
"Aska" aku yang asik melipat baju di samping Aska yang di sibukkan dengan buku mewarnai dari sekolahnya ikut mengangkat kepala.
"mau beli eskrim sama papah?" ucap Zidan dengan langkah yang mulai mendekat. Kedua tangan Zidan sudah mengulur ke depan, meminta Aska untuk berdiri. Aku masih terdiam, ini kali pertama Zidan mengajak anaknya untuk sekedar membeli eskrim, juga ini kali pertama zidan setelah satu tahun terkahir berada di rumah saat akhir pekan. Aksa yang juga sama kagetnya melirik ku sesaat, mungkin anak ku bingung juga harus seperti apa. Sepertinya Zidan peka dengan kebingungan kami, Zidan ikut duduk di samping ku, melipat kedua kaki panjangnya dan mengangkat tubuh Aska berpindah ke atas pangkuannya, mainan robot yang Aska pegang terlepas.
"Mau nggak beli eskrim sama papah" ucap Zidan seraya mengusap-usap rambut Aksa yang sedikit lepek karena keringat.
"Kamu takut sama papah?" Aska menunduk, Zidan sudah tau jawaban dari anaknya, dia juga yang sudah membuat Aska bersikap sebegitu takutnya.
"ya udah, mamah ikut juga deh, kita beli eskrim bareng" Zidan berucap lagi, mendengar itu membuat Aska menatap ku dengan tatapan yang seperti mengatakan iya, tapi sungkan untuk mengatakannya.
"mau nggak sayang?" kali ini Zidan menatapku, aku mengangguk dengan senyum di wajah, agar anak ku juga merasa nyaman.
"ya udah, ayo siap-siap, kita beli eskrim"
....
Aska sudah berlari lebih dulu masuk kedalam supermarket, sedangkan aku berjalan pelan dengan tangan yang saling menyatu dengan tangan Zidan.
"Tumben ngajak Aska keluar"
"Kenapa, nggak boleh ya ngajak istri dan anak ku keluar?"
"bukannya nggak boleh, aneh aja tau" Aska yang kesusahan memilih karena badannya yang masih terlalu mungil, di gendong Zidan.
"Mau yang mana nak, ini mau?" aku tunjukkan eskrim dengan bentuk rasa semangka" Aska menggeleng dengan pandangan tertuju pada box eskrim.
"coklat mau?"
"iya" jawab Aska dan meraih eskrim coklat dengan taburan kacang. Kali ini Zidan menatap ku.
"Kamu ada yang mau di beli?"
"nggak ada kayaknya, Zi"
"ya udah kita pulang" Zidan meraih tangan ku untuk di genggam, kami berjalan ke meja kasir seperti pasangan muda yang baru saja menikah, di dalam ruangan pun Zidan terus menggenggam tangan ku.
__ADS_1
Kami tidak langsung pulang, Zidan mengajak aku dan Aska duduk dulu di depan supermarket untuk menghabiskan eskrim Aska. Di depan supermarket itu juga ada beberapa outline. Aku membeli pisang coklat toping keju yang begitu melimpah, dan minuman segar asli dari buah.
"satu bulan aku nggak liat kamu, kayanya badan kamu isian" Pisang coklat yang baru saja aku gigit berhenti ku kunyah, ku tatap Zidan dengan tatapan tidak suka.
"aku gendutan ya maksut kamu, Zi?" bukannya menjawab, pria di depan ku ini justru menyunggingkan senyum, minuman segar miliknya di tegaknya hingga tersisa setengah, rambutnya yang sedikit panjang itu Zidan sibak ke belakang.
"Zidan!" panggil ku karena Zidan benar-benar menyebalkan dengan segala tingkahnya.
"apa sayang ku?'
"aku gendut ya?" Zidan mengarahkan tangannya ke bibir ku, dengan ibu jarinya ia bersihkan sudut bibirku, mungkin ada coklat pisang di sana.
"makan ko cemong, kaya anaknya aja kamu"
"aku gendutan, Zi?" aku masih terus mencecarnya dengan pertanyaan yang sama, tidak akan diam kalau Zidan belum katakan apa yang aku inginkan.
"Sedikit" Zidan berucap santai.
"Udah deh, aku nggak mau makan lagi" box pisang coklat aku tutup dan aku singkirkan dari hadapanku, tapi minuman segar di depan mata tidak mungkin aku tolak.
"makan lagi" Zidan arahkan pisang coklat di depan mulutku, sebelumnya pisang coklat itu Zidan gigit.
