Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Lebam


__ADS_3

Ya Allah, hatiku benar-benar hangat melihat pemandangan yang jarang sekali aku lihat, aku sampai bergeming karena terharu.


Zidan tidur dengan posisi memeluk Aska. Aku jadi sedikit ragu untuk membangunkan Aska, tapi mereka harus segara bersiap sholat subuh. Aku mendekat dan duduk di samping Zidan, aku mengusap kepala Zidan dan memanggil- manggil namanya.


"sayang... bangun, mandi, kita sholat sayang"


"Zidan, bangun sholat" Zidan mulai terusik, keluhan mulai terdengar. Zidan menyesuaikan matanya dengan lampu kamar yang sudah menyala.


"jam berapa" tanya Zidan dengan suara serak


"jam lima, bentar lagi Adzan"


"Hem" Zidan bergumam.


Aku melihat Zidan mengusap kepala putra kami, kemudian mengecup keningnya sebelum bangun. Zidan juga mengecup singkat keningku dan berlalu pergi. sekarang, saatnya aku membangunkan Aska.


"Aska, sayang, bangun nak, sholat anak mamah yang ganteng"


"Aska" sama seperti papahnya, Aska langsung bangun saat aku mengusik tidurnya, Aska bangun dan langsung memeluk ku.


"mamah"


"kenapa nak?


"tadi malam tidur di sini?"


"iya sayang, papah juga tidur di sini bareng Kita" Aska tidak merespon, tidak terlihat antusias juga setelah mendengar ceritaku, padahal ini yang Aska harapkan, bisa tidur bertiga dengan papahnya juga. Mungkin karena baru bangun tidur, jadi Aska belum terlalu sadar.


Aku menggendong Aska masuk kedalam kamar mandi. Sambil menunggu air panasnya pas, aku membuka baju yang Aska kenakan.


Mataku terbelalak saat ku temukan lebam di bagian paha kiri anak ku.


"Astagfirullah, Aska" tanpa sengaja aku justru menekan bagian yang lebam hingga Aska meringis kesakitan.


"sakit mah" aku matikan dulu airnya dan kembali menggendong Aska keluar dari kamar mandi, aku dudukkan Aska di tempat tidur.

__ADS_1


"ini kenapa nak, Aska jatuh " Aska menggeleng.


"ini gara-gara di tendang papah mah" Allahuakbar, aku kira Zidan pelan saja menendang anaknya, tapi nyatanya sampai memar begini, tega sekali suamiku itu.


"tunggu di sini, mamah ambilkan air untuk di kompres" Aku segera keluar untuk mengambil air untuk mengompres lebam di paha anak ku. Di luar, aku berpapasan dengan Zidan, Zidan memanggil ku karena melihat aku panik dan buru-buru. Merasa di abaikan, Zidan mengekor di belakang, menahan tangan ku saat ingin kembali melewatinya.


"lepas Zidan, aku buru-buru " tangan ku menggeliat, tapi Zidan enggan melepaskan sebelum aku ceritakan.


"Kamu kenapa? ada yang salah?" aku berdecak kesal, sungguh aku marah dengan tindakan Zidan yang sudah menyakiti anaknya, entah itu sengaja, ataupun tidak sengaja.


"kamu nendang Aska tadi malam, sekarang kakinya memar, kamu tega banget sama anak kita, Zi" ucap ku dengan nada suara seperti biasanya, sebenarnya ingin meninggikan suara di hadapan Zidan, tapi setelah menatap kedua matanya, kembali aku urungkan, kedua bola mata Zidan, begitu mirip dengan bola mata Aska.


Cengkraman tangan Zidan perlahan melonggar, Zidan tidak bertanya lagi dan bergeming di tempatnya. Aku segera membawa air dan kain lap itu untuk mengompres lebam di paha kiri anak ku.


Aku tidak akan membawa Aska sekolah dulu hari ini, aku ingin memeriksakan kondisinya dulu, aku tidak ingin anak ku kenapa-kenapa.


....


Di meja makan, aku sesekali melirik Zidan yang tidak mengalihkan pandangannya dari Aska, mungkin Aska merasa papahnya terus memandanginya, jadi Aska menunduk saja selama makan, aku juga tidak ingin mengatakan apapun, aku masih kesal dengan sikap kasar Zidan.


"Aku antar Kalian kesekolah" ucap Zidan tanpa basa-basi, atau mengatakan apapun tentang tindakan kasarnya.


"aku nggak sekolahkan Aska dulu hari ini, aku mau bawa Aska memeriksakan lebamnya. Aska juga baru sembuh dari sakitnya" ucap ku datar.


"jam berapa?"


