Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Libur kerja


__ADS_3

"Kamu nggak ke kantor, Zi?" ku letakkan sepiring buah apel yang sudah ku iris kecil-kecil keatas meja makan, kemudian duduk di samping Zidan.


"nggak" apa tadi malam para peri kecil menyihir otak suamiku, lima tahun kamu menikah, baru hari ini aku lihat zidan duduk di meja makan dengan pakaian santai rumahan, padahal ini masih hari kerja, kalaupun hari libur... Zidan juga tidak ada di rumah entah kemana.


"Hah, kenapa Zi? Kamu lagi nggak enak badan?" aku sungguh khawatir dengannya, siapa tau dia lagi sakit tapi nggak mau bilang.


"Aku nggak papa, Inayah" ku sendokkan nasi ke piring Zidan dan Aska secara bergantian.


"terus kenapa kamu nggak ke kantor, ada masalah" sendok yang ingin Zidan masukkan kedalam mulutnya terhenti, Zidan letakkan sendoknya dan memfokuskan pandangannya pada ku.


"aku nggak papa sayang, aku mau di rumah aja, kerja dari rumah di temani kamu, nggak papa kan?" mungkin kerutan di keningku sudahlah terlihat jelas, aku sungguh di buat keheranan dengan sikapnya, apa dia setakut itu aku tinggalkan? entahlah, aku tidak mengerti.


....


"Sayang, cepat. Aska sudah hampir telat itu" entah apa yang zidan lakukan selama itu di dalam kamar, sudah seperti perempuan aja, aku dan Aska sudah menunggunya sekitar sepuluh menitan di bawah, tapi saat aku menemuinya di dalam kamar, pria itu justru sibuk dengan ponselnya, pasti itu panggilan-panggilan dari kantor yang sengaja ia tinggalkan.


"kamu sibuk Zi?" Zidan mengantongi lagi ponselnya dan berjalan ke arah ku.


"Kalau kamu sibuk nggak papa Zi, aku sama Aska bisa naik taksi online aja" Zidan menggeleng dan merangkul pinggang ku.


"ayo berangkat, nanti Aska telat" Pinggang ku sama sekali tidak Zidan lepaskan, seperti suami istri yang baru menikah saja.


Melihat aku dan Zidan, Aska berlari cepat ke arah luar, anak ku sudah tidak sabar ingin kesekolah, ingin bermain dengan teman-temannya lebih tepatnya sih.


Aku tertawa pelan dengan Zidan mendengar lucunya anak ku bernyanyi riang di belakang, ini kali pertama Zidan mendengar anaknya bernyanyi dengan riang, sepertinya Aska melupakan dengan siapa dia berangkat sekolah.


"kayanya dia nggak sadar kalau ada kamu di depan Zi" seketika senyum Zidan luntur, aku sadari juga perubahan mood suami ku.

__ADS_1


"Zidan"


"aku seasing itu ya sama anak ku sendiri, sampai untuk mendengar nyanyian saja aku harus menunggu Aska tidak menyadari kehadiran ku" ku sentuh tangan Zidan, ku usap-usap punggung tangannya dengan ibu jari ku.


"aku sejauh ini dengan anak ku sendiri, Aya" di berpaling menatap ku, aku bisa lihat penyesalan dari raut wajah suamiku.


"papah" seketika aku berpaling, sedangkan Zidan kembali fokuskan pandangannya ke arah depan, ia tidak ingin hilang kendali saat menyetir. Sedangkan aku tidak bisa menahan rasa haru lagi, mungkin sekarang mataku sudah berkaca-kaca, akhirnya anak ku kembali memanggil papahnya.


"papah, Aska di sekolah banyak temannya, mereka suka ngejek Aska... mereka bilang Aska nggak punya papah, karena Aska tidak pernah di antar papah, tapi sekarang Aska senang sekali, mereka akhirnya percaya kalau Aska punya papah juga kaya mereka, papah sering antar Aska sampai depan kelas dan jemput Aska, Aska senang sekali pah, makasih ya pah" anak ku itu berucap dengan lugunya, ia menganggap apa yang ia utarakan tadi hanyalah sekedar ucapan saja, tapi tidak bagiku dan Zidan, apa yang Anak ku katakan sungguh menyentil hati nurani kami berdua sebagai orang tua.


