Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
cemas


__ADS_3

akhirnya aku berhasil juga menenangkan Aska, walaupun pada akhirnya aku harus kelelahan karena bercerita dan berusaha juga membuat Abang ku mengerti dengan kesibukan Zidan. sepertinya ada ketidak puasan di mata abangku saat kami mengobrol tadi, tapi karena waktu juga sudah semakin singkat, abangku melepaskan aku dan mengantar kami ke bandara, aku hanya minta ke Abang ku untuk tidak ceritakan apapun dengan mamah dan papah, takut mereka kawatir, padahal kan biasa aja, abangku aja yang lebay Minta ampun, kelewat posesif dia itu.


sekarang aku dan Aska sudah ada di dalam pesawat, aku tadi minta di jemput Zidan, tapi pesan ku di bacanya saja, mungkin dia masih marah, ah, aku jadi takut pulang.


Aska tidur, sedangkan aku tidak bisa tidur, mau berusaha bagaimanapun aku tetap tidak bisa tidur, kenapa ya? padahal waktu di rumah orangtuaku, aku bisa tidur dengan nyenyak, makan banyak tanpa alasan ingin diet padahal nggak ada nafsu sedikitpun, sampai aku lupa untuk membeli cart baru untuk menghubungi Zidan.


aku sekarang seperti di selimuti rasa cemas yang aku sendiri nggak tau apa penyebabnya. rasa khawatir yang tinggi dengan pikiran yang tiba-tiba aja penuh kembali. kepalaku kembali berdenyut sakit jika aku terus larut di dalam pikiran ku yang berkecamuk itu. Aku melirik ke arah Aska, tidurnya nyenyak sekali, aku mengusap kepalanya dan mencium ubun-ubun nya.


ini yang aku khawatirkan, Aska ikut membuka jarak dengan Zidan, Aska jarang sekali mendapatkan kasih sayang Zidan membuat ku takut menimbulkan jarak yang semakin renggang diantara mereka. Zidan terlalu tegas di usia anak kami yang baru empat tahun ini.


Zidan tidak pernah sekalipun membelikan hadiah atau sekedar mengucapkan selamat ulang tahun pada Aska, Zidan yang selalu bersikap dingin dan berbicara ketus pada Aska, ketakutan Aska untuk mendekati Papahnya membuat mereka seperti orang asing saja, tapi terkadang Zidan perhatian juga kok, tapi dengan cara yang lain.


Terkadang aku merasakan sakit hati saat Aska yang sudah lelah mengantuk menunggu zidan pulang tapi akhirnya malah justru diabaikan Zidan, Aska selalu ketakutan jika melihat tatapan dingin Papahnya.


Aku cengeng sekali ternyata, air mataku menetes melihat betapa polosnya wajah anak ku yang sedang tidur lelah di samping ku, wajah polos yang selalu menantikan kasih sayang papahnya. pernah aku berpikir jika sikap Zidan ini ada hubungannya dengan masalah kami yang lalu, bahkan sampai sekarang, jika marah Zidan masih mengatakan hal menyakitkan itu 'atau anak itu bukan anak ku' hahhh, sakit sekali rasanya.


aku terlalu larut dalam pikiran ku, sampai tidak sadar sebentar lagi pesawat sampai. aku segera membangunkan Aska, untung saja anak ku tidak rewel.


....


author POV


"jadi Lo pulang hari ini, Inayah" Zidan bergegas pulang kerumahnya, tidak sabar ingin memberikan makian pada Inayah yang sudah seenak hati pergi tanpa memberikan pesan atau kabar padanya.


niat hati zidan ingin pulang ke rumah Karina, tapi ia urungkan niat itu.


pesan masuk membuat Zidan memelankan laju mobilnya.

__ADS_1


*mamahnya Aska*


"zi, boleh minta jemput nggak, aku sebentar lagi sampai*


"siapa Lo, ratu? Lo paduka ratu minta di jemput, enak aja Lo" gumam zidan setelah membaca pesan singkat Inayah, wajahnya benar-benar terlihat kesal, Zidan abaikan saja pesan itu setelah masuk, seperti pesan-pesan sebelumnya.


ada banyak pesanan minta maaf yang Inayah kirimkan, tapi semuanya zidan abaikan, seakan pesan-pesan itu tidak ada artinya sama sekali. Zidan yang paling merasa di abaikan oleh inayah, pria itu lupa bagaimana Inayah menantinya kabar darinya selama berhari-hari sampa anak mereka jatuh sakit.


