Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
akhirnya pulang


__ADS_3

author POV


"Kamu pulang sekarang sayang?" Zidan mengangguk, ia mendekat dan mencium kening Karina lama. Sebenarnya pria itu sudah pulang satu hari yang lalu, tapi ia putuskan untuk menginap sehari di rumah Karina, baru ia pulang ke rumah yang di tempatnya dengan Inayah dan Aska.


"makasih ya sayang, makasih sudah menuruti semua mau ku selama dua minggu, terimakasih waktu bahagia yang kamu kasih untuk ku dan Nesha" Zidan mengangguk, ia memeluk Karina erat, mencium ubun-ubun nya.


"asal kamu dan Nesha bahagia" ucap Zidan.


"sekarang aku percaya, kalau kamu lebih mencintai aku dari pada Inayah" tidak ada respon dari Zidan, tidak mengiyakan tidak juga membantah, apa benar cinta itu telah hilang semuanya, apa semudah itu Zidan menyingkirkan nama Inayah yang selama belasan tahun hidup di hatinya, apa semudah itu sosok Karina menggantikannya Inayah.


Semuanya hanyalah masalah waktu saja, semuanya akan terungkap dengan sendirinya nanti. Entah siapa yang akhirnya akan di pilih Zidan, cinta pertamanya, atau cinta tanpa sengaja, Zidan harus bisa memilih salah satunya, Zidan tak bisa menambatkan dua nama di dalam hatinya, akan ada hati yang hancur ketika di lepaskan, akan ada hati yang terluka ketika di paksa menerima keadaan, lebih baik seperti itu, agar bisa belajar untuk ikhlas, ketimbang terus bertahan, di dalam cinta segitiga yang menyakitkan.


"Aku berangkat dulu, kalian hati-hati di rumah" Karina mengangguk sembari melepaskan pelukannya.


Zidan merangkul pinggang Karina hingga ambang pintu, Karina melambai pada mobil Zidan yang mulai menjauhi pekarangan rumah mewahnya, rumah yang jauh lebih mewah dan besar ketimbang rumah yang Inayah dan Aska tempati. Rumah itu pemberian Zidan, sama dengan yang inayah miliki, satu tahun lalu, Zidan berikan untuk Karina dan Nesha, di mana benih cinta di hatinya mulai tumbuh dan berkembang untuk Karina.


Zidan tidak langsung ke kantor, ia pulang dulu ke rumah Inayah, ia ingin berikan oleh-oleh kecil yang di bawanya secara diam-diam dari Lombok. Sebuah kalung cantik dengan mutiara asli dari lombok sebagai penghias liontin nya. Pasti sangat pas jika dikenakan di leher Inayah yang putih dan bersih itu.


Zidan pun hanya mampu membeli satu mainan kecil berbahan dasar kayu untuk Aska, nyatanya ia masih mengingat anak istrinya itu, ia masih ingat dengan dua orang yang selalu menunggu kepulangannya.


Dahi Zidan berkerut saat ia masuk ke dalam rumah dengan keadaan sepi, tidak ada suara gaduh dari Aska, atau teriakan Inayah yang meminta Aska untuk tidak berlarian setelah mengenakan pakaian sekolah, takut kusut lagi katanya, padahal mereka belum berangkat.


"baru jam tujuh, Aska masuk sekolah jam 8, kemana mereka" Zidan masih memikirkan kemana mereka pergi, tidak mungkin kesekolah sepagi ini.


"Inayah bilang Aska sudah sehat dan pulang, tapi kemana mereka" Zidan membaca setiap pesan yang Inayah kirimkan untuk nya, kecuali pesan ijin Inayah yang ingin pulang ke kampung halaman selama satu minggu ke depan. Pesan itu sudah di hapus Karina sebelum Zidan membacanya, licik sekali istri Zidan yang satu ini.

__ADS_1


Karena tidak menemukan seseorang pun, Zidan putuskan untuk ke kantor saja, mungkin Inayah dan Aska pergi ke suatu tempat, pikirnya.


.....


Tapi sayangnya, hingga malam tiba, keadaan rumah masih tetap sunyi senyap, lampu-lampu tidak ada yang di nyalakan, gorden rumah pun masih terbuka. Tidak ada makan malam yang tersaji di atas meja, tidak ada Inayah yang setia menunggunya di ruang depan, atau Aska yang kepalanya menyembul keluar dari tembok jika anak itu belum tidur.


"Inayah" panggil Zidan dengan suara parau karena kelelahan seharian bekerja.


"Inayah" nada suaranya sedikit meninggi.


"Inayah" nada suaranya kembali merendah tapi penuh tekanan.


Zidan tau Inayah belum pulang, tapi ia tetap berteriak sebisanya, Zidan mencarinya di penjuru isi rumah, tapi tidak ia temukan siapapun di sana.


Zidan mengusap wajahnya kasar, ponsel Inayah seharian di hubungi tidak bisa, selalu saja operator yang menjawab dengan sahutan yang sama, maaf nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi, atau WhatsApp yang bertuliskan menghubungkan, itu tandanya nomor Inayah tidak aktif.


"nggak mungkin Inayah pergi, semarah-marahnya dia, Inayah nggak mungkin ninggalin gue, nggak!" ada ketakutan jika membayangkan hal itu, Zidan tidak ingin Inayah pergi dari hidupnya, Zidan tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi padanya jika Inayah pergi.


Segera Zidan menghubungi nomor ponsel pihak sekolah Aska. Tidak langsung di jawab ya karena ini di luar dari jam sekolah. Zidan berdecak kesal karena tidak tau nomor siapa yang bisa di hubungi untuk mencari tau keberadaan istri dan anaknya.


Zidan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, di pijatnya pelipis yang mulai berdenyut, pusing memikirkan di mana istri dan anaknya sekarang.


Entah dorongan dari mana, Zidan justru menghubungi orang tuanya, mungkin saja Inayah ke sana, karena tidak ada satupun keluarga yang Inayah punya di jakarta.


*"kenapa nak?" suara Dewi dari sebarang.

__ADS_1


"mah, Inayah Aska di sana?" tanya Zidan tergesa-gesa, tatapannya memperlihatkan begitu banyak harapan.


"nggak ada" jawab Dewi ketus


"mamah nggak tau dia kemana?" tanya Zidan lagi.


"mana mamah tau" terdengar decakan dan hembusan nafas dari Zidan.


"mungkin di rumah sakit" Zidan mengerutkan kening, ia bingung kenapa mamahnya bisa tau. Mamahnya mana peduli mau Aska atau Inayah mati pun mereka tidak peduli sama sekali.


"mamah tau dari mana mereka di rumah sakit?" tanya Zidan penuh selidik.


"mereka satu minggu lalu ke rumah, nanyain kamu, kamu nggak ada kabar katanya, waktu itu hujan deras, Inayah mohon-mohon untuk di ijinkan masuk--" ucapannya langsung di potong, Zidan yang ada di sebrang sana berdiri.


"mamah ijinkan mereka berteduh kan? mamah ijinkan istri dan anak Zidan masuk kan? katakan iya mah!" desak Zidan penuh harap, kalimatnya di tekankan.


"ngapain, sampai mati pun mamah nggak akan rela rumah mamah di injak sama wanita murahan dan anak haramnya itu"


"mah!" bentak Zidan menghentikan kalimat Dewi.


"Teganya mamah dengan mereka, Aska sakit mah, mereka kehujanan, di mana hati nurani mamah sebenarnya!" Bentak Zidan penuh emosi.


"kamu berani bentak mamah hanya karena dia manusia tidak berguna itu, Zidan!" Dewi juga tidak kalah tinggi.


"Zidan Benar-benar nggak nyangka mamah bisa kaya gitu ke mereka, Zidan tau mamah membencinya, tapi setidaknya pandanglah mereka sebagai seseorang yang membutuhkan bantuan mamah" ucap Zidan lirih, sepertinya Dewi lelah berdebat, ia matikan panggilan secara sepihak. Zidan mengerang prustasi, ponsel mahalnya di lempar ke atas kasur. Zidan Benar-benar tidak habis pikir kenapa orangtuanya sungguh tega memperlakukan Anak dan istrinya seperti itu.

__ADS_1


"kalian di mana " Zidan memukul mukul dinding.


__ADS_2