Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Bermain


__ADS_3

Semenjak hamil, aku lebih sering malas-malasan di rumah, Tama melarang ku untuk ke kantor, tidak di larang pun sebenarnya aku juga tidak akan ke kantor, karena semenjak hamil, tingkat kemalasan ku melebihi rata-rata orang normal. Bayangkan saja sendiri bagaimana malasnya aku, untuk bangun dari tempat tidur saja rasanya berat, aku selalu ingin menempel pada Tama seperti perangko yang tidak ingin lepas. Ke hamilin ku ini sungguh berbeda dengan kehamilan ku sebelumnya. Waktu hamil Aska, aku dan zidan pun sama-sama bekerja awalnya, saat itu mungkin karena terlalu semangat bekerja aku tidak merasakan kesulitan saat hamil, tapi setelah kejadian di Restoran dan aku memilih Risen, aku jadi lebih punya banyak waktu di rumah, aku selalu ingin dekat dengan Zidan, tapi Zidan seakan memberi jarak yang sangat jauh, ada satu bulan zidan tidak ingin bicara dengan ku saat itu. Mengingat sulitnya aku dengan Zidan dulu, membuat ku merasa bersyukur sekarang.


"Sayang" Lamunanku tentang masa lalu yang teramat menyedihkan di hentikan saat Tama kini melingkarkan tangannya di perutku yang mulai menonjol.


"Kalian sudah siap?" aku bertanya, Tama mengangguk


"Aku sama anak-anak sudah siap dari tadi, kita nungguin kamu" Iya, hari ini aku dan Tama akan mengajak anak-anak liburan sebentar, mereka sendiri yang minta di ajak ke wahana bermain, Tama sudah pasti setuju, dan aku ikut-ikutan saja, yang penting anak-anak ku senang.


Tama menciumi leherku, tingkah Tama ini sungguh membuat ku geli, dia suka sekali menciumi area situ, katanya wangi.


"ya udah kamu tunggu di luar sana sama anak-anak, aku mau pakai kerudung dulu, katakan pada mereka aku akan segera turun"


"Aku temenin kamu pakai kerudungnya"


"Terserah kamu... tapi lepasin dulu, mana bisa aku pakai kerudung dengan kamu yang terus terusan meluk. Nanti semakin lama loh selesainya" sebelum melepaskan pelukannya, Tama kembali menciumi pipi ku.


"Gemes aku tuh, makin gembul aja kamu sayang " Apa aku tidak salah dengar, dia menyebutku gembul? tunggu-tunggu, apa maksudnya aku gendut, benarkah? Ku tatap serius wajah ku dari pantulan cermin.


"Aku gendut maksud kamu, mas?"


"ng--nggak ng--nggak gitu maksutnya sayang, ka---" aku berbalik menghadapnya, ku pasang wajah marah, dia nampak panik.


"Aku gendut, iyakan?" Tangan Tama yang ingin menyentuh ku, ku tepis, aku benar-benar tersinggung dengan ucapannya, selain malas, aku juga sedikit lebih perasa, aku lebih mudah menangis dan tersinggung jika ada kata-kata yang tidak aku suka. Aku memilih duduk di pinggiran ranjang, menatap kosong ke arah depan.


"sayang..." Tama beralih duduk di depan ku, ia raih kedua tangan ku untuk di genggamnya, meskipun berkali-kali ku tepis, Tama tetap kekeh ingin menggenggamnya. Ku palingkan wajah tidak ingin menatapnya, kenapa hormon hamil ku ini benar-benar aneh, aku Bahkan sampa menangis cuman gara-gara Tama menyebutku gembul.

__ADS_1


"Sayang... maaf" Tama mengusap air mataku yang turun.


"Aku nggak maksut bilang kamu gendut sayang... Aku cuman bilang kamu gemesin dengan pipi yang sedikit gembul " Ku singkirkan tangan Tama dari wajahku, kaki ku sedikit menghentak.


"Tapi aku nggak suka mas! kamu tau kan perempuan itu paling nggak suka di singgung bentuk tubuhnya" ku lihat dia mengangguk dan menarik kedua telinganya.


"Janji nggak ngulangin lagi, maaf" Lirihnya di depan ku, waduh, aku jadi merasa bersalah, apa aku keterlaluan, bahkan Sampai membentak tadi. Aku menurunkan tangannya, ku tuntun dia untuk berdiri, lalu ku peluk dia dengan posisi tetap sama, aku duduk di pinggiran ranjang. Ku rasakan tangan nya terus mengusap bagian belakang ku.


"Maafin aku juga karena sudah bentak kamu, aku nggak maksut kaya gitu, aku juga nggak tau aku kenapa akhir-akhir ini, nggak bisa salah sedikit langsung marah, langsung kesel, pengennya nangis" aku berucap jujur.


"aku mengerti keadaan kamu sayang, jangan meminta maaf, aku lah yang harusnya meminta maaf, aku sudah tau hormon wanita hamil akan sangat mempengaruhi kehamilan, eh... akunya nggak bisa jaga omongan " Tama melepaskan lagi pelukannya, di usapnya air mataku yang turun.


"Jangan nangis lagi ya, kamu cantik sayang, aku suka banget" ku raih tangannya dan ku cium, sebagai tanda aku menghormatinya.


"Makasih sudah mau mengerti dengan sikap istri mu yang kurang ajar ini, mas" Dengan segera Tama mendudukkan diri di samping ku, Tama mengarahkan aku duduk menghadapnya.


"mas..." aku menangis seperti anak kecil saja.


"kamu ko baik banget mas, aku jadi bingung kenapa tuhan mempersatukan kita, kamu dengan ku yang labil ini" aku bergumam, ku dengar kekehan dari Tama.


"Kenapa ngomong gitu, kamu juga baik, kamu wanita sempurna yang aku temui beberapa tahun lalu sebagai karyawan ku, lalu tuhan memutar lagi takdir kita dan mempersatukan kita sebagai pasangan suami istri yang saling melengkapi, aku senang bisa menjadi suami mu, dan ayah untuk anak-anak kita, Aska, Ziya dan calon anak kita di dalam perut kamu sekarang" lembut sekali setiap kalimatnya, aku benar-benar bersyukur bisa mendapatkan sosok pengganti sebaik Tama, aku berharap sungguh Tama pria yang berbeda dari Zidan yang selalu memberi ku luka, aku berharap Tama tidak akan pernah memberikan rasa sakit seperti Zidan memberi rasa sakit di hatiku. Semoga Tama sungguh tulus menerima ku dan anak-anak ku, aku tidak ingin terluka lagi, aku tidak ingin anak-anak ku merasakan sakit yang sama lagi.


...


"Mah ayo ikut main sini" Ziya melambaikan tangan nya memintaku ikut bermain mobil mobilan dengan mereka. Bisa-bisa aku muntah di sana.

__ADS_1


"kalian aja, mamah potoin aja dari sini, ya" tiba-tiba aku pengen banget sama minuman segar, mungkin karena melihat anak kecil yang minum es di samping ku.


"Mas" Tama terlalu asik sampai tidak lagi mendengar panggilan ku.


"mas Tama"


"mas" aku sedikit meninggikan suara, syukurnya dia mendengar, Tama turun dari mobil-mobilannya dan menghampiri ku.


"kenapa sayang " Tama mengelus wajah ku lembut.


"aku haus, aku mau beli minuman dulu, kalian mainnya daerah sini aja"


"aku beliin ya, kamu tunggu sini"


"jangan mas, nanti anak-anak nyariin kamu, kesian mereka, aku aja" aku berusaha meyakinkannya.


"kamu nggak papa beli sendiri " aku tertawa pelan.


"nggak papa lah mas, aku bukan Ziya, anak kecil umur tujuh tahun, aku nggak akan nyasar ko, aku bisa jaga diri" Tama Mengangguk pelan, ia menoleh sesaat ke arah anak-anak ku


"mereka seneng banget" ucapannya, aku mengangguk.


"iya, Aska aja jadi banyak ketawa. Ya udah mas, aku titip anak-anak sebentar "


"iya, kamu hati-hati "

__ADS_1


"iya"


__ADS_2