
"maaf" Inayah merubah posisi menjadi membelakangi Tama, ia masih kesal dengan sikap Tama saat di dapur tadi. Tama menggeser posisi tidurnya, merapatkan tubuh mereka dan melingkarkan tangannya di pinggang Inayah.
Tama menggosok-gosokkan wajahnya di punggung Inayah.
"maaf, sayang..." ucap Tama dengan suara di buat-buat manja.
"Tidur mas, aku ngantuk, besok aku mau ke kantor, ada rapat yang nggak bisa di wakilkan" ucap Inayah seraya menyingkirkan tangan Tama dari atas pinggangnya, Tama tidak menyerah ia kembali melingkarkan tangannya di pinggang Inayah, yang membuat wanita itu berdecak kesal.
"bisa lepas dulu nggak si mas, aku masih kesal sama kamu, mood ku lagi nggak baik ini" Inayah bisa rasakan gelengan kepala Tama di belakangnya. Helaan nafas berat Inayah hembuskan.
"terserah" ucap Inayah ketus, ia tarik selimut menutupi tubuhnya hingga leher.
....
Inayah terjaga saat merasakan usapan abstrak di perutnya, ia merasa geli dengan tingkah Tama itu.
"mas..." panggil Inayah dengan suara tertahan, Tama berdehem.
"Geli mas" Tama masih terus mengusap perut Inayah.
"Aku menginginkanmu malam ini Inayah" Inayah memiringkan kepalanya kebelakang.
"mas, aku lagi hamil, jangan Aneh kamu mas"
"Emang kalau hamil Nggak boleh ya?" Inayah memutar matanya jengah.
"kamu aneh mas, kamu kenapa sih, kamu sudah tau aku lagi hamil muda, kamu malah minta berhubungan, aku nggak tau berbahaya atau enggak, tapi aku nggak pernah berhubungan saat hamil Aska dan Ziya dulu" Tama nampak tidak suka dengan apa yang Inayah ucapakan tadi, Inayah dapat melihat perubahan raut wajahnya pria itu
"ya udah maaf, kamu bisa tidur lagi, aku nggak akan minta lagi" Tama memutar tubuhnya, dengan perasaan kesal ia paksaankan untuk tidur. Inayah jadi merasa bersalah, Inayah sadar tidak seharusnya ia mengucapkan hal seperti itu. Inayah menghela nafas, sepertinya mereka berdua butuh waktu untuk menenangkan diri masing-masing. Keduanya nampak tertekan dengan keadaan yang sulit untuk di ungkapkan, hanya mampu di pendam dan berkahir dengan kemarahan dan emosi yang sulit di kontrol.
....
*" Baik sayang, aku tunggu di apartemen"
"hem"* Karina hanya berdehem saja, ia putuskan panggilannya. Karina semprotkan parfum di sekujur tubuhnya, baju seksi terbuka atas bawah kini terpasang ketat di tubuh indahnya. Rambut terurai panjang dan tas kecil dengan harga mewah tidak lupa ia kenakan.
__ADS_1
"mamah mau kemana lagi, jangan tinggalin Nesha sendiri mah, Nesha takut, papah juga nggak ada pulang dari kemarin" Karina mengusap pucuk kepala putrinya.
"mamah pergi sebentar, nanti mamah telpon papah untuk pulang, kamu tunggu di rumah"
"tapi mah" rengek Nesha.
"Jangan rewel Vanesha!" Nesha menunduk takut dengan bentakan Karina.
"kamu pesan apapun yang kamu mau, om Raka kirimkan uang banyak kan untuk kamu?" Nesha mengangguk dengan bibir kecilnya melengkung ke bawah.
"ya udah, kamu pesan apapun yang kamu mau, mamah pergi" kedua bahu anak kecil itu merosot, lagi-lagi ia di tinggal sendiri di rumah.
....
"Dia apain kamu lagi sayang? to brengsek bikin kamu sedih lagi? Iya?" Karina yang sudah setengah sadar akibat pengaruh minuman beralkohol hanya bisa bergumam pelan, Raka mengepalkan tangannya.
"brengsek Lo Zidan! Lo belum puas juga dengan yang kemarin, sepertinya Lo emang ingin lihat makam perempuan itu di gali"
"Raka" gumam Karina, Raka menangkup kedua pipi karima dengan tangannya
"Zidan bilang nggak pernah cinta sama gue, Zidