Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
ada apa sebenarnya


__ADS_3

"Bisa nggak datang dulu Karina?" nada suara pria itu terdengar begitu dingin.


"Aku kangen kamu, Zidan" Zidan memutar matanya jengah, ia singkirkan tangan Karina dari lengannya dan berdiri.


"Zidan!" Karina yang merasa di abaikan menahan tangan Zidan, ia berdiri juga dan memeluk Zidan dari belakang.


"Aku minta maaf, aku nggak maksud nipu kamu, aku tau kamu masti sadarkan... kalau aku sudah suka sama kamu dari awal kita ketemu, aku sayang kamu Zidan, aku nggak punya cara selain itu agar kamu bisa menjadi milikku, aku Minta maaf Zidan" Zidan kembali melepaskan tangan Karina dari pinggangnya, pria itu nampak tidak peduli dengan apa yang Karina ucapkan, seakan hal itu tidak penting sama sekali untuknya.


"Zidan" Karina berpindah ke hadapan Zidan, ia tahan kedua lengan lelaki itu.


"Zidan..." nada suara Karina berubah lirih, ia kembali memeluk Zidan, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.


"kita kaya dulu lagi ya, kita bahagia kaya dulu lagi, aku mau Zidan yang dulu, aku mau Zidan yang sayang aku kembali" Zidan menyentuh kedua bahu Karina, ia jauhkan Karina darinya, Karina mendongak menatap Zidan dengan tatapan penuh tanda tanya, sedangkan Zidan depan tatapan datar.


Zidan menggeleng "Zidan yang dulu yang kamu kenal adalah Zidan palsu, dan Zidan yang sekarang kamu lihat adalah Zidan yang asli Karina. Tidak pernah ada Zidan yang mencinta kamu, yang ada hanyalah Zidan yang mencintai Inayah, selainya palsu" Karina semakin mengerutkan keningnya bingung, ia singkirkan tangan Zidan dari atas bahunya. Baju bagian depan Zidan Karina tarik.


"Apa maksud kamu Zidan, Kamu sayang aku kan Zidan? kamu cuman marah, iyakan Zidan?" Zidan menatap lurus kedepan, ia menggeleng.


"Aku nggak pernah mencintai seorang pun setelah mengenal Inayah dan mencintainya Karina. Hatiku, cintaku, perasaan ku, dan pengorbanan ku hanya untuk dia Karina, aku lakukan ini semua untuk dia, untuk Inayah, untuk Aska, untuk kebahagiaan mereka" Zidan kembali menatap Karina, ia mengusap kepala Karina pelan.


"ada seseorang yang mencintai kamu Karina, dan itu bukan aku, maaf, karena sampai kapanpun, nama Inayah tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapapun di dunia ini, maaf" Karina diam membeku, ia masih tidak mengerti semua yang Zidan ucapkan, pengorbanan, cinta, kasih sayang, semuanya untuk Inayah. Apa maksut pria itu sebenarnya. Zidan berlalu meninggalkannya dengan seribu tanda tanya.


"Zidan nggak pernah cinta sama gue? Terus apa semua ini? perhatian Zidan ke gue, ke Nesha... Semuanya palsu?" Karina membalik tubuhnya, ia berlari mengejar Zidan, tapi Pria itu sudah tidak lagi nampak di dalam rumah,


"Zidan tunggu" teriak Karina, Zidan terus saja melajukan mobilnya menjauh dari pekarangan rumah.


.....

__ADS_1


Zidan yang awalnya berniat beristirahat sebentar di rumah gagal, karena Karina yang datang mengganggunya, ia memilih kembali kerumah sakit menemani sang ibu, di sana juga ada Narendra yang baru saja keluar dari rumah sakit beberapa hari lalu. Zidan mendudukkan diri di samping Narendra.


"papah nggak istirahat?" Narendra menggeleng, ia berikan satu botol minuman yang nampak masih dingin, Birru yang membawa beberapa saat lalu.


"Minum nak, adikmu yang bawa " dengan segera Zidan membuka botol minuman segar itu, ia memang memerlukan sesuatu yang seperti itu untuk membantu mendinginkan kepalanya.


"Adikmu sudah cerita, kalau Inayah dan suaminya yang membayar rumah sakit mamah" Zidan menggangguk pelan.


