Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Bukan papah Aska


__ADS_3

Aku tidak tau, apakah ucapan ku beberapa hari lalu mempengaruhi kejiwaan suamiku. Aku banar-benar di buat heran dengan sikapnya. Sudah dua hari setelah kejadian waktu itu, aku bisa melihat perubahan Zidan. Tidak berubah secara drastis juga, hanya berbeda dari biasanya. Ia pulang lebih cepat, tidak pernah Zidan seperti itu selama satu tahun terakhir. Selalu saja Zidan katakan banyak kerjaan, yang paling parah Zidan tidak pulang selama berhari-hari dan memilih tidur di kantor.


"tumben pulang cepat, Zi?" aku bantu Zidan melepaskan tautan bajunya, sedangkan Zidan sudah membuka simpulan dasinya.


"kenapa? nggak boleh" aku mengenadah menatap wajahnya, Zidan itu tinggi, sedangkan aku hanya sebatas bahunya saja, jadi aku harus sedikit mendongak agar bisa menatap wajahnya.


Zidan mengangkat satu alisnya menunggu jawabanku, baru saja aku ingin membuka mulut, Zidan sudah mendaratkan ciumannya, aku berdecak kesal.


"Aska mana?" Zidan terlihat celenguk celenguk mencari Aska yang biasanya ikut bersembunyi di belakang tubuh ku karena takut mendekati papahnya.


"main di kamar" ucap ku seadanya. Ku ambil alih tas jinjing dari tangan Zidan.


"bersih-bersih sana, aku mau panaskan makanannya" Zidan menurut tanpa menuntut lagi, ia naik ke lantai dua, sedangkan aku menuju dapur.


Semua masakannya sudah tertata di atas meja, tapi Zidan belum juga turun, apa dia ketiduran? Aku segera menyusulnya, dia tidur di jam seperti ini akan membuat kepalanya sakit saja.


"Zi" tidak ada dia di dalam kamar, masa ia Zidan masih mandi, atau dia memang baru mandi, tapi tidak ada terdengar suara gemercik dari dalam. Benar saja, tidak ada seorangpun di dalam sana. Aku menuju balkon, biasanya ia suka mengangkat telpon penting di sana, tapi juga tidak ada, kemana dia?

__ADS_1


"Apa di kamar Aska? nggak mungkin, ngapain dia di sana" aku bergumam sendiri, walaupun sedikit tidak percaya karena mustahil bagi Zidan kekamar anaknya, tapi aku tetap ingin memastikan, sekalian memanggil anak ku makan juga.


"As..." aku mengatupkan kembali bibirku. pemandangan yang benar-benar sulit untuk aku lihat.. Zidan tengah duduk di atas ranjang sambil memangku Aska. Aku tidak bisa mendengar obrolan ayah dan anak itu, tapi aku bisa melihat raut wajah ketakutan Aska, mungkin anak kami masih trauma dengan papahnya.


Aku melangkah mendekat, sepertinya mereka menyadari kehadiranku. Zidan menatapku sekilas dan kembali menunduk, Aku ikut mendudukkan diri di depan Zidan dan Aska.


"lagi ngobrolin apa, ko mamah nggak di ajak" ku rapikan rambut Aska yang sedikit berantakan, wajah anakku benar-benar terlihat tertekan, apa Zidan memaksanya duduk di pangkuannya. Aska berdiri dengan mainan di tangannya, ia memilih duduk di atas pangkuanku dan memeluk erat leherku, menyembunyikan wajahnya di celuk leher ku. Aku menatap Zidan dan begitu juga dengan Zidan, wajah pria itu pun terlihat murung, aku jadi penasaran apa yang membuat dua pria berbeda usia ini terlihat tidak bersemangat. Ku sentuh punggung tangan Zidan dan melebarkan senyum.


"yuk turun, aku sudah hangatkan makanannya" ajak ku dan mendapatkan anggukan dari Zidan. Saat ingin melangkah, tangan ku ditahan olehnya, aku berbalik.


"Kenapa?" bukannya menjawab, Zidan justru mengambil alih Aska dari gendongan ku. Awalnya Aska sedikit menolak dengan mengeratkan pelukannya di leherku, tapi setelah sedikit paksaan, Aska akhirnya mau juga di gendong Zidan. Zidan melangkah tanpa mengatakan sepatah katapun, aku sempat terdiam menatap kepergian mereka.


"Zidan mau tambah?" aku melihat piring Zidan sudah kosong, tapi Zidan menggeleng.


"Aska" Aska yang di panggil, tapi aku yang menoleh menatapnya. Tatapan Zidan seperti biasanya, dingin.


"Aska, itu di panggil papah nak" Karena tak kunjung merespon panggilan Zidan, terpaksa aku ikut menyadarkan Aska.

__ADS_1


"Iya om, ke--kenapa?" bahuku langsung merosot setelah kalimat itu yang keluar dari mulut mungil anak ku. Aku beralih lagi menatap Zidan yang sekarang berubah sendu wajahnya. Apa ia merasakan sakit juga, saat anaknya sendiri memanggilnya dengan sebutan paman.


"Aska, papah nak, kenapa jadi om, itu papah kamu, bukan om kamu" aku mencoba menyadarkan anak ku, tapi justru gelengan kepala yang aku dapatkan.


"dia om, bukan papah Aska, Jeje bilang... kalau papah itu tidak pernah memarahi anaknya, tidak pernah melempar anaknya" dadaku Sesak sekali mendengar ucapan anak ku, aku tidak tau apa yang sekarang Zidan rasakan, apa dia juga merasakan hal yang sama seperti ku.


"ayah Jeje, ayah gala, ayah Keyla... tidak pernah marah-marah ke anaknya. Papah Jeje selalu belikan Jeje mainan baru, papah Gala selalu antar Gala kesekolah, papah Keyla selalu gendong Keyla" ku lihat anak ku yang sejak tadi menunduk, kini memberanikan mengangkat kepalanya dan menatap sang papah.


"Aska tidak pernah di sayang papah, Aska selalu kena marah papah, Aska juga nggak boleh duduk di kaki papah. Papah juga pernah lempar Aska ke sofa, papah tendang kaki Aska sampai sakit, waktu Aska di rumah sakit... papah nggak datang buat jenguk Aska seperti waktu Jeje sakit. Dia...." Aska menunjuk zidan dengan jari mungilnya.


"bukan papah Aska" ucap anak ku seraya menggeleng. Ku gigit bibir bawahku menahan sesak di dalam dada, sedangkan Aska turun dari kursinya dan berlari entah kemana. Aku menatap Zidan sendu.


"ini kan yang kamu mau Zi, ini kan yang kamu harapkan dari setiap perlakuan kamu ke Aska, ini kan Zi?" kini air mataku tumpah, sungguh sakit sekali hatiku saat Aska benar-benar berada di titik kecewa pada papahnya.


"puaskan kamu sekarang Zi?" tidak satupun kata yang terdengar dari Zidan. Pria itu hanya terus menatap kosong ke arah Aska duduk tadi.


"Aska kecewa dengan papahnya. Aska marah sama kamu, Zi. Zi...jika sikap mu selama ini pada Aska karena masalah Kita di masa lalu..." aku menjeda sebentar kalimatku.

__ADS_1


"maka denger ini Zi, aku bersumpah di hadapan kamu, Aska Al Birru Narendra adalah putra mu, darah daging mu. Lakukan tes DNA untuk menghilangkan keraguan itu di hati kamu, dan bersiap lah untuk kehilangan aku dan Aska setelah hasil tes DNA itu membuktikan ucapan ku" ucap ku dengan tegas.


"karena aku sudah lelah dengan keraguan kamu padaku"


__ADS_2