Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Mimpi buruk


__ADS_3

"Inayah...." Zidan menyalakan lampu di ruang tamu rumahnya


"Aska.... papah pulang nak, Aska.... papah bawa mainan untuk Aska" Paper Bag berisikan mobil mainan terbaru Zidan letakkan ke atas meja, ia melangkah mencari anak dan istrinya, biasanya Inayah sudah menunggunya di ruang tamu, tapi kali ini Inayah tidak ada.


Sudah satu minggu Zidan selalu saja pulang kerumahnya dengan Inayah, rumah kosong dan hampa, tidak ada kehidupan di rumah bernuansa Putih tulang itu. Biasanya juga aroma masakan dari Inayah sudah menusuk Indra penciumannya.


"Aya...." Zidan dapati wanita dengan rambut terurai membelakanginya, tidak ada aktivitas yang wanita itu lakukan, hanya bunyi pisau yang seperti seakan ditekan kuat di atas talenan, juga bunyi air mendidih di atas panci pun di hiraukan Inayah.


"Aya .. Itu kamu sayang...." semakin Zidan melangkah mendekat, semakin kuat suara dari gerakan pisau yang di tekan.


"Aska mana Aya..." Zidan mencari cari keberadaan putranya, biasanya Aska ada menyembul dengan wajah takut di balik meja atau kulkas, tapi pria kecil bermata bulat itu tidak terlihat sama sekali.


"ngapain kamu nanyain Aska, emang kamu peduli sama dia?" tanya Inayah dengan suara datar


"aku papahnya Inayah, aku peduli dengan anak ku" suara tawa Inayah terdengar menggelegar, Inayah tertawa terbahak-bahak dengan terus memunggungi Zidan. Zidan menatap bingung.


"Sejak kapan kamu mengakui dia sebagai anak Zidan? heum? sejak kapan kamu mencari


Aska ku Zidan? sejak kapan kamu bawakan Aska anak ku mainan? bukannya kamu tidak menganggap Aska sebagai anak kamu, Zidan?"


Pandangan Zidan teralihkan pada air yang mendidih di dalam panci "Aya... airnya sudah mendidih" tangan Zidan yang ingin menyentuh pundak sang istri terhenti karena suara Inayah terdengar berat.


"kenapa kamu lakukan ini Zidan, Kenapa kamu tega mengkhianati aku? kenapa zidan?" Zidan menggeleng,


"Jangan mendekat!" titah Inayah dengan suara tinggi, seakan tau Zidan ingin mendekatinya.


"Aya..." panggil Zidan lirih, Inayah berbalik menatap Zidan, Zidan seketika memundurkan langkah saat Inayah dengan wajah tidak bersahabat mengacungkan pisau ke arahnya.


"kenapa mundur Zidan? kamu takut dengan pisau ini"


"sayang, jangan main-main dengan pisau, berbahaya, kamu bisa terluka"

__ADS_1


"SAYATAN PISAU INI TIDAK AKAN SEBANDING DENGAN RASA SAKIT YANG KAMU BERIKAN ZIDAN!" Inayah mengarahkan bagian pisau yang tajam ke arah pergelangan tangannya.


"INAYAH!!!" keringat bercucuran di wajah ketakutan Zidan, dada pria itu turun naik mengatur nafas, iris matanya bergerak ke kanan dan kiri, ia sentuh dadanya yang bergemuruh hebat. Ia raba kasur yang kosong di sampingnya, kasur yang biasanya di tempati Inayah.


Zidan mengusap wajahnya kasar, ponsel yang berdering di atas Nakas membangunkan Zidan dari mimpi buruknya.


Zidan berdecak kesal saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"kenapa?" tanya Zidan datar.


"KAMU DI MANA, PULANG SEKARANG!" Zidan mematikan ponselnya dan ia lempar ke sembarang arah.


Pertengkaran dengan Karina terus terjadi selama ia dan Inayah telah resmi bercerai. Zidan yang biasanya hanya diam saat Karina mengomel, untuk sekarang Zidan tidak bisa diam lagi, ia akan melakukan hal yang sama pada Karina, itu juga salah satu alasan kenapa Zidan lebih memilih tidur di rumahnya yang sudah kosong dari padaa tidur dengan Karina, yang terus saja terlibat pertengkaran yang tidak ada habisnya itu.


Entah kapan terkahir kali Zidan pulang ke rumahnya bersama Karina, Zidan lebih sering tidur sendiri di rumahnya bersama Inayah.


"Aya..." tidak ada siapapun yang tidur di sampingnya, tidak ada wanita bermata teduh yang akan langsung memeluknya jika ia bermimpi buruk. Zidan menutup wajahnya, lama ia berada di dalam posisi itu sembari membayangkan ada Inayah yang memeluknya.


....


