
"Bulan depan mama papa jengukin kalian di sana, jaga anak kamu baik baik, titipkan mereka di tempat yang sudah kamu percayai, jangan titipkan di sembarang tempat cucu mama"
"iya mah, Aya matiin dulu telponnya ya mah, Aya mau lanjutin kerjaan"
"Iya nak, mama juga mau ke toko, kesian Tika jaga sediri, Assalamualaikum "
"Waalaikumsallam" Jam di ponsel ku sudah menunjukkan pukul satu siang, Aska pasti sudah di pulang sekolah. Aku tidak menitipkan anak ku di tempat penitipan anak lagi, Aska sudah berusia 7 tahun setengah, jadi sudah mulai masuk sekolah, di sekolahnya itu ada di sediakan bus antar jemput, jadi aku tidak perlu kawatir, sedangkan Ziya, aku pekerjakan Babay sister untuk membantu mengasih anak ku, tapi untuk saat aku kerja saja.
Aku langsung menghubungi rumah, aku ingin mendengar kabar anak-anak ku.
"Assalamu'alaikum mbak... Aska sudah pulang?"
"iya Bu, Ziya baru aja tidur, kalau Aska lagi mengulang pelajarannya Bu"
"ya sudah mbak, titip anak-anak dulu ya, malam ini saya pulang telat"
"iya Bu" Begitulah hari-hari ku sekarang, menjadi seorang ibu dan ayah sekaligus untuk kedua anak-anak ku. Selain bekerja di perusahaan penerbitan yang sama, aku juga sudah berhasil menerbitkan lima buku selama di Jakarta, sudah genap dua tahun aku dan anak-anak ku hidup mandiri. Keluarga ku akan datang menjenguk kami satu bulan atau paling lama tiga bulan sekali.
Aku juga sedang mengusahakan untuk membangun sendiri Perusahaan penerbitan ku. Semoga saja lima tahun kedepan cita-cita ku itu sudah bisa ku wujudkan.
"Inayah, Lo di cariin bos tu"
"gue?" Ku tunjuk diriku sendiri untuk meyakinkan diri.
"iya... sana buru, kayaknya tentang novel Lo deh" Aku tersenyum sumringah jika sudah membahas mengenai Novel ku, kemarin aku mendapatkan kabar mengenai novel ku yang akan di jadikan film, Novel pertama ku yang berhasil di terbitkan, Novel yang bercerita tentang kisah cintaku yang berkahir duka. Novel dengan judul 'cinta yang menghilang'. Aku bergegas menemui tamanku di ruangannya.
"Assalamualaikum"
"waalaikumsallam, masuk" Ku rapikan dulu sedikit pakaian ku yang mulai kusut sebelum menemuinya.
"Pak" Atasanku menoleh dan tersenyum.
__ADS_1
"Duduk Inayah"
"Ada apa ya pak?"
"anak kamu Ziya dan Aska kenapa nggak pernah kamu ajak ke kantor lagi?" map terakhir ia tutup, pulpennya ia letakkan sebelum tatapannya menuju ke arah ku.
"hehehe, iya pak, Ziya lebih nyaman di rumah sama mbak nya pak, kalau Aska ngikut aja" aku mendengar deheman dari Tama.
"Saya kangen sama anak-anak kamu Inayah" mungkin sekarang bola mataku sudah membesar, aku mengira beliau memanggil ku ke ruangannya untuk membicarakan perihal pekerjaan, tapi nyatanya beliau justru menanyakan tentang anak-anak ku.
"Bapak kangen mereka?"
"apa ucapan saya tadi kurang jelas Inayah? sudah satu bulan ini saya tidak melihat mereka, kamu biasanya membawa Ziya dan Aska ke kantor" iya, aku sering membawa Aska dan Ziya kekantor kalau sedang tidak banyak kerjaan, aku selalu ingin dekat dengan mereka. Ziya dan Aska bahkan sudah akrab dengan beberapa teman kerjaku termasuk Tama atasanku. Tama sudah lama menikah, dan sampai sekarang beliau belum di karunia anak, beliau suka sekali dengan anak-anak, bahkan beliau juga yang memintaku mengajak Aska dan Ziya ke kantor.
"saya ingin ketemu mereka boleh?" ku garuk tengkukku yang tidak gatal, aku merasa tidak enak dengan beliau.
"Inayah, kenapa diam? Nggak boleh ya...?"
"Besok hari minggu pak, saya akan ajak anak-anak hari Rabu aka ke kantor, soalnya saya banyak kerjaan Senin sampai selesai nanti, banyak Novel yang akan terbit bulan ini pak"
"Tidak perlu menunggu hari rabu, saya dan istri saya yang akan kerumah kamu besok, bukan hanya saya saja yang merindukan mereka, tapi istri saya juga" aduh suami istri ini kenapa jadi membuat ku merasa segan saja sih, aku kan jadi tidak enak, mereka atasanku dan mereka yang akan bertamu ke rumah ku. Aku diam sejenak sampai Tama kembali menyadarkan aku.
"Inayah, apa boleh?"
"hah, i--iya pak silahkan saja"
"terimakasih Inayah"
"iya pak" aku mengangguk merasa kikuk.
....
__ADS_1
"Gimana-gimana, apa kabar sama novel Lo" Resti adalah orang yang paling kepo dengan urusan orang lain, dia ini mau tau terus karena tingkat rasa penasarannya di atas rata-rata.
"Ya begitulah, mulai produksi difilm nya tahun ini" jawab ku seadanya, Tama juga sempat membahas mengenai Novel ku, aku tidak ingin memberitahu Resti mengenai pak Tama yang akan mengajak istrinya main kerumah ku untuk menemui Aska dan Ziya. Selain memiliki rasa penasaran di atas rata-rata orang normal, Resti ini juga begitu ember mulutnya, ember bocor, bisa-bisa satu kantor tau, kan aku nantinya yang merasa tidak enak karena di kunjungi bos kerumah.
"Wah, pasti pecah si Inayah, buku Lo aja jadi, Best seller bahkan ini sudah masuk cetakan ke sekian, wah keren lo Inayah" Ku hidupkan lagi layar komputer ku yang sempat meredup, aku buka email dan melanjutkan pekerjaan ku, aku ingin segera pulang dan menemui anak-anak ku yang menggemaskan.
....
Aku tidak langsung pulang, tapi mampir dulu membeli cemilan untuk anak-anak ku. Alhamdulillah setelah satu tahun bekerja, aku berhasil membeli mobil, tidak mewah sih, tapi di syukuri saja, membelinya dari hasil kerja keras ku sendiri. Untuk tempat tinggal, waktu pertama kali datang bersama anak anak ku, aku menyewa sebuah rumah kecil di dalam kota, dan sekarang aku sudah bisa membeli apartemen yang tidak terlalu besar, tapi cukup untuk ku dan anak-anak, juga untuk mbak yang merawat Ziya.
"Aska pasti suka ini" Aku masukkan satu bungkus makanan ringan dengan rasa terbaru dan bentuk yang lucu untuk Aska, sedangkan Ziya lebih suka memakan biskuit susu. Aku tidak sering juga membelikan mereka makanan seperti ini, hanya sekali-kali saja jika kurasa sudah lama tidak membelikan mereka lagi.
....
"Assalamualaikum, Aska, Ziya... mama pulang nak"
"mamah..." Aska berlari memeluk ku, di belakangnya ada Ziya yang digendong mbaknya.
"Aska minggir dulu nak, mamah belum bersih-bersih nak" Aska mendongak dan menyengir menampakan deretan gigi susunya.
"mamah bawa apa?" cemilan untuk Aska sama adek" ku serahkan kantong belanjaan ku pada Aska
"makasih mamah"
Ku usap dulu ubun-ubun putraku" sama-sama sayang"
"ma--mah, mamah" di cantik Ziya merentangkan tangan minta dondong
"sebentar ya sayang, mamah mandi dulu"
"mbak, di dalam sana ada lauk, minta tolong siapin ya mbak, nanti kita makan bareng "
__ADS_1
"iya Bu"