"sekarang"


"aku akan antar kalian"


....


Di dalam mobil, tidak ada yang mau membuka mulut untuk memecahkan keheningan. Zidan diam dengan terus mengendarai mobilnya, Aska begitu juga, anak ku hanya diam saja sepanjang perjalanan, padahal kalau aku dan dia sedang berangkat sekolah, Aska akan bernyanyi riang, tapi sekarang, anak hiper aktif itu hanya diam saja, menunduk dengan sesekali mengarahkan pandangannya ke luar.


Kami akhirnya sampai di klinik, aku sudah membuat janji dengan dokter yang akan memeriksakan Aska. Aku sedikit kaget juga, saat turun, Zidan tiba-tiba mengangkat tubuh Aska dan menggendongnya. Zidan juga menggenggam jari-jari ku, kami berpegangan tangan menyusuri jalan.

__ADS_1


"kakinya sakit?" Zidan fokuskan pandangnya pada Aska, Aska diam dengan terus memutar-mutar jari-jarinya.


"Aska, di tanya papah nak, kakinya sakit nggak"


"sa--sakit mah" jawab Aska gugup, terlihat sekali ketakutan dari raut wajah anak ku.


"maafin papah ya" ucap Zidan lagi, Aska masih tetap diam saja, seperti enggan juga menatap papahnya.


"Aska" aku mencoba menegur Aska yang hanya diam saat di ajak zidan bicara, tidak sopan.


"i--iya mah"


"loh ko iya mah"


"ii--iya pah" ucap Aska gugup, obrolan singkat kami itu harus terhenti dulu karena sekarang kami sudah ada di depan pintu ruangan si dokter. Tidak ada pasien lain selain kami, jadi kami tidak harus menunggu antrian.


....


Kami bertiga sedang duduk di depan salah satu supermarket sambil menikmati eskrim, bukan kami sebenarnya hanya Aska. Selesai memeriksakan kaki Aska, Zidan tidak mengantar kami pulang, tapi justru membelokkan setir mobilnya dan di sini lah kami sekarang.


Wajah Aska sudah kotor dengan eskrim, Aska duduk tepat di samping ku, sedangkan Zidan di depan ku, Zidan fokus dengan layar laptopnya, katanya sedang memeriksakan laporan yang masuk.


Jarang sekali ada waktu di luar seperti ini, dulu... sebelum menikah, aku memiliki lebih banyak waktu bersama Zidan ketimbang Setelah menikah. Aku merasa lebih bebas dan tidak terkekang. Tapi setelah memutuskan untuk menikah, kenapa aku merasa waktu dengan Zidan sangat sulit aku dapatkan.


Sekali lagi aku tekankan, itu semua di mulai sejak kami bertengkar hebat dulu, sebelum itu, atau di awal-awal pernikahan tidak kok, Zidan sering mengajak aku jalan di hari libur, menemani aku belanja bulanan, ketaman, tapi setelah kejadian itu, aku merasa di kucilkan olehnya, aku merasa di sembunyikan dari publik.


Tapi setelah aku meminta maaf dan Aska lahir, sikapnya yang pemarah, kasar, dingin, ketus, perlahan berubah, Zidan kembali seperti Zidan yang aku kenal di masa sekolah, meskipun masih saja ada pertengkaran yang terjadi diantara kami, tapi akan cepat berlalu tanpa adanya tangisan dari ku karena sikap kasarnya. Itu setelah aku melahirkan Aska, dan berhenti bekerja di perusahaan itu, Zidan mulai luluh kembali.


Tapi di satu tahun terakhir, aku merasakan perubahan sikap Zidan yang begitu drastis, ada yang salah dengan suami ku, Zidan Benar-benar berubah, Zidan bukan lagi laki-laki yang sama, yang aku temui 12 tahun silam di sekolah.


Zidan begitu mudah membentak dan bahkan tega melayangkan tangan ke tubuhku. Aku tidak tau apa yang membuatnya seperti itu, apa tekanan pekerjaan yang membuat Zidan berubah menjadi sosok yang keras, atau ada alasan lain di balik perubahannya itu.


Ah, aku menggeleng, bisa-bisanya terlintas di kepala ku tentang Zidan yang memiliki wanita lain selain aku, wanita yang membuat Zidan perlahan melupakan aku dan Aska. Tidak mungkin, Zidan bukan pria seperti itu, aku percaya seutuhnya dengan Zidan.


"Zi, kamu ke kantor aja, aku sama Aska bisa pakai taxi online" aku bersihkan wajah Aska dengan tisu.

__ADS_1


"aku antar kalian pulang " Zidan tidak mengangkat kepalanya, dan terus mengetik.


__ADS_2