
"Masyaallah" Ku tutup mulutku tidak percaya, apa yang dokter di depan ku ini katakan sungguh membuat ku terkejut tidak percaya, apa ini candaan.
"iya bu, maafkan kesalahan Diagnosa saya waktu itu, saya aku ini sebuah kelalaian, maafkan saya bu" Aku tidak bisa berkata-kata lagi, ini sebuah kejutan bahagia di tengah rasa sakit ku.
"sa--saya sehat dok, ti--tidak ada Kanker di otak saya?" tanya ku lagi ingin memastikan, dokter itu mengangguk. Aku tak kuasa menahan air mataku lagi. Beberapa jam yang lalu aku mendapatkan telpon dari dokter yang waktu itu memeriksa ku, aku sudah ketakutan, aku kira aku akan di lakukan tes Biopsi, karena waktu itu aku langsung pulang tanpa melakukan tes, dan nyatanya aku salah.... dokter itu ingin memberitahu aku mengenai kesalahan Diagnosa, rasanya aku ingin marah pada si dokter, bisa-bisanya ia membuat ku ketakutan setengah mati karena Diagnosisnya itu, tapi aku juga bahagia, jadi kemarahan ku itu tersamarkan.
....
"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih ya Allah, terimakasih" Aku terus meneteskan air mata bahagia, aku sehat, dan anak yang ada di dalam kandungan ku pun tidak akan terancam.
"anak mamah, sehat sehat di dalam ya sayang" aku mengelus perut ku.
"Aya..." aku mengangkat kepala, di hadapan ku sudah ada Zidan dan istirnya, ku kepal erat kedua tangan ku.
"eh Inayah, Lo ada di sini juga, ngapain? Oh iya, aku sama suamiku mau ketemu dokter kandungan, kami hidup bahagia Inayah, semoga Lo juga bahagia ya...."
Aku melirik Karina dari atas hingga bawah, sedangkan Zidan tidak sama sekali ku pandang, walaupun dari ekor mataku, aku bisa melihat Zidan yang tidak mengalihkan sedikitpun tatapannya dari ku, bukannya so pede, cuman begitu adanya.
"Semoga langgeng deh kalian berdua, dan selamat karena telah mendapatkan apa yang Lo mau. Selamat karena telah berhasil hidup dengan pria sebrengsek dia" ku tunjuk Zidan tanpa ragu, ku lipat tangan ku di depan dada dan memasang wajah meremehkan.
"Aya..." Suara panggilan pria brengsek itu benar-benar menyebalkan, kenapa dia masih memanggil ku dengan sebutan itu, panggilan khusus untuk orang-orang yang aku sayang, sedangkan dia sudah tidak lagi memiliki hak itu. Ku alihkan pandangan ku pada Zidan, menatapnya tidak suka
__ADS_1
"mohon maaf Bapak Zidan Fadillah Narendra yang terhormat, berhenti memanggil saya dengan sebut itu, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun, dan saya tidak sudih panggilan sayang itu anda gunakan untuk saya, karena anda bukan lagi seseorang yang saya sayang"
"Dan satu hal yang harus anda tau bapak Narenda, dan sampaikan pada orang tua anda yang super angkuh itu, jika mulai dari detik ini, saya tidak akan menggunakan nama belakang keluarga kalian untuk anak saya Aska dan..." ku jeda sesaat kalimatku dan mengarahkan tangan pada perutku yang mulai menonjol.
"Anak yang ada di dalam kandungan saya" lanjut ku, berhasil membuat Zidan menatapku dengan iris mata melebar, pasti dia terkejut, aku memundurkan langkah saat pria itu melangkah maju.
"Kamu hamil Aya?" kulihat kedua mata tegas yang selalu aku puji namun menyimpan banyak kebohongan itu nampak berkaca-kaca.
"Sudah saya katakan jangan sebut nama itu! Anda tidak memiliki hak atas panggilan itu lagi!" aku benar-benar kesal, pria ini masih saja memanggil ku Aya, aku tidak suka mulut kasarnya itu menhanggil ku Aya.
"Inayah... kamu hamil Inayah" kenapa suaranya semakin terdengar lirih, ada apa dengan pria ini, harusnya dia senang dong kalau aku hamil, dia tidak harus melihat ku hamil, melahirkan dan menambah beban hidupnya, karena kami sudah bercerai dan aku akan membesarkan anak anak ku sendiri, dia juga tidak pernah bilang untuk ku agar tidak hamil lagi.
