
Pelukan yang tiba-tiba tadi berakhir dengan... ya kalian tau lah, suami istri olahraga di atas ranjang, anggap aja seperti itu. Aku harus mandi sebelum menjemput Aska, sedangkan zidan sudah tidur dengan pulas nya. Aku keluar dengan baju mandi dan tidak menemukan Zidan di tempat tidur, kemana dia?
"Zidan" Pintu balkon terbuka, apa dia di sana, aku pasang dulu pakaian ku baru menemuinya, dan benar saja, Zidan sedang menelpon entah dengan siapa.
"terserah kamu, ak--"
"Zi" Zidan menoleh dengan wajah terkejut, apa aku mengejutkannya. Zidan mematikan ponselnya dan menghampiri aku, tangannya ia letakkan di bahu ku
"Kamu sudah mandi?" pertanyaan konyol, apa dia tidak melihat handuk yang melilit rambutku, atau dia tidak melihat baju mandi yang ku kenakan?
"iya, kamu mandi juga sana, pasti lapar kan, aku mau masak mie, mau nggak?"
"mau dong" keningku di ciumnya, kemudian ia masuk kedalam kamar mandi.
Aku berdiri sejenak menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup, dengan siapa suami ku bicara di telpon tadi, kenapa cara bicaranya sesantai itu, apa dia dengan karyawannya memang seperti itu,.tapi kenapa cara bicaranya tidak menggambarkan hal yang seperti itu.
"nggak nggak, inayah, apa yang kamu pikirkan, jangan aneh aneh deh" Aku bergegas turun untuk membuat mie rebus, sepertinya mie rebus rasa soto ayam kebiasaan enak di bandingkan memikir hal yang tidak penting.
....
Ku letakkan satu mangkuk mie instan rasa soto yang sudah ku racik bumbunya agar lebih enak di makan,. tidak lupa ku tambahkan telur dan cabe yang banyak, aku dan Zidan sama-sama pecinta pedas.
"enak nggak?" Zidan mengangkat jempolnya seraya mengangguk karena mulutnya masih penuh. Ku tuangkan air ke gelas dan memberikannya pada Zidan.
"kamu masak berapa?"
"dua, kenapa? Nggak cukup ya."
"nggak, cuma kok, nanya aja." kami berdua makan dengan tenang, tidak lupa di selingi dengan obrolan hangat dan tawa. Zidan bercerita panjang lebar mengenai pekerjaan yang menumpuk akhir-akhir ini, tapi ia masih menyempatkan waktu untuk menghabiskan waktu sibuknya hanya untuk memperbaiki hubungan kami yang sempat merenggang.
__ADS_1
"makasih ya sudah buktikan kalau kamu sayang aku sama anak kita" Zidan melepaskan sendoknya, ia beralih memeluk aku dan kurasakan tangannya mengusap punggung ku.
"makasih ya, sudah kasih aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku janji akan jadi suami dan orang tua yang lebih baik lagi untuk kalian" satu kecupan Zidan berikan di pucuk kepala ku.
"Zi, kamu ingat nggak waktu kita masih pacaran... aku bisa ngambek nerhari-hari kalau liat kamu ngobrol sama teman kuliah kamu...." aku mendongak dan menjada kalimat ku, karena tangan Zidan berhenti mengusap punggung ku.
"Zi?"
"Hem, iya aku ingat. Kamu diemin aku, padahal aku sama teman ku cuman ngobrol biasa. kamu waktu itu masih kecil banget, tapi sudah jadi perempuan yang posesif dan cemburuan" aku kembali meletakkan wajah ku didepan dada Zidan, pelukan ku di pinggang semakin erat.
"iya lah aku cemburu, orang mereka kaya gitu ke kamu, pegang-pegang kamu, aku nggak suka tau"
"dasar cemburuan, untung sayang" aku tersenyum simpul.
