
Author POV
Di waktu yang bersamaan, Zidan dan keluarga kecilnya yang bahagia sedang menikmati makanan enak. Langit kota Lombok juga di guyur hujan, sama dengan langit kota Jakarta saat itu.
Zidan nikmati liburan bahagia dengan Karina dan Nesha, ia lupakan cinta pertama dan putra sulungnya sedang meringkuk di depan rumah orang tuanya, menahan dingin karena guyuran air hujan.
Sama sekali tidak ada niat Zidan untuk membantah perintah istri kedua yang lebih di akui dunia ketimbang istri pertama yang ia nikahi lima tahun silam, pernikahan atas dasar cinta tapi tidak pernah di akui semesta.
Menyedihkan sekali jika Inayah tau kesetiaan Zidan yang sudah tidak lagi utuh, kepercayaan yang ia berikan pada Zidan telah di nodai dengan pernikahan keterpaksaan antara Zidan dan Karina namun berakhir cinta perselingkuhan yang menyedihkan.
Tawa bahagia terdengar menggema dari ketiga manusia yang duduk santai di atas dipan. Dipan yang terbuat dari anyaman bambu, udara dingin mereka nikmati dengan saling berbagi kasih satu sama lain.
Sedangkan di tempat yang berbeda, seorang wanita sudah di selimuti rasa takut dan cemas, ketakutan dan penyesalan pun berkeliaran di benak. Anak semata wayang mengeluh kedinginan, bibirnya pucat, telapak tangan dan kakinya dingin, sangat jauh berbeda dengan anggota tubuh lain yang terasa panas saat di pegang.
Bibir mungil yang sejak tadi mengulurkan suara suara aneh, kini diam, tidak ada suara apapun yang terdengar, bola mata bulat yang selalu menggambarkan keceriaan si pemilik mata, dan mengundang senyum bahagia bagi sang ibu tercinta, kini perlahan tertutup, karena si pemilik jiwa, mulai kehilangan kesadarannya.
Anak kecil di dalam rengkuhan sang ibu pingsan, tak kuat tubuh mungil itu menahan dinginnya rasa yang mulai menyengat seluruh anggota tubuh kecilnya.
Taksi yang mereka tumpangi pun melaju sedang, tak berani si supir yang usianya sudah hampir masuk kepala lima itu melajukan kendaraannya. Jalan licin akibat hujan yang mengguyur menjadi penyebab utamanya. Jarak pandang yang terhalang juga salah satu alasan kenapa pria itu tak ingin mengambil resiko dengan menambah kecepatan kendaraannya, ia abaikan teriakan seorang wanita yang terus meminta agar si supir bisa sedikit menambah kecepatan kendaraanya, bibir anaknya mulai membiru, rasa cemas menjadi satu dengan rasa takut yang tak berkesudahan.
Inayah POV
"sayang, Aska, denger mamah nak, bangun sayang, maafin mamah nak, maafin mamah, Aska, bangun sayang, bangun nak, pak lebih cepat lagi pak, anak saya demam" pinta ku memohon pada supir taksi, tapi beliau enggan, bukan karena apa, sekarang turun hujan lebat, jalanan licin, jarak pandang mata sulit, beliau tidak ingin mengambil resiko dan membahayakan keselamatan kami bertiga.
__ADS_1
Aska ku sudah menggigil kedinginan, aku sungguh menyesal karena mengabaikan rengekan anak semata wayang ku untuk tidak pergi kerumah orang tua Zidan. suhu tubuh Aska semakin meningkat, rumah sakit atau semacamnya yang paling dekat masih sekitar dua puluh menit lagi. Lisan ku tak henti mengucap istighfar, dzikir, memohon pada Gusti Allah untuk anak ku yang berada di pelukan.
Ku rogoh saku tasku mencari ponsel, aku ingin menghubungi suamiku, aku berharap ia sudih sekedar mengangkat telponnya dan mendengar kabar jika anak kami sedang tidak baik-baik saja.
Tapi sayangnya, hingga panggilan ke 7, panggilan ku di putus secara sepihak. Sesibuk itukah Zidan selama hampir seminggu lebih, tidak ada memberi kabar, bahkan panggilan ku di putus tanpa ada sedikit niat untuk mengangkatnya walau sesaat.
"ya Allah Zidan, kamu kemana sih, Aska sakit Zi, Aska sakit! aku nggak tau harus apa, aku butuh kamu Zidan, aku butuh kamu, Zi" ku ratapi ponsel ku yang tidak ada sekalipun panggilan masuk atau pesan singkat dari Zidan.
Tak ingin menyerah, aku mengirimkan pesan singkat padanya, berharap jika Zidan lenggang, Zidan bisa membaca pesan ku.
*Papahnya Aska*
*"Assalamualaikum Zi, Aska sakit Zi, aku dari rumah mamah kamu buat nanyain kamu, aku mohon pulanglah sebentar, aku dan Aska butuh kamu"
Aku bergegas membawa Aska, beberapa tenaga medis yang melihat ku tergopoh-gopoh dengan keadaan basah kuyup, mengambil alih Aska untuk di berikan penangan. Aku menunggu dengan cemas, semoga anak ku baik-baik saja.
....
Aku duduk di samping ranjang Aska dengan terus memegangi tangan mungilnya yang terbebas dari selang infus, tadi aku sempat menolak saat para perawat ingin mencari posisi yang tepat di punggung tangan putraku yang lainnya, mereka menyerah dengan punggung tangan satunya, aku menangis karena tidak tega melihat anak ku yang menjerit kesakitan, meraung saat punggung tangannya berkali-kali di masukkan benda tajam di sana.
Sekarang keadaan sudah lebih tenang, Aska tidur dengan nyaman, baju basah yang ku kenakan Mulai mengering tanpa ku lepas. Aku tidak ada niat untuk pulang, sekedar mengganti baju, aku tidak ingin meninggalkan anak ku seorang diri di rumah sakit tanpa ada yang menjaganya, aku tidak ingin.
Aku berjalan lunglai sambil memegangi kepala ku yang mulai terasa sakit, pegangan tangan pada penyangga tempat tidur Aska semakin mengerat, ku rasakan kepala dan punggung ku semakin memberat, tembok rumah sakit yang putih bersih secara bergantian menjadi gelap.
__ADS_1
Aku berusaha tetap sadar, walaupun sekarang ku rasakan darah segar mulai mengalir lagi keluar.
.....
Aku memicingkan mata, aku berusaha menetralkan pandang ke segala penjuru ruangan, aku bergegas bangun sampai selang infus yang terpasang entah kapan di punggung tangan ku lepas, darah keluar karena tarikan yang terjadi.
Kapan aku di bawa keruangan yang berbeda dengan putraku, di mana Aska ku, siapa yang menjaganya, aku bergegas turun, tapi pintu kamar rawat di buka perlahan, seorang perawat wanita nampak terkejut melihat ku berdiri tidak jauh dari mereka.
"ibu, ada apa?" mereka menghampiri aku, ia ingin kembali memapah ku tidur, jelas aku menolak.
"saya ingin ke ruangan anak saya, mbak, tidak ada yang menjaganya di sana" si perawat itu mengusap punggung ku untuk menenangkan.
"kalau ibu sakit, anak ibu itu semakin tidak ada yang menjaga, ibu juga harus sehat untuk mendampinginya, sebaiknya ibu telpon suami ibu, atau keluarga terdekat" aku ingin tertawa miris di depan perawat yang tidak tau keadaan ku sama sekali. Sudah satu minggu aku luntang lantung mencari suami ku yang entah kemana perginya. Aku punya mertua yang jarak dekat, tapi mereka memberi jarak yang begitu jauh dengan hubungan kami. Sedangkan orang tuaku jauh, hanya ada aku dan putraku saja yang bisa saling menguatkan sekarang, putraku butuh aku, begitu juga dengan aku.
"suami saya di luar kota, mbak, saya juga nggak papa, itu tadi pusing biasa"
"mbak, sebentar lagi ada visit malam, mbak harus bertemu dokter, untuk memeriksakan kondisi mbak lebih lanjut" aku tersenyum sebisa mungkin, aku berusaha meyakinkan si perawat jika aku baik-baik saja.
"saya nggak papa mbak, yang sakit sekarang adalah putra saya"
"Darah di hidung yang sekarang menetes keluar butuh kepastian, apakah itu darah biasa, atau tanda adanya sakit parah yang belum terdeteksi" aku terdiam, entah kenapa tenggorokan ku seketika tercekat, aku mengenadah untuk menghentikan darahnya berhenti keluar, aku berlari masuk kedalam kamar mandi.
....
__ADS_1