"iya pah, mereka yang bayarkan, Zidan mana punya uang untuk memindahkan mamah ke rumah sakit besar ini, waktu papah sakit saja, Zidan dan mamah terpaksa memindahkan papah ke rumah sakit yang biyaya nya lebih murah" terdengar helaan nafas berat dari pria itu, Narendra menoleh sesaat ke arah putranya, ia bisa lihat wajah lelah sang Putra.


"Apa kita di hukum Karena perlakuan kita ke Inayah dulu nak? Keadaan sekarang sudah berbalik, wanita itu selalu di hina di keluarga kita, di rendahkan bahkan tidak pernah di inginkan kehadirannya, dan lihat lah sekarang nak, Inayah yang justru membantu kita, di saat semua orang, sahabat, teman, bahkan keluarga kita sendiri menghilang di saat kita berada di bawah, tapi perempuan itu justru menolong kita" Zidan menyunggingkan senyum, ia nampak bangga dengan Inayah.


"Inayah memang wanita yang baik hatinya pah, Inayah bukan hanya cantik parasnya, tapi hatinya juga. Itu yang membuat Zidan mencinta dia sampai sekarang pah" Narenda bisa rasakan kesedihan dari putranya itu, Narendra mengusap lengan putranya.


"Kamu masih menyayanginya Zidan"


...


di tempat lain


Inayah tidak sadar jika sayur yang ia masak kini mendidih, untungnya ada Bi inah yang datang dan mematikan kompornya, itupun Inayah masih belum sadar juga.


"Bu" bi inah menggerakkan lengan Inayah untuk menyadarkannya, barulah Inayah tersadar.


"di mana pisaunya Bi" ucap Inayah kalang kabut mencari pisau, BI inah yang tidak mengerti ikut mencarikan pisau yang di maksud Inayah.


"ini pisaunya Bu" Bi inah memberikan Inayah pisau dapur, tapi Inayah menolak.

__ADS_1


"bukan itu bi, pisaunya kecil aja deh kayaknya ,tajam"


Semakin bingung lah bi Inah, ia tidak tau pisau yang Inayah maksud.


"Sayang nyari apa?" Seketika Inayah berhenti mencari, ia menatap bi inah yang nampak kebingun, begitu juga dengan dirinya sendiri.


"nyari apa Inayah?"


"itu pak, ibu nyari pisau---"


Inayah langsung menyela" nggak ada mas" Inayah melirik ke arah bi Inah, seakan memberi kode agar diam.


"bi inah, minta tolong panggil anak-anak, sudah waktunya makan malam"


"ii--iya Bu" Inayah kembali ke arah kompor, ia sendok sayur kedalam mangkuk.


"sudah selesai kerjaannya mas?" tanya Inayah dengan posisi membelakangi Tama. Ia sedikit terkejut saat Tama melonggarkan tangan di pinggangnya.


"Sudah Sayang" bisik Tama dengan nada suara rendah di belakang telinga Inayah.


"lepas mas, nggak enak kalau ada yang lihat" Tama melirik ke arah belakang, tidak ada tanda-tanda seseorang pun yang datang. Ia balikkan tubuh sang istri menghadapnya, tanpa pikir panjang Tama menyatukan bibir mereka. Inayah terkejut karena Tama yang tiba-tiba menciumnya, apa lagi tempat mereka sekarang bukan di kamar, anak-anak atau bi Ina bisa saja melihat kegiatan mereka ini.


Inayah berusaha melepaskan tautan bibir mereka, tapi tidak dengan Tama, ia semakin menekan Pinggang ramping Inayah untuk memperdalam ciuman mereka.


"Ma--maas" ucap Inayah terbata-bata. Tama tidak peduli, ia masih saja memberikan tekanan, sampai Inayah mendorong Tama yang di rasa aneh saat menciumnya, Tama tidak seperti biasanya, pria itu seperti memberikan paksaan, padahal Inayah sudah meras was-was.


"mas! Kamu Kenapa sih, ini di dapur mas, anak-anak bisa lihat, apa nggak bisa nunggu kita selesai makan, kan bisa di kamar" omel Inayah seraya mengelap sisa-sisa ciuman mereka, Inayah kembali membelakangi Tama dengan kesal. Pria itu pun kini merasa bersalah, ada sesuatu yang Pria itu pendam di dalam hatinya, ia lampiaskan pada Inayah.

__ADS_1


__ADS_2