semua pesan yang Inayah kirimkan di abaikan Zidan karena permintaan Karina. pria itu bersenang-senang di saat istrinya khawatir dan anaknya jatuh sakit, tidak ada sedikitpun niat untuk Zidan menghubungi Inayah karena alasan tidak ingin liburannya yang berharga dengan Karina rusak Begitu saja. Zidan limpahkan semua kesalahan itu pada Inayah, tanpa bercermin bagaimana sikap sendiri sebagai suami dan orang tua.


dengan kecepatan tinggi, Zidan mengendarai mobilnya, ingin segera sampai di rumah, ia tidak ingin Inayah yang sampai lebih dulu.


setelah sampai, Zidan bergegas mandi, paper bag yang menghalangi jalannya ia tendang tanpa belas kasih, isi dari paper bag itu ada kalung mutiara dan mainan mobil kayu untuk Aska. Amarahnya membuat zidan mengurungkan niat untuk memberi kalung itu pada Inayah, bahkan dengan sengaja, Zidan menginjak-injak paper bag itu hingga rusak, seakan paper bag itu Inayah yang ia perlakuan seperti itu. Zidan tidak sadar, ia juga mengabaikan istri dan anaknya bahkan ia sengaja melakukan itu atas perintah istri kedua yang lebih diakui ketimbang cinta pertamanya yang ia nikahi pun atas karena sama-sama cinta.


Zidan melempar handuk ke atas tempat tidur, ia tidak hidupkan lampu di dalam rumah, sengaja.


*"Karina ku* panggilan masuk dari Karina ku.


*"Hem, kenapa sayang?"


"kamu ko belum pulang, aku nunggu kamu sayang " terdengar sekali keputus asaan dari Karina.


"maaf, aku lupa kasih kabar, aku pulang kerumah Inayah hari ini"


"kenapa di sana, kamu marah sama aku?"


"nggak sayang, hari ini Inayah pulang "

__ADS_1


"ooh, jadi kamu pulang kesana Karena sudah rindu sekali dengan istri mu itu, aku jadi paham sekarang, tau gini aku tidur"


"sayang sayang, hey, dengerin dulu aku ngomong, ini nggak seperti yang kamu kira sayang" Zidan menegakkan posisi duduknya, tapi Karina di sebrang sana menolak untuk mendengarkan penjelasannya.


"aku matiin telponnya, semoga tidar kamu nyenyak karena sudah ketemu istri kesayanganmu itu"


Panggilan terputus, Zidan berdecak Kesal, ia lirik jam tangan mewahnya, sudah hampir jam sepuluh malam, sebentar lagi Inayah juga pulang.


"perempuan itu pasti sebentar lagi tiba, besok aja aku jelaskan pada Karina, aku ingin bersenang-senang dulu dengan wanita kampung itu" ucap Zidan.


....


Inayah POV.


Kami sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah, jantungku semakin berdetak tidak karuan, aku takut sekali mendapatkan amukan Zidan, semoga saja itu hanya pikiran ku yang terlalu kelelahan.


mobil Zidan terparkir di depan rumah, aku menurunkan koper, untungnya, supir yang membawaku baik hati sekali, beliau membantu aku menurunkan barang-barang, dan membawanya ke depan pintu, sedangkan aku menggendong Aska.


"makasih ya pak" bapak supir itu mengangguk dan berjalan menuju taksinya, aku menutup gerbang lalu menguncinya. dengan langkah kecil aku berjalan mendekati rumah.


"Bismillah" ragu Sekali aku untuk masuk, entah kenapa rasanya akan ada sesuatu yang terjadi di dalam rumah nanti. aku gigit bibir bawahku untuk mengurangi rasa gugup di hati. perlahan aku buka pintu, keadaan rumah gelap sekali, apa Zidan sungguh sudah pulang, tapi kenapa lampunya tidak menyala. aku masukkan dulu koper dan tas ku, kemudian aku menutup pintu.


tiba-tiba saja lampu menyala, aku di kejutkan dengan Zidan yang tiba-tiba berdiri di depan ku, ya Allah, ada apa dengan Zidan, kenapa wajahnya menyeramkan sekali, tidak ada kehangatan apapun di matanya, aku takut sekali ya tuhan, aku eratkan lagi Gendongan Aska.


"Dari mana?" suaranya terdengar berat dan dingin.


"zi--aa--a"

__ADS_1


"DARI MANA GUE BILANG!!!"


__ADS_2