
Inayah POV
"Nggak tau, Sa. Sampai sekarang belum ada panggilan dari pengadilan agama" Sudah kuduga hal ini akan terjadi, sejak awal Zidan menolak untuk bercerai, sudah satu minggu setelah surat gugatan perceraian itu aku kirimkan ke kantornya, dan belum ada kabar dari pengadilan.
"Dia emang nggak mau cerai, gue yakin surat itu sudah sampai ke tangan dia, gue harus apa, Sa..."
"Lo masih tetap bisa melanjutkan perceraian meskipun Laki Lo itu menolak" ku angkat kepala ku menatap Khansa, aku tidak mengerti apapun tentang hukum perceraian dan cara-caranya.
"Caranya?"
"Lo harus punya bukti kuat tentang perselingkuhan Zidan" Aku menggeleng, sepertinya sulit untuk menemukan bukti apapun untuk ku serahkan pada pengadilan, aku pun tau Zidan berselingkuh saat di supermarket, bukti apa yang aku punya.
"Gue nggak punya bukti apapun, Sa..."
"Ka Zidan pernah main kasar nggak sama Lo?" aku mengangguk.
"Ka zidan pernah nampar gue, ka Zidan juga pernah dorong gue sampai punggung gue memar, dia juga pernah lempar anaknya sendiri ke sofa" Khansa nampak begitu kaget, tidak heran sih, Khansa mana pernah mengira Zidan setega itu, akupun begitu, tapi kenyataannya Zidan sungguh melakukan kekerasan di rumah tangga kami.
"Lo serius Ya!" Khansa tanpa sadar menggebrak meja, Aku hanya mengangguk, ku sandarkan punggungku ke kursi, ingin lepas dari laki-laki sebrengsek Zidan pun sesulit ini, apa lagi bertahan dengannya, melihat wajahnya saja aku sudah mual.
"Parah banget si ya Allah" Khansa bergumam, sungguh sahabat ku itu tidak menyangka jika suamiku begitu ringan tangan. Zidan yang kami kenal bahkan tidak pernah meninggikan sedikitpun suaranya, walaupun Zidan memang cuek dan dingin. Aku yakin perempuan murahan itu yang sudah membuat Zidan berubah.
"Sampai setega itu dia nyakitin anaknya. Inayah!" aku sedikit terkejut saat Khansa meninggikan suaranya, ku naikkan alis ku bingung.
"Lo pasti punya banyak hal yang gue nggak tau kan? Selama ini Lo nggak bahagia hidup dengannya?" pandangannya kami saling beradu. Ku remas jari-jari ku menahan sesak yang tiba-tiba saja kembali menyakiti dadaku.
__ADS_1
"Gue bahagia banget setelah menikah dengannya Sa... Gue seneng banget, walaupun pernikahan Gue dengannya tidak mendapatkan restu dari orang tua kami berdua. Orang tua gue sebenarnya tidak ingin kami menikah begitu juga keluarga dengan Zidan. Keluarga mereka jauh di atas keluarga ku, orang tua gue nggak mau anaknya di rendahkan di keluarga kaya itu... dan benar saja, gue nggak pernah di anggap menantu, gue di sembunyikan dari publik, anak gue pun tidak mereka akui" Cepat-cepat ku hapus air mata yang kini menetes lagi keluar.
"Aya..." aku tersenyum pada Khansa, aku tunjukan padanya jika aku kuat.
"Aya..."
" Gue nggak pernah mendapat pengakuan, gue nggak masalah Sa, gue tetap hidup bahagia sampai gue rasakan perubahan dari sikap ka Zidan, setahun belakangan ini ka Zidan benar-benar terasa asing buat gue, ka Zidan bukan seperti Zidan yang pernah kita kenal dulu, ka Zidan kasar, cuek, dingin, pemarah, apapun yang gue lakuin buat dia kalau di lagi bad mood semuanya salah di mata dia, setiap sabtu dan minggu ka Zidan nggak pernah pulang kerumah dengan alasan menginap di kantornya, dan bodohnya gue percaya. Ka Zidan yang bisa berminggu-minggu keluar kota tanpa memberi kabar pun gue tetap percayalah sama dia, dan inilah yang gue terima, sebuah pengkhianatan dari dia"
"Gue sempat membayangkan hidup bahagia terus dengannya, menua menemani anak cucu gue tumbuh dewasa dan sukses, tapi nyatanya semua itu tidak akan pernah terjadi dalam hidup gue, rumah tangga gue hancur tanpa sisa, ka Zidan menorehkan luka yang begitu dalam di hati gue, sampai gue sendiri bingung cara untuk menyembuhkan lukanya" Khansa berdiri dan berpindah duduk di samping ku, di peluknya aku begitu erat dan mengusap punggung ku.
"Sesakit ini jadi lo Aya... dan Lo masih tetap kuat" aku tidak ingin menangis lagi, tapi jika sudah seperti ini aku bisa apa, aku wanita biasa bukan superhero.
"Bantu gue buat lepas dari dia Sa, gue nggak sanggup lagi, gue mau hidup bahagia bareng anak-anak gue, gue nggak mau kembali ke dia"
"Gue akan bantu Lo Aya, gue juga nggak rela kalau Lo harus kembali ke laki-laki brengsek itu"
"Dari mana kamu?"
"Karina?" Zidan sedikit terkejut menemukan Karina di depan rumahnya, rumahnya dengan Inayah, Karina tidak sendiri, ada orang tuanya juga di sana. Zidan selalu pulang kerumahnya bersama Inayah, ia begitu berharap wanita itu ada di sana menunggunya pulang kerumah, menantinya seperti biasa di sofa ruang tamu dengan senyum mengembang.
Zidan berharap wanita itu akan menghampirinya dan memeluk tubuhnya yang lelah setelah seharian bekerja. Tapi itu semua tidak pernah terjadi dalam waktu satu bulan ini, tidak ada bau masakan enak dari Inayah, tidak ada suara tawa Aska yang asik bermain mengelilingi seisi rumah, tidak ada suara teriakan Inayah yang kesal dengan tingkah anaknya, dan sekarang Zidan justru harus berhadapan dengan kedua orang tuanya dan Karina, orang-orang yang ia hindari satu bulan terakhir ini.
Zidan mengabaikan mereka dan membuka pintu rumah, ia tidak peduli panggilan melengking dari Karina.
"ZIDAN!" Zidan berdecak kesal saat tas kerjanya ditarik paksa oleh sang mamah.
__ADS_1
"Mamah kenapa sih, Zidan capek, Zidan ingin istirahat"
"KAMU NGGAK BISA BEGINI TERUS ZIDAN, KAMU NGGAK PULANG SATU BULAN MENEMUI ANAK DAN ISTRI MU! KARINA SEDANG MENGANDUNG ZIDAN!"
"Mah..." Zidan berucap pelan
"ini Zidan sudah pulang, Zidan pulang mah, ini rumah Zidan, ada istri dan anak Zidan di dalam mah" Dewi melangakah mendekat, ia peluk anaknya yang nampak begitu rapuh. Putra sulungnya itu terlihat tidak terurus, kantong matanya terlihat jelas, area bawah matanya pun hitam, tubuh tegap itu terlihat lebih kurus dari biasanya, kumis yang di cukur asal pun menambah kesan menyedihkan.
"Zidan..." Dewi berucap lirih, Karina menatap mereka dengan tangan terlipat didepan dada, sedangkan sang ayah memilih duduk.
"Nak, mamah mohon berhenti seperti ini nak, lepaskan dia anak ku... dia nggak pantas buat kamu sayang, bicarakan dia pergi.... mamah mohon nak" ucap Dewi lirih, Zidan melepaskan pelukan sang ibu, dan menggeleng.
"maaf mah, Zidan nggak bisa, Zidan menyayangi Inayah, Zidan menyesal karena telah melukai hatinya, Zidan pria bodoh yang tega menyakiti wanitanya. Zidan sayang mereka mah, Zidan nggak bisa tanpa dia, sampai kapanpun Zidan nggak akan mau berpisah dengannya" jelas Zidan dan berbalik meninggalkan mereka, langkah kaki Zidan terhenti saat bunyi pecahan memekikkan telinganya.
"Zidan Fadillah Narendra!" Zidan Melihat sang mamah yang sudah di tahan tubuhnya, Dewi mengarahkan pecahan vas bunga ke arah pergelangan tangannya.
"Kamu memilih mamah mati atau berpisah dengan perempuan itu zidan!"
"mah!" Zidan melangkah
"Berhenti di situ!"
"Mamah"! Teriak mereka bersamaan saat Dewi ingin menggoreskan pecahan kaca itu di lehernya.
"Mamah akan mati di hadapan kamu kalau kamu tidak bercerai dengan wanita itu Zidan" Dewi berucap tenang.
__ADS_1
"Mamah pastikan kamu akan kehilangan mamah nak, mamah pastikan itu" Ancam Dewi tidak main-main