Inayah POV


Kedua orang tuaku menatap ku penuh dengan tanda tanya, pasti mereka terkejut karena tiba-tiba aku pulang bersama anakku. Ini sudah hari kedua aku dan Aska di rumah mamah ku, aku tidak ada menceritakan apapun dan hanya bilang kalau aku dan Aska hanya berlibur saja, tapi sepertinya mereka tidak bisa di bohongi lagi, firasat orang tua tidak pernah salah apalagi ibu, begitu juga dengan mamah ku, sejak tiba mamah selalu mencerca ku dengan segala pertanyaan, dimana suami ku, kenapa aku pulang secara tiba-tiba, kenapa Zidan tidak mengantar, apa aku dan Zidan bertengkar, aduh, andia mamah ku tau kalau sekarang anak nya ini sudah tidak memiliki suami lagi.


"Jadi kamu mau terus diam Inayah?" ku kulum bibirku gugup, bola mataku merotasi kesembarang arah, tidak berani ku tatap wajah orang tuaku di depan.


"Inayah' suara berat papah membuat ku mau tidak mau mengangkat kepala.


"di mana Zidan?"


"pa--pah ma--maah, se---sebenarnya...." jantung ku berpacu lebih cepat, aku gugup ketakutan, aku tidak tau harus memulainya dari mana, apa aku langsung katakan saja kalau aku sekarang tidak bersuami lagi, atau aku katakan kalau aku dan Zidan telah bercerai, astagaa kepalaku rasanya ingin pecah.

__ADS_1


"se---sebenarnya aa--Aya...." ku beranikan diri menatap mereka lagi, kedua tangan ku saling terpaut, saat ku tatap dalam wajah orang tuaku, aku tidak dapat membendung lagi air mataku. Raut wajah mamahku berubah, ia berpindah duduk di samping ku dan memeluk ku.


Aku menangis histeris, ku remas bagian belakang baju yang mamahku kenakan, ku tumpahkan kesedihan ku di pelukan mamahku, papah ku pun ikut berpindah ke samping kanan ku, mengusap kepala ku dengan lembut, kehangatan yang begitu aku rindukan.


"Aya sudah nggak sama zidan lagi mah...." ucapku lirih, seketika usapan tangan mamah ku di punggung ku terhenti.


"Aya sudah pisah dengan Zidan mah..."


"zi--Zidan selingkuh.... Zidan..." mamah ku melepaskan pelukannya, ia menatapku dengan tatapan berbeda lagi.


"apa yang kamu katakan Aya, jangan bercanda, kalian bertengkar?" aku hanya bisa menggeleng dengan kembali menunduk.


"Aya nggak bohong mah, Zidan selingkuh, selama bertahun-tahun Aya di permainkan Zidan dan keluarganya" ku hapus air mata ku dengan punggung tangan, ku genggam tangan mamaku dan meletakkannya di atas pangkuan ku.


"mah" Aku menoleh ke arah papah ku.


"pah"


"Aya sudah bercerai dengan Zidan" jelas kedua orang tua ku terkejut mendengar hal gila itu keluar dari mulutku.


Mengalir lah cerita perceraian ku dengan Zidan, di mulai dari pertengkaran kami saat hamil, kemudian Zidan yang melampiaskan amarahnya dengan meniduri sahabatnya hingga hamil dan berakhir dengan pengkhianatan Zidan selama bertahun-tahun lamanya. Aku juga ceritakan bagaimana keluarga Zidan tidak pernah menganggap ku ada, tidak pernah menerima ku sebagai menantu mereka, aku yang di asingkan Zidan dari dunia luar karena permintaan orang tuanya bahkan anak ku saja tidak ia akui keberadaannya.


Kedua orang tua shok berat, bahkan mamahku sampai kesulitan mengatur nafasnya.


"mamah..." aku dan papah ku panik, syukurnya mamah ku tidak kenapa-kenapa.


"Aya.." tangan lembut dan dingin mamah ku mengusap pipiku yang nampak lebih tirus dari sebelumnya.


"maafin Aya, Aya nggak dengerin kata mamah sama papah, Aya tetap ngeyel menikah dengan Zidan, padahal keadaan sosial Aya dengan Zidan jauh berbeda... maafin Aya mah, maafin Aya pah" mamah ku menggeleng dan mengusap air mataku.


"jangan menangis nak, kamu nggak salah sayang, mereka yang jahat sama anak mamah, mereka melukai hati anak mamah, jangan menagis sayang, mamah sama papah akan selalu ada di samping Aya"

__ADS_1


"mamah" ku peluk lagi mama ku, begitu juga dengan papahku, aku dan mamah ku menangis, aku tidak tau apakah papahku menangis juga, tapi papah tidak ada sedikitpun mengeluarkan suaranya.


__ADS_2