"Zidan" panggil ku
"janji sama aku untuk terus setia sampai maut memisahkan kita ya, jangan pernah hadirkan orang ketiga di rumah tangga kita. Kamu tau kan aku begitu mempercayai kamu Zi, dan akan terus seperti itu" satu menit aku menunggu Zidan menjawab, tapi suami ku tak kunjung bersuara, ku lepaskan pelukan ku dan menegakan lagi tubuhku, tangannya ku genggam.
"Zidan" tatapan Zidan yang tadi kosong kini beralih menatap ku.
"kamu dengerin aku ngomong kan, sayang?" Zidan mengusap wajah ku lembut.
"iya, aku janji sama kamu, hanya ada kamu di hati dan di hidup ku, kamu cinta pertama ku dan cinta terakhir ku, kamu wanita yang sulit aku dapatkan, butuh perjuangan buat dapatkan kamu" aku tersenyum hangat mendengar ucapannya, ku peluk lagi dia.
"makasih ya sudah mencintai aku, jangan pernah bosan dengan ku ya, kalau ada sesuatu yang kamu nggak suka dari aku... Katakan ya Zi, aku akan berusaha untuk berubah demi kamu"
"jangan jadikan kekurangan ku untuk mencari seseorang gang lebih sempurna dari pada aku, aku saya kamu Zi"
"aku juga sayang kamu Aya" pelukan Zidan begitu hangat dan tulus, aku begitu menyayangi suamiku, aku mencinta dia sepenuh hatiku, aku tidak tau apa yang terjadi kedepannya dengan hubungan kami, tapi aku akan terus berusaha menjaga hubungan kami agar tetap utuh, di tengah restu yang belum kami dapatkan dari orang tuanya.
__ADS_1
.....
Tadi aku dan Zidan hampir aja telat menjemput Aska ku, kami berdua sempat tidur lagi setelah makan mie instan, untungnya aku terbangun karena kehausan, dan alangkah terkejutnya aku saat melihat jam di dinding sudah hampir mendekati jam Aska pulang sekolah.
"Aska kayanya kecapean banget deh, sampai ketiduran gitu" segera aku menoleh kebelakang, benar saja apa yang Zidan katakan, Aska ketiduran.
"gurunya selalu bilang, kalau Aska itu anak yang hiper aktif, ada aja tingkahnya kalau di sekolah, aku nggak tau sifatnya itu nurun dari siapa" salah satu sudut bibirku terangkat mengingat perbedaan sifat ku dan Zidan dengan anak kami Aska.
"kayanya dari aku deh, yang" Zidan menoleh menatap ku sekilas dan kembali menatap jalan di depan.
"kamu? emang iya?" Zidan Mengangguk tanpa ragu.
"Kamu ketemu aku di zaman aku yang sudah keren, Aya. Coba kamu ketemu aku waktu masih pecicilan nakal, beh, aku yakin kamu nggak akan mau sama aku"
"Emang iyaa" aku mengejek, dia menatap ku dengan tatapan tajam di buat-buat, aku tertawa dengan tingkahnya yang menggemaskan itu. Ku sentuh tangannya dan mencium punggung tangannya.
"jangan marah, aku takut liat kamu marah kaya waktu itu. Aku nggak mau lihat kamu marah lagi, Zidan, Aku takut" Zidan menarik tangannya dan mengusap pucuk kepala ku.
"maaf, karena membuat kamu dan anak kita ketakutan. Aku pun takut kamu dan Aska pergi ninggalin aku, sayang, sampai aku kelepasan, maafkan aku juga"
....
"tada... kue sus kesukaan Aska dan papah sudah jadi"
"yeeeee, makasih mamah" ku cium kening anak.
"makasih sayang"
"makasih juga karena kamu mau meluangkan waktu untuk main bareng Aska" di luar sedang tutur hujan deras, makan kue sus di temani teh hijau tanpa gula adalah pilihan yang tepat. Aska dan papahnya memiliki selera makan yang sama, ada beberapa makanan kesukaan dan tidak suka yang sama juga, seperti kue sus ini, salah satu kue kesukaan mereka.
__ADS_1