
Khansa tak alihkan sedikitpun tatapannya dari sang sahabat, Inayah tidak menyentuh makanan di depannya, tatapan matanya kosong, bibirnya nampak bergetar menahan sesak di dalam dada. Khansa letakkan tangannya di atas punggung tangan sahabatnya, bersamaan dengan jatuhnya air mata Inayah. Dengan sangat berat, Inayah masukkan satu sendok nasi tanpa lauk kedalam mulutnya, ia kunyah nasi itu dengan perasaan kacau, tangan yang kembali terangkat itu pun bergetar, mengakibatkan tidak semua nasi masuk kedalam mulutnya.
"Aya...."
"Hubungan gue sama ka Zidan sudah selesai, Sa..."
"Ka Zidan mengkhianati gue selama bertahun-tahun lamanya, mereka bahkan sudah di karuniai satu putri yang hanya terpaut satu tahun dari anak gue, Sa...dan sekarang selingkuhannya itu sedang hamil anak kedua" sendok di tangan jatuh terhempas membentur piring, Aska yang asik mengunyah kudapan nya pun terkejut. Inayah menunduk, bahunya kembali bergetar, Khansa berpindah duduk di samping sang sahabat, merangkul bahu yang rapuh itu untuk di tenangkan.
"Gue kurang apa sih Sa, sampai dia tega kaya gitu ke gue. Gue bahkan membantah ucapan orang tua gue demi dia, gue rela bertahun-tahun menjadi menantu yang tidak pernah di inginkan orang tuanya demi dia... Gue rela mengubur impian gue menjadi penulis demi dia, gue melahirkan anak yang lucu untuk dia, apa itu belum cukup juga...." Inayah mengangkat kepalanya, sedangkan Khansa melepaskan pelukannya, kini mereka saling pandang, tatapan Inayah begitu sayu, matanya bengkak, bibir wanita itu pucat, tak kuasa Khansa melihat penampilan sang sahabat.
"ko dia tega banget si Sa, sama gue... ko dia sejahat itu sama gue, Sa... kenapa sa... Kenapa..." Inayah menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia menangis dengan suara pelan. Khansa hanya bisa kembali memeluk sahabatnya, Khansa tau Inayah butuh seseorang untuk bersandar.
"Zi--zidan berubah bukan karena cemburu sama gue... tapi dia selingkuh selama bertahun-tahun lamanya. Setiap hari gue harus kuat menahan sikap dinginnya, sikap kasarnya, sikap juteknya yang semakin parah dalam satu tahun terakhir ini, Sa. Gue selalu meyakinkan diri kalau ka Zidan butuh waktu untuk memaafkan kesalahan gue, walaupun di hati kecil gue... selalu ada rasa ragu untuk ka Zidan, hati kecil gue selalu terisi dengan ka Zidan yang sedang menyembunyikan sesuatu dari gue... dan benar saja, ka Zidan menyembunyikan perempuan di rumah tangga gue..." Khansa mengangkat kepalanya menatap langit-langit warung makan nasi Padang yang nampak cerah dengan warnanya, ia tarik nafas dalam menahan sekuat tenaga untuk tidak ikut menangis juga.
"Siapa Aya, siapa perempuan jahat itu, siapa perempuan yang dengan tega menghancurkan rumah tangga orang lain, siapa orangnya Aya, siapa?"
"Karina... Karina Angela. Sahabat ka Zidan, Sa" Khansa mengepal tangannya. Ia sentuh kedua bahu Inayah dan melepaskan pelukannya, Khansa sedikit menunduk agar bisa menatap wajah Inayah.
"Aya"
"Inayah, lihat gue" Inayah mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Kita harus temui mereka, minta keadilan untuk lo, Zidan nggak bisa ngelakuin ini sama Lo. Perempuan itu harus pergi dari hidup zidan, lo---" Inayah menggeleng seraya menghapus kasar air matanya dengan punggung tangan, Khansa menatapnya bingung.
"mamah, Aska ngantuk" Aska merentangkan tangannya minta di gendong, inayah Dengan cepat mengangkat tubuh mungil itu ke atas pangkuannya, tangannya terulur merapikan rambut sang anak yang berantakan, perlahan Aska menutup matanya, merasa nyaman berada di pelukan sang mamah yang begitu hangat.
"Aya, kita harus rebut hak Lo" kali ini Khansa nampak tegas.
"gue nggak sudih kembali hidup dengan penghianat, pembohong seperti Zidan, gue bisa hidup dengan Aska tanpa ulur tangan darinya"
"Tapi Aya..." Inayah menggenggam tangan Khansa, tatapan yang tadi sendu berubah tegas.
"Jangan pernah meminta gue untuk menuntut hak Aska pada bajingan itu, apalagi meminta gue kembali memperbaiki hubungan gue dengannya, itu sama aja merendahkan harga diri gue di hadapan mereka, di hadapan orang-orang angkuh yang tidak berperasaan itu!" Dada Inayah kembali naik turun menahan emosi, ia palingkan wajahnya ke arah lain.
"Aya.." khansa kembali menggenggam tangan sang sahabat.
"Khansa, bantu gue, Sa. Cuman Lo yang gue punya di kota ini, gue nggak punya siapa-siapa, gue mohon bantu gue" kedua tangan Inayah Khansa genggam.
"apapun itu Aya, apapun itu. Gue akan bantu Lo, gue harus apa Aya, apa gue harus temui Karina terus menjambak rambutnya? atau gue harus temui Zidan?" Inayah menggeleng lagi.
"Lo nggak perlu melakukan semua itu, gue sudah serahkan semuanya pada tuhan, gue percaya mereka akan mendapatkan balasan yang jauh lebih setimpal dari apa yang bisa lo lakukan. Gue cuman minta lo jangan tinggalin gue, Sa. Bantu gue bertahan di kota penuh kenangan ini, bantu gue mengurus perceraian gue, mengakhiri hubungan gue dengannya" Khansa tersenyum seraya mengangguk.
"Gue akan terus ada di samping Lo Aya, gue janji itu"
__ADS_1
"makasih Sa, makasih"
....
"Lo yakin Aya, nginep di rumah gue aja ya"
"jangan Sa, nggak enak sama Fakhri, disini juga nggak papa untuk sementara waktu, sampai urusan gue sama Zidan selesai, gue akan pulang ke rumah orang tua gue" Inayah tidurkan Aska di kasur, ia selimut tubuh kecil itu.
"uang hasil penjualan cincin nikah itu apa cukup untuk biyaya hidup Lo?"
"insyaallah cukup, apartemen ini juga tidak terlalu mahal sewanya, biyaya hidup gue dan Aska juga tidak mahal, pasti cukup" Inayah mengantar Khansa sampai dengan pintu apartemennya.
"Sebentar lagi hp baru Lo datang, juga beberapa baju untuk Lo dan Aska. Gue balik dulu, sebenarnya gue nggak mau pergi, tapi di rumah ada anak gue, gue nggak percaya sama bapaknya, gue takut bapaknya yang masuk ke ayunannya sambil minum susu, kan nggak lucu" Inayah tersenyum singkat mendengar celetukan nyeleneh sahabatnya, Khansa terharu melihat Inayah.
"gitu dong, senyum kan cantik. Gue balik dulu, besok gue kesini lagi, Assalamualaikum"
"waalaikumsallam, hati-hati"
Inayah terus berdiri di depan pintu hingga punggung khansa tidak terlihat lagi di balik tembok, barulah Inayah masuk juga. Inayah dudukan tubuh lelahnya di sofa, belum ada semenit Inayah duduk, wanita itu berdiri lagi dan berlari masuk kedalam kamar mandi, Inayah duduk bersimpuh di depan closed, ia muntah kan semua makanan yang beberapa jam lalu di masukkan.
Inayah menyandarkan punggungnya di tembok kamar mandi yang dingin, ia mengenadah menatap langit-langit kamar mandi. Inayah menyeka mulutnya yang terasa pahit, tangannya terulur untuk mengusap perutnya yang terasa lebih baik setelah muntah.
__ADS_1
Inayah merogoh saku celananya, mengeluarkan benda berwarna merah mudanya yang tadi ia beli di apotik. Inayah tatap beda itu begitu dalam, Inayah mengigit bibirnya bawahnya gugup.
"akan ku pertahankan jika benar kau ada di dalam sana, nak, jika pun nyawaku sendiri yang menjadi taruhannya"