"Papah usahakan setiap hari mengantar Aska ke sekolah, nak"


keadaan kembali riuh dengan suara nyanyian Aska, sedangkan aku dan Zidan memilih bungkam.


Sesampainya di depan sekolah Aska, Zidan langsung turun dan menggendong anaknya, aku mengekor di belakang mereka. Di sini aku bisa melihat wajah Aska yang sedikit berubah, tidak terlalu ketakutan lagi, sudah ada senyumnya juga, hati ku benar-benar menghangat, semoga hubungan anak dan suami ku semakin membaik, dan rumah tangga kami pun langgeng hingga tua nanti.


"mau jalan-jalan?" aku tidak terlalu mendengar apa yang Zidan ucapkan, karena aku sedang memasang sabuk pengaman.


"kamu bilang apa tadi Zi. aku nggak denger"


"mau jalan-jalan nggak, ke Mall atau kemana ke"


"kamu nggak kerja, Zi?" sepertinya pertanyaan ku membuat Zidan kesal, ia berdecak Kesal dan menjalankan mobilnya.


"Kamu ini kenapa sih, Inayah. Kamu nggak suka aku ada di rumah, kamu selalu minta aku buat kerja, kamu nggak mau aku dekat kamu? Iya? " lah, kenapa jadi marah-marah, jelas aku tanyakan terus tentang pekerjaannya, orang dia pecinta kerja, sakit aja tetap kerja, dan sekarang tiba-tiba libur dan mengajak ku jalan-jalan, aneh sekali kan.


"nggak gitu sayang... aku kan cuman tanya, aku takut kamu sibuk atau banyak kerjaan" ku coba kembalikan mood-nya, sepertinya tidak berhasil, wajahnya itu Lo dingin sekali.

__ADS_1


"aku ingin hubungan kita membaik, Inayah. Aku nggak mau kita hilang komunikasi lagi, aku nggak mau" ucap Zidan.


"iya iya, maaf"


"Zidan, sayang..."


"apa" jawabnya dengan ketus.


"kita nonton yuk, ada film horor terbaru tayang hari ini" Zidan beralih menatap ku.


"yakin mau nonton film horor, nggak takut kamu, kaya berani aja" terdengar sekali nada mengejeknyya. Aku memang penakut sekali dengan hal-hal seperti itu, aku ingat dulu pernah pergi menonton film horor dengannya, kerah baju Zidan sampai robek karena ku tarik saat hantunya muncul. Sejak saat itu Zidan tidak mau lagi jika aku mengajaknya pergi menonton film horor, bukan karena bajunya yang ku sobek, tapi karena ketakutan yang berlanjut sampai rumah, aku jadi merepotkan Zidan dengan terus memintanya menemani aku ke WC, atau ke dapur saat tengah malam, lucu jika di ingat.


"berani" ucap ku tanpa ragu.


"nggak mau ah, kamu nanti sulit tidur dan terbayang-bayang dengan sosok hantunya, sayang" aku menggeleng


"nggak ko, aku janji nggak, aku berani Zidan"


"kenapa jadi ngotot mau nonton film hantu? Hem"


"karena pemeran cowoknya artis kesukaan ku" Zidan memutar matanya jengah.


"nggak mau, nggak usah nonton" ku genggam tangannya dan memasang wajah memelas.


"sayang... please, temenin nonton ya, ya" terdengar helaan nafas berat dari Zidan, ia melirik ku dengan tatapan tidak suka terkesan pasrah.


"awas aja kalau nggak bisa tidur, awas aja bangunin aku buat temenin buang air, padahal WC nya ada di dalam kamar.

__ADS_1


"nggak janji" aku tertawa semakin membuat zidan kesal.


__ADS_2