"nggak mau, itu coklat, nanti aku gendutan" ucap ku seraya menyadarkan punggung di kursi. Zidan habiskan pisang coklat di tangannya, aku sungguh menginginkan pisangnya, tapi ucapan Zidan yang menyinggung bentuk tubuhku membuat aku rela menahan keinginan ku itu.
Sepertinya Zidan sadar Kalau aku sejak tadi memperhatikannya, ia melirik ku.
"yakin nggak mau, ini enak banget tau" ku palingkan wajah.
"Sayang, aku kan pernah bilang sama kamu... aku tu nggak masalah sama bentuk badan kamu, aku juga pernah bilang, kamu boleh makan apa aja yang kamu mau" mungkin karena ku abaikan, Zidan semakin mendekatkan dirinya kesamping ku, ia tarik tangan ku yang sejak tadi terlipat di depan dada.
"ini makan lagi, ya, kan tadi kamu yang mau, ini enak banget tau" aku tidak tahan dengan segala bentuk rayunya, ku raih satu pisang coklat dan ku habiskan, ku lirik Zidan yang ternyata menyunggingkan senyum ke arah ku.
"enak kan?" Aku mengangguk.
"mah" secara bersamaan aku dan Zidan yang tadi asik berdua beralih tatap ke arah Aska.
__ADS_1
"iya nak, kenapa?"
"mau itu" Aska menunjuk pisang coklat yang masih tersisa di box, Astaga ternyata anak ku juga menginginkan pisangnya, karena terlalu asik dengan Zidan sampai lupa ada anak yang di abaikan. Aku tidak ingin tangan anak ku kotor, jadi ku suapi saja Aska.
"aku bawain kamu kerupuk sama amplang ikan tengiri dari rumah" ku bersihkan mulut Aska dengan tisu yang baru saja Zidan keluarkan dari mobilnya.
"terus mana? Aku nggak ada liat" aku berdecak kesal
"siapa suruh waktu aku pulang situ marah-marah nggak jelas, ngamuk-ngamuk kaya orang kesetanan, padahal aku mau langsung gorengin kamu kerupuknya" ku rasakan tangan zidan kini melingkar di pinggang ku
"maaf" anggukan kepala sebagai jawaban iya, dia tersenyum begini manis, ini juga yang menjadi penyebab aku jatuh cinta dulu ke dia. Zidan itu jarang tersenyum, wajahnya tegas sekali, tapi sekali senyum, masyaallah para wanita jadi kagum termasuk aku.
"aku takut kamu pergi dan nggak pulang lagi, Aya. Aku takut kamu ninggalin aku, aku nggak mau kamu pergi, lima tahun kamu di Jakarta dan tiba-tiba aja pulang.... siapa yang nggak panik coba" aku terkekeh kecil.
"Ali butuh liburan, aku pusing nyariin kamu kesana-kemari, aku nggak ada dapat kabar dari kamu tingga mingguan bikin aku kaya orang gila tau nggak" ku jeda dulu kalimat ku, ku tatap dia yang juga menatap ku
"kamu ternyata setakut itu aku pergi, Zi" Zidan mengangguk dengan wajah seperti anak kecil.
"aku nggak akan pergi, kecuali kamu yang nyuruh dan buat aku pergi, sayang" aku tidak tau apa yang sekarang ada di dalam pikiran Zidan, tapi aku sungguh bisa melihat penyesalan dari raut wajahnya.
"nanti gorengin kerupuknya ya, aku sudah kangen bangen sama oleh-oleh dari kampung kamu, terakhir aku makan waktu kamu pulang liburan sebelum kita nikah"
"iya, nanti aku goreng"
"sayang" panggil ku lagi
"Hem, kenapa?" ku tatap matanya, mencari sesuatu yang selama ini memenuhi isi kepala ku.
"sayang" aku tersentak mendengar suaranya.
"kenapa jadi bengong, apa yang di pikirin?" aku menggeleng kecil
"nggak ko. Sayang.... Kapan-kapan kita ke kampung aku ya, mamah papah, nanyain kamu tau"
"iya, nanti kalau aku ada waktu kita ke kampung kamu liburan"
__ADS_1
cukup lama kami berada di luar, kami kembali kerumah setelah mampir sebentar untuk makan siang, Zidan yang mengajak kami, katanya hari ini tidak usah masak dan makan di luar aja. Aska ketiduran selama di perjalanan, anak ku kelelahan karena setengah hari berada di luar, di ajak papahnya jalan-jalan.