Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Pacaran


__ADS_3

Aku sedang menunggu Zidan membeli cemilan untuk nonton, tiket pun sudah kami beli, aku memperhatikan Zidan yang mengantri, aku tidak percaya jika cinta pertama ku akan berakhir menjadi suami, menjadi ayah untuk anak ku, menjadi kepala keluarga dan imam di rumah tangga kami. Aku akui Zidan masih banyak kekurangannya, tapi di suami sempurna yang aku miliki.


Terkadang aku cemburu saat melihat perempuan lain yang bisa di terima baik oleh keluarga suaminya, di sayangi, di cintai dan di banggakan, sedangkan aku sampai sekarang tidak pernah merasakan hal bahagia seperti itu, entah kapan aku bisa rasakan hal yang mereka rasakan. Papah ku pernah bilang, setiap manusia itu memiliki ujiannya masing-masing, mungkin mereka bisa rasakan kasih sayang mertuanya, di terima hangat di keluarga suaminya, tapi tidak menutup kemungkinan mereka juga merasakan kesulitan di hal yang berbeda, cintai suami, ekonomi, atau anak. Intinya yang di syukuri saja, seraya terus mendoakan yang terbaik untuk mertua ku, semoga saja suatu hari nanti, mereka bisa menerima aku dan mencintai Aska seperti cucunya yang lain.


Aku terlalu asik melamun sampai tidak sadar kalau suamiku sudah selesai dengan kegiatannya, ia berjalan dengan wajah dingin yang tidak luntur sama sekali.


"ayo" aku tersenyum sesaat dan memasang tas kecil ku.


....


"Awas ya sampai teriak terus kebawa mimpi" Zidan melirik ku.


"nggak janji weyy" ku julurkan lidah untuk mengejeknya, sudah pasti aku ketakutan, walaupun yang main aktor favoritku yang sekalipun.


"dasar kamu ini" aku menyengir tanpa dosa, akhirnya setelah sekian lama, aku kembali bisa menonton berdua dengan Zidan, dulu waktu pacaran aku suka sekali pergi menghabiskan waktu menonton dengannya, Zidan tidak akan membiarkan aku memilih film apa yang akan kami nonton, karena dia nggak mau aku memilih film horor dan berakhir justru menerornya sepanjang malam, sampai besoknya aku dia jemput untuk sekolah, Zidan akan mengomeli ku karena dia tidak bisa tidur, sepertinya malam ini dia juga tidak akan ku biarkan tidur, maaf ya suami ku.


"Sayang.... itu mukanya ko nggak ada genteng-gantengnya, ya" ku peluk erat lengan zidan dan sedikit bersembunyi di sana, tangan Zidan menggenggam tangan ku yang satunya lagi, ku rasakan ibu jarinya mengusap punggung tangan ku.


"sa--sayang" ini nih yang aku tidak suka, hantunya hobi sekali muncul secara mendadak dan di tempat gelap, aku kan jadi kaget, untung aku masih bisa menahannya agar tidak berteriak di dalam bioskop, jika tidak, sudah bisa di pastikan Zidan akan membekap mulutku.


"Yang" zidan memaksa ku untuk kembali menonton dan tidak bersembunyi dibalik lengannya.


"iih, nggak mau takut, itu entar lagi hantunya muncul, sayang..." aku merengek seperti anak kecil saja.


"itu pangeran hantu mu muncul, coba lihat dulu" dasar ya Zidan ini, sempat-sempatnya ia mengejek aktor favoritku yang sekarang wajahnya terlihat menyeramkan itu.


"tuh, kamu di cariin tuh, kangen katanya"


"iiyh Zidan" ku cubit pinggangnya karena kesal, dia terkekeh seraya mengusap pinggangnya.

__ADS_1


"ngeselin banget kamu" baiklah, aku beranikan lagi duduk tegak. Aku berusaha menahan diri untuk tidak kembali bergelantungan di lengan Zidan, aku tidak lagi bersembunyi di lengan besarnya saat hantu buatan itu muncul secara tiba-tiba, ku remas erat rok hitam yang ku kenakan, saat ingin menutup wajahku dengan telapak tangan, lebih dulu Zidan meraih tangan ku dan menggenggamnya, Zidan arahkan kepala ku untuk bersembunyi lagi di lengannya.


"jangan di lihat kalau takut" ucapnya dengan begitu lembut.


....


Aku akhirnya bisa bernafas lega setelah keluar dari dalam Bioskop, suasana tegang yang sejak awal aku rasakan hilang sudah, lengan Zidan tidak sama sekali aku lepaskan walaupun sekarang kami sudah berada di luar.


"gimana, lega?" aku mengangguk tanpa ragu, Zidan mengusap kepalaku.


"hati-hati nanti malam ada yang tidur di samping kamu"


"yang tidur di samping aku kan kamu, sayang, gimana sih"


"di samping satunya lagi maksutnya" aku berdecak Kesal, baru aja keluar dari Bioskop, Zidan sudah menakuti aku, bagaimana nanti kalau sudah dirumah, ini mah ketakutan ku gara-gara dia juga.


"aku nggak ngelucu sayang ku, aku cuman kasih tau kamu"


"iiyh, jangan mulai deh"


"nanti malam aku tidur sama Aska ya berdua" apa apaan ini, aku mau di tinggal tidur sendiri, Zidan Bercanda atau bagaimana.


"jangan asal kamu, kamu mau ninggalin aku tidur sendirian"


"biar aku bisa dekat sama Aska sayang" benar-benar ya si Zidan, ini cuman akal-akalan dia aja, tidur dengan Aska di jadikan alasan, ku lepaskan lengannya dan melangkah lebih cepat, menyebalkan.


"sayang tunggu"


.....

__ADS_1


Kami mampir di salah satu kafe langganan tempat kami biasanya menghabiskan waktu sambil menemani Zidan menyelesaikan tugas kuliahnya dulu. Aku memesan Green Tea dan roti keju yang super enak banget, kesukaan ku setiap kali berkunjung ke kafe ini, sedangkan Zidan memesan Ameericano minuman kesukaannya.


"sayang cobain deh" ku suapkan satu sendok roti keju untuk Zidan.


"enak?" Zidan mengangkat jempolnya.


"Hebat ya owner-nya, masih bisa mempertahankan rasa selama bertahun-tahun" Zidan hanya mengangguk, ia letakkan gelasnya lagi ke atas meja.


"Ya namanya di udah tau resepnya, dia juga sudah bertahun-tahun jualan, mana mungkin lupa lah sama resep sendiri" Zidan mengeluarkan tabletnya, ia harus tetap bekerja meskipun tidak kekantor.


"Kenapa nggak, bisa aja owner-nya lupa sama resep makanannya sendiri. Orang yang bertahun-tahun jatuh cinta saling sayang aja bisa seketika hilang rasa kalau udah mulai bosan" Tiba-tiba Zidan terbatuk-batuk, ia tersedak minumannya sendiri, aku berdiri dan mengusap punggungnya.


"pelan-pelan sayang kalau minum " aku duduk kembali ke kursi ku, wajah Zidan sampai memerah.


"Kamu kenapa sih jadi tiba-tiba tersedak gitu, hm?"


"ng--nggak papa, kalau sudah selesai kita pulang"


"iya ini sedikit lagi habis"


Di dalam mobil selama perjalanan, Zidan diam saja, entah apa yang membuatnya tiba-tiba diam, aku juga tidak ingin menanyakannya pada Zidan, mungkin ada perkejaan yang tiba-tiba buat moodnya buruk.


Zidan langsung masuk ke kamar tanpa mengatakan apapun, aku menyusul karena ingin berganti baju juga. Saat pintu di buka, tangan ku di tarik hingga aku terhuyung ke pelukan Zidan, Zidan memeluk ku begitu erat, menumpukan wajahnya di pundak ku.


"Zi, kamu nggak papa?" aku benar-benar di buat bingung dengan sikap Zidan, tadi ia begitu semangat, terus jadi diam dan sekarang memeluk ku begitu erat, seakan aku akan pergi jauh dari hidupnya.


"aku sayang kamu Aya, aku Saya Banget" aku tersenyum dan mengusap punggungnya


"aku juga sayang banget sama kamu Zi, sayang banget"

__ADS_1


__ADS_2