Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Amukan Inayah


__ADS_3

"Harusnya kamu bilang kalau kamu sudah nggak punya rasa sama aku, Zidan.... harusnya kamu jujur kalau cinta kamu untuk ku itu sudah memudar..." Zidan menggeleng, kini air mata pria itu pun ikut turun, tak sanggup ia menahan melihat sang istri begitu terluka atas penghianatan nya selama ini.


"aku sayang kamu Inayah, aku cinta kamu" lirih Zidan masih di ambang pintu.


"BOHONG!! KAMU PEMBOHONG ZIDAN! KAMU MUNAFIK...AKU NGGAK PERCAYA LAGI SATUPUN UCAPAN KAMU" Inayah meludah kesamping, ia terlalu sakit dengan kenyataan dan fakta yang selama ini suaminya sembunyikan.


"sejak kapan Zidan, sejak kapan kamu berhubungan dengannya? usia anak perempuan itu hampir sama dengan Aska" Inayah menutup mulutnya rapat-rapat ia tersadar jika suaminya menyelingkuhi nya pada saat ia hamil besar. Jari telunjuknya bergetar saat terangkat ke arah wajah Zidan.


"ka--kamu berselingkuh dengannya saat aku hamil besar?" ucap Inayah dengan nada rendah, Zidan diam dan menunduk membuat Inayah kembali murka.


"JAWAB ZIDAN BANGSAT!" Inayah melempar bantal guling tepat mengenai wajah Zidan.


"TEGANYA KAMU ZIDAN.... AKU HAMIL DAN KAMU MAIN PEREMPUAN LAIN DI BELAKANG AKU" Inayah berbalik membelakangi Zidan, ia semakin murka dan mengacak-acak tempat tidur, bantal ia sobek dan keluarkan isinya, jeritan dan tangisan Inayah menggema di seisi rumah.


"BRENGSEK!! JAHAT!!! PENGKHIANAT!!"


"AKU BENCI KAMU ZIDAN, AKU BENCI!!!" Zidan melangkah mendekat, memeluk tubuh yang sudah terdiam tapi tetap menejrit itu dari belakang. Inayah mengamuk sejadi-jadinya, ia pukuli lengan Zidan yang melingkar di perutnya.


"LEPAS!"


"LEPAS!"


"AKU TIDAK LAGI MEMBERI MU HAK UNTUK MENYENTUH KU ZIDAN FADILAH NARENDRA! LEPAS...." Zidan menggeleng di pelukan inayah, air matanya jatuh membasahi pundak wanita itu.

__ADS_1


"maafkan aku Inayah... maaf" Inayah tidak lagi memberontak di dalam pelukan Zidan, ia berusaha mengatur nafasnya yang tercekat.


"kenapa tidak kau katakan jika rasa cinta itu sudah hilang Zidan... kenapa kau tidak jujur jika perasaan mu padaku telah memudar... kenapa kau menyakiti aku di atas kebohongan mu Zidan... Kenapa? Kenapa?" ucap Inayah begitu pilu.


"maaf ... maaf inayah maaf"


Inayah tak sanggup menopang tubuhnya, ia jatuh duduk bersimpuh dengan Zidan yang terus memeluknya. Zidan meraih tangan Inayah yang terkulai lemas, telapak tangan kanan wanita itu sudah di penuhi dengan darah, inayah tidak lagi menjerit kesakitan, ia duduk menatap ke arah tembok dengan tatapan kosong, tangannya yang Zidan sentuh tidak berusaha Inayah tarik.


"maaf" ucap Zidan seraya mengusap telapak tangan dengan noda darah yang mulai mengering.


Pusing di kepala Inayah kini berubah menjadi nyeri, sejak tadi ia sudah merasakan sakit kepalanya kambuh, tapi semua rasa sakit itu tersamarkan dengan rasa sakit yang Zidan berikan. Darah segar Kini mengalir keluar dari rongga hidungnya. Inayah tarik kuat rambutnya, sedangkan Zidan belum menyadari kesakitan Inayah. Setiap kali Inayah menjerit dan mengamuk, maka ia rasakan sakit di bawah perut bawahnya yang teramat menyiksa, Inayah remas kuat perutnya. Ada jeda sebentar sebelum Inayah kembali melupakan rasa sakitnya.


"Hancur Zidan, hancur semuanya, kehidupan rumah tangga bahagia impian ku hancur berantakan, rumah tangga yang sejak awal kurang kokoh pondasinya karena tidak mendapat restu dari orang tuamu kini roboh hancur tanpa sisa" ucap Inayah begitu lirih.


"Dua belas tahun yang kita jaga kini hancur, hancur dan meninggalkan luka yang begitu dalam di hati ku. Luka itu menggores bagian terkecil di dalam sana tanpa sisa. Aku hancur Zidan... Aku hancur.... Kepercayaanku telah di khianati oleh orang yang paling aku percaya dalam hidup ku... suami ku sendiri, kekasih hatiku, hidupku, cintaku..." suara Inayah hilang timbul dengan suara tangisannya.


"Kau bukan hanya menyakiti wanita lemah ini Zidan, kamu juga menyakiti darah daging mu... kamu lukai hatinya, kamu bangun tembok pembatas di antara kalian. Aku kira kau sungguh ingin membuat Aska menjadi anak yang hebat dengan semua ketegasan kamu, napi ternyata aku salah, aku terlalu naif dan bodoh, kamu sengaja karena kamu memang tidak pernah mengakui putra ku sebagai darah daging mu, kamu tidak pernah menganggap putra ku anak mu, dan kamu lebih menyayangi putri dari istri kedua mu itu. Dengan teganya kamu menuduh ku berselingkuh hingga Aska ku terlahir kedunia. Awalnya aku hanya diam dengan semua tuduhan murah mu itu padaku, aku salahkan diri karena telah menyakiti perasaan mu tanpa sengaja, tapi nyatanya aku salah, semua tuduhan itu bukan karena rasa cemburu mu padaku, tapi karena kamu memiliki anak yang lebih kamu kasihi di banding putra ku" Inayah berdecak.


"Bajingan" Semua kata kasar yang pantang Inayah ucapkan kini terucap semuanya. Biarlah semuanya menjadi pelampiasan emosi dari hati yang di gores begitu tajam itu.


"Inayah... aku sayang kamu, aku sayang Aska, aku menikahinya karena terpaksa--" Inayah kembali berdecak membuat Zidan mengehentikan Kalimatnya.


"terpaksa? Cih! Dasar pendusta! Terlihat jelas kalau kau mencintai wanita itu... mencintai sahabat kamu sendiri. Wanita yang sudah dari dulu gatal dan minta di garuk olehmu. Aku selalu saja menaruh rasa cemburu pada wanita itu, aku tidak suka dia mendekati mu, aku selalu layangkan protes jika dia menyentuh mu, tapi kamu selalu bilang, kalau dia hanya sebatas sahabat, dasar pembohong yang handal, kau cocok menjadi aktor dengan kemampuan berbohong mu itu, Zidan" Inayah tak kuat menyingkirkan tangan Zidan dari perutnya, tenaganya habis terkuras tanpa sisa.

__ADS_1


"lepas!" Zidan menggeleng.


"Aku nggak akan lepasin kamu sebelum kamu memaafkan aku"


"AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN KAMU BANGSAT. AKU TIDAK AKAN MELUPAKAN PENGKHIANATAN MU PADAKU, ZIDAN!! TIDAK AKAN" Inayah menumpukan kepalanya di pinggiran tempat tidur, rasanya isi kepalanya ingin keluar dari tempatnya.


"hancur semua... benar kata orang tuaku dan orang tuamu, kita tidak seharusnya menjalin hubungan, aku orang yang setia sedangkan kamu pengkhianat, kita berdua tidak cocok untuk bersama, tapi karena cinta dan egoku, kita tetap melangsungkan pernikahan tanpa restu mereka, dan sekarang aku menyesal, menyesal karena telah menikah dengan pria seperti kamu. Menjadi istri yang tersembunyi untuk menyembunyikan kebenaran di istri kedua, licik"


"agghkh" Inayah mengerang saat perutnya terasa semakin sakit.


"ma--maah" kedua orang dewasa itu menoleh kebelakang, di ambang pintu putra mereka berdiri dengan wajah dan mata merah. Aska bergetar ketakutan melihat keadaan orang tuanya. Karena terburu-buru, Zidan lupa mengunci kamar pria kecil itu, Aska sudah berdiri sejak tadi di sana, ia dengar semua pertengkaran orang tuanya, lebih tepatnya amukan Inayah.


"anak ku" lirih Inayah.


"Sini nak" Zidan melepaskan pelukannya, Inayah pun tak sanggup untuk berdiri, Inayah rentangkan tangan meminta anaknya mendekat, Aska layangkan tatapan sengit pada sang papah, rasa benci di hati pria kecil itu pun mulai tumbuh kembali.


"ASKA BENCI PAPAH! PAPAH SUDAH SAKITIN MAMAH, ASKA BENCI KAMU!" jerit Aska sebelum berlari memeluk Inayah.


Aska tidak mengerti semua yang mamahnya ucapkan, tapi ia tau mamahnya itu sedih karena sang papah.


"as--Aska" Inayah menepis tangan Zidan yang ingin menyentuh Aska.


"Jangan sentuh Putra ku!" tegas Inayah dengan sorot mata nyalang.

__ADS_1


__ADS_2