"Iya, saya hamil, hamil anak kedua dan sekarang usianya sudah masuk dua bulan" ku alihkan lagi tatapan ku pada wanita yang sepertinya juga sama syok nya dengan suaminya itu.
"kenapa kamu lakukan ini Aya? Kenapa kamu menggugat cerai aku? dan kamu sembunyikan kabar kehamilan mu itu saat perceraian kita berjalan" dahi ku berkerut menatapnya, apa yamg baru saja ia katakan sungguh diluar nalar.
"Anda menyalahkan saya tuan Narendra? anda waras? kepala anda tidak terbentur kan? atau ada yang konslet di otak anda?"
"nyonya Narenda, sepertinya suami anda ini memerlukan perawatan medis, ada saraf di otaknya yang terkilir, sebaiknya anda benarkan posisinya sebelum terlambat" aku melangkah setelah mengatakan hal itu, tapi Zidan masih menahan ku, ia berduri di depan ku dengan tatapan memelas.
"Jangan pergi aku mohon, jangan pergi lagi, kita besar kan anak-anak sama sama, kita rujuk Aya, aku mohon" Aku tertawa sumbang, yang benar saja, dia mengajak ku rujuk, sepertinya otak nya jatuh dari kepala dan sekarang berada di samping jantung makanya ikut bergetar juga.
__ADS_1
"Berhenti bermimpi!" ucap ku ketus semoga dia paham. Aku sedikit terkejut saat tiba-tiba ia mencengkram pergelangan tangan ku.
"Apa yang anda lakukan? Lepas!" pria itu menggeleng. Seberapa kuatnya aku berusaha melepaskan diri, aku tidak akan pernah sanggup. Aku semakin terkejut saat tangan pria brengsek ini menyentuh perut ku.
"Anak ku.... Ada anak papah di dalam nak...." aku membeku, kenapa aku kesulitan bergerak bahkan memberontak, bahkan aku seakan mengharapakan sentuhan itu, aku benci diriku, aku benci perasaan ku yang lemah ini, aku benci menjadi lemah dihadapan pria ini.
"Sayang! Apa yang kamu lakukan" istrinya itu tidak terima saat suaminya mengusap perut wanita lain, apa kabar dengan ku, yang suaminya meniduri wanita lain selama bertahun-tahun lamanya. Karina menarik Zidan menjauh dari ku
Aku tidak ingin lagi ada di antara keluarga Cemara itu, dengan kaki yang gemetar karena sentuhan pria itu, aku tetap berusaha melangakah dengan sedikit menabrak bahunya.
"Inayah" suaranya terdengar nyaring, semoga saja ada satpam yang mengamankan pria itu.
"Inayah, aku nggak mau pisah sama kamu dan anak-anak"
"Setres, kalau nggak mau pisah ya jangan gatal barangnya, aku selalu sabar dengan sikap kamu , aku tidak pernah menutup apapun dari kamu, dan ini balasnya untuk ku" aku bergumam seraya terus melangkah. Jujur aku tak sanggup membendung lagi air mataku. Aku kira aku sudah bisa tanpa dia , nyatanya kau salah, dua belas tahun bukan lah waktu yang singkat untuk ku, dan butut waktu lama juga untuk menyingkirkannya dari dalam hatiku. Waktu dua bulan terlalu singkat untuk menyingkirkannya dari hatiku, melupakan semua kenangan ku dengannya.
"INAYAH ARGGHHH" Ku percepat lagi langkah ku saat teriakan itu terdengar lebih menggelegar.
....
Khansa memasang wajah masam, ia sangat berharap aku tetap tinggal di Jakarta, tapi aku tidak bisa terus berada di kota yang sama dengan Zidan, aku perlu ruang untuk mengobati luka-luka ku, luka yang di sebabkan oleh pria brengsek bernama Zidan itu.
__ADS_1
Aku juga butuh tempat yang tenang untuk membesarkan anak-anakku, dan aku berjanji akan kembali lagi ke kota ini setelah menata hati yang hancur lebur ini dan memulai lagi dari awal, memulai semuanya bersama anak-anakku tanpa ada lagi bayang-bayang Zidan dan keluarganya.