Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Keguguran


__ADS_3

Keadaan kami sekarang sudah jauh lebih tenang. Aku dan kedua orang tuaku duduk diam tanpa mengatakan sepatah katapun.


"kenapa nggak bilang dari awal nak? kenapa kamu hadapi semuanya sendiri sayang, kenapa nak?"


"Aya nggak mau bikin kalian khawatir, Aya nggak mau kalian ikut merasakan sakit yang Aya rasakan, mah" punggung tangan ku di sentuh mamah, aku menoleh menatap mamah ku.


"kamu anak mama Aya... kamu anak kita, kamu masih tanggung jawab mama dan papa, apa yang terjadi sama kamu dan Aska.... mama dan papa harus tau nak, walaupun kami tidak bisa membatu banyak, tapi setidaknya mama papa bisa mengurangi sedikit sakitnya kamu" ucap mamaku, terdengar sekali kekecewaan dari setiap kata yang di keluarkan mama, mamah dan papa kecewa karena aku menyembunyikan masalah besar keluarga ku, sampai perceraian pun tidak aku beritahukan pada mereka.


"maafin Aya, maaf..." mama kembali memeluk ku dengan erat, mau sekecewa apapun mereka dengan ku, selalu ada kata maaf untuk ku.


"maaf..." ku eratkan juga pelukan ku. Setelah tidak lagi mendengar tangisan ku, mamah melepaskan pelukannya, ia menyentuh perut ku yang terlihat menonjol.


"berapa bulan?" sungguh aku sedikit terkejut, aku belum katakan apapun mengenai kehamilan ku ini, kenapa mereka bisa tau.


"mamah tau?" mama Mengangguk.


"Aska yang kasih tau mamah kemaren, waktu mama bilang papahnya mana, dia bilang nggak ada, yang ada ade Aska di perut mama" ucap mama ku mengulang apa yang Aska katakan. Aku tersenyum dan menunduk menatap tangan mama ku di atasnya.


"iya mah, Aya hamil, sudah dua bulan"


"mantan suami kamu tau?" jujur aku sakit saat mamahku katakan mantan suami, secepat ini semuanya berjalan, bahkan jika di ingat tidak ada itikat baik Zidan untuk mempertahankan rumah tangga kami. Aku mengangguk.


"Aya kasih tau Zidan setelah kami resmi bercerai"


"kamu mulai awal yang baru nak, bersama kedua anak mu, mama dan papa akan selalu ada untuk kalian" ucap mama ku begitu tulus.


"makasih ma, makasih pah"


.....


Satu bulan kemudian

__ADS_1


Author POV


"Kamu itu lagi hamil Karina! Lihat sekarang! karena gaya kamu itu cucu saya menjadi korban!" Karina dengan pakaian rumah sakit memutar matanya jengah, nampak tidak ada yang terjadi dengan wanita itu, tapi nyatanya ia baru saja kehilangan janin yang baru saja berumur tiga bulan di dalam kandungnya karena kecelakaan yang terjadi satu hari yang lalu.


Ya, wanita itu baru saja mengalami kecelakaan tunggal satu hari yang lala karena keke ras kepala nya. Tidak ada yang serius dengan luka di tubuh, tapi janin di dalam kandungnya lah yang memilih menyerah, akibat benturan yang cukup keras di area perutnya, Karina mengalami pendarahan hebat dan janinnya tidak dapat bertahan.


Sang suami yang duduk di sofa terlihat memainkan cincin pernikahannya dengan sang mantan istri. Zidan nampak termenung mengabaikan Omelan sang ibu yang terus saja terdengar menggema di dalam ruang rawat Karina.


"Mamah udah deh, pusing Karina dengernya, tau nggak sih!" Karina yang dari tadi hanya diam saja akhirnya bersuara juga, nada suaranya terdengar tidak kalah menantang dari mertuanya.


"Kamu ini bukannya sadar sudah membunuh anak mu malah semakin bertingkah!" Karina nampak tidak peduli, ia justru memalingkan wajah ke arah berlawanan. Narendra yang duduk di samping Zidan memijat pelipisnya yang mungkin berdenyut mendengar perdebatan menantu dan istrinya itu.


"Karina!" Dewi membalik tubuh Karina dengan cara menarik lengannya dengan kasar.


"apa sih mah! kesal Karina.


"KARINA!" Dewi sudah mengangkat tangannya bersiap untuk memberikan tamparan di wajah sang menantu, menantunya yang selalu ia agung agungkan di hadapan dunia.


"Jangan salahkan Karina aja dong mah! salahin juga tuh anak mamah" Zidan menunjuk Zidan yang sedikitpun tidak mengalihkan pandangannya dari cincin di jari manisnya. Cincin pernikahannya dengan Inayah.


"kamu ibunya Karina! kamu yang tidak hati-hati, dan kamu menyalahkan Zidan? kamu waras?" Karina menyinggung kan senyum remeh.


"heh! Zidan juga salah! dia nggak pernah pulang kerumah, Karina setres sama tingkahnya, salahnya di mana kalau Karina refreshing bawa mobil sendiri, Karina juga nggak pernah ada niat buat bunuh anak Karina" ucap Karina tidak mau kalah.


"cara bicara kamu seperti orang yang tidak terdidik Karina, di mana sopan santun kamu" kali ini Narendra yang berucap tegas, ia tidak terima cara bicara Karina yang terdengar kurang ajar sekali pada sang istri.


"mamah duluan, bukannya di semangatin di tenangin karena habis aja keguguran, malah justru ngomel-ngomel nggak jelas "


"Sepertinya kamu memang tidak pernah di didik orang tua mu, ya, Karina?" Karina mengepal kuat kedua tangannya, giginya saling bergesekan di dalam sana, Karina melupakan sakit kepalanya, ia bangun dengan kasarnya.


"Zidan! Mending kamu bawa orang tuamu ini keluar, kepalaku sakit terus mendengar ocehannya" teriak Karina dari tempat tidurnya, Zidan berdiri, ia tidak membawa mamahnya keluar dari sana, tapi ia sendiri yang memilih keluar.

__ADS_1


"Zidan!"


"Zidan" teriak Karina di abaikan Zidan, Dewi yang juga sudah muak akhirnya memilih pergi.


"Ayo lah kita pulang, bisa setres mamah kalau lebih lama di sini"


Di luar Zidan memukuli setir mobil sebagai pelampiasan emosi, lelah dengan aktivitasnya itu, Zidan menyandarkan kepalanya di sana.


"Aya... aku kangen kamu sayang..." gumam Zidan terdengar pilu.


"Aska anak papah... papa kangen nak... Papah kangen Aska.... papah kangen kalian" setetes air mata turun dari kedua mata tegas pria yang nampak begitu lemah. Bahu yang selalu terlihat tegap pun ikut bergetar.


"Apa yang sudah kulakukan sebenarnya, apa yang sudah kulakukan pada anak dan istri ku, bahkan untuk mempertahankan pernikahan kami pun tidak kulakukan, dan sekarang aku kehilangan orang-orang yang ku sayang, kehilangan wanitaku, kehilangan putra ku"


"ARGGHHH"


....


"mamah...." Inayah mengacak pinggangnya, ia geleng-geleng kepala melihat penampilan putranya itu. Wajah, pakaiannya, sepatu, semuanya di penuhi kotoran. Aska menenteng tasnya dengan alat pancing di tangan satunya, di belakangnya ada Ali sang Kakek yang terus saja mengembangkan senyum.


"ya Allah Aska.... kamu habis ngapain nak...." ucap Inayah prustasi


"anak mu mancing di sawah Inayah, tu lihat dapat ikan dianya" Aska menunjukan tas berisikan ikan hasil mancing nya


"ya Allah papah... lihat itu anak ayah jadi cemong" Ali mengusap lembut kepala Aska.


"Nggak papa Aya, sekali-kali, anak mu ini terlalu banyak tinggal di kota, lihat ada yang mancing di jalan tadi jadi pengen ikutan juga, di kasih deh alat pancing sana pak RT" Inayah pasrah, bahunya merosot.


"udah nggak usah marah-marah, nggak papa anaknya belajar hidup di desa" Ali menyentuh pundak putrinya sebelum berlalu dari sana, Aska mengambangkan senyum yang begitu manis, Inayah tak kuasa untuk tidak tersenyum melihat tingkah dan wajah putranya yang menggemaskan itu.


Inayah terus memandang kedua pria kesayangannya yang berbeda usia itu hingga tidak terlihat lagi.

__ADS_1


"Kamu semakin mirip dengan papahmu nak, apa wajah mu akan terus membuat mamah teringat dengan semua kelakuan papah, nak" Inayah bergumam sendiri.


__ADS_2