahat total, kenapa jalan-jalan gini" Zidan berusaha melepaskan tangan Tama, tapi tenaganya belum kembali seutuhnya, Tama masih tetap lebih kuat untuk menahan tubuhnya yang rapuh.
"gue nggak papa Tam, cuman luka kecil kaya gini nggak ngaruh buat gue" Inayah yang berada di belakang Tama nampak menahan bibirnya untuk tidak bersuara, ia ingin rasanya memaki kesombongan pria di depan suaminya itu, bisa-bisanya ia berucap sombong di saat keadaannya saja selemah sekarang.
"Lo gila, Lo itu habis kena tusuk Zidan, Lo bisa nggak keras kepala dulu"
"gue bilang gue nggak papa!" ucap Zidan lagi dengan nada lebih tinggi, pria itu tidak suka Tama memapahnya. Tama juga merasa Zidan tidak suka, ia terpaksa melepaskan tangannya dan membiarkan Zidan pergi. Kali ini inayah tidak bisa diam saja.
"Zidan!" dada wanita itu baik turun, ke-dua tangannya terkepal menampakkan urat-urat di punggungnya. Zidan menghentikan langkahnya, ia masih membelakangi Inayah dan Tama
"Makasih karena sudah membawa saya ke rumah sakit, saya yakin jika kalian pasti tau bagaimana kondisi keluarga saya sekarang, saya tidak ada uang untuk membayar biaya rumah sakit yang mahal, sa---"
"anda tidak perlu memikirkan biayanya, saya yang akan menanggungnya, anda terluka karena saya tuan Narendra" Inayah berucap lirih, Tama melirik sesaat kearah Inayah tanpa mengubah ekspresinya.
Zidan menguatkan diri untuk berbalik menghadap mereka, ia menyunggingkan senyum walaupun sulit.
"Makasih, tapi tidak perlu. Saya menolong anda ikhlas dari hati saya, saya tidak pernah mengharapkan imbalan dari anda, melihat anda tidak kenapa-kenapa saja sudah cukup untuk saya" inayah merasakan Sesak di Dadanya, ia rotasi kan matanya kesembarang arah agar tidak terus menatap wajah pucat zidan.
"Saya permisi" dering ponsel di saku celananya mengalihkan pokus ketiga orang dewasa itu.
"Biruu " gumam Zidan membaca nama di kaya ponsel, mendengar Jika mantan adik iparnya lah yang menelpon zidan, membuat Inayah ikut penasaran, karena jujur, Inayah hapal betul jika kedua kakak beradik itu sulit berkomunikasi, dulu saat masih menjadi istri Zidan, Inayah jarang sekali melihat zidan mengangkat panggilan dari Birru, jika bukan hal penting.
__ADS_1
"iya kenapa Biruu"
....
"gue kesana sekarang" Inayah tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi Zidan nampak khawatir sekali, Zidan tanpa mengatakan sepatah katapun melangkah, tapi Inayah secara spontan menahan pergelangan tangan Zidan.
"Ka, kenapa?" Zidan menatap pergelangan tangannya yang di genggam Inayah, apa ia bermimpi, Inayah kembali memanggilnya dengan sebutan Kaka, seketika rasa kekwatiran itu sedikit sirna , hatinya menghangat.
"Kenapa?" Inayah mengulang lagi.
"Mamah masuk rumah sakit Inayah, mamah stroke, aku harus bawa mamah kerumah sakit yang lebih besar agar mamah mendapatkan perawatan yang lebih baik, sudah satu Minggu mamah di rawat, rumah sakit sudah menyarankan agar mamah segera di bawa, tapi aku nggak punya biaya Inayah, barusan Birru kasih kabar, kalau mamah drop lagi" jelas Zidan tanpa ada kebohongan.
"Mas" Inayah menoleh ke arah Tama yang sejak tadi diam, pria itu seakan pasrah dengan interaksi istri dan mantan suami istirnya itu.
"kita antar Zidan kerumah sakit mamahnya di rawat mas" Tama Mengangguk, ia lirik tangan Inayah yang masih menggenggam tangan Zidan.
"Kita bawa mamah Kaka ke rumah sakit yang bisa memberi perawatan lebih" Zidan Mengangguk.
.....
kini Dewi sudah di pindahkan ke rumah sakit yang lebih memadai, Zidan keluar dari ruang rawat Dewi menemui Tama dan Inayah, melihat Zidan keluar dari kamar rawat, Inayah spontan berdiri lagi.
"Gimana kondisi mamah?" tanya Inayah khawatir.
"Alhamdulillah sekarang mamah sudah jauh lebih stabil" Zidan mengatupkan tangannya di depan dada
"aku nggak tau harus bilang makasih gimana lagi, tapi aku janji akan segera melunasi hutang-hutang ku ke kamu" Tama ikut berdiri di samping Zidan, ia tepuk-tepuk pelan pundak Zidan.
__ADS_1
"Jangan di pikirkan, yang terpenting sekarang kesembuhan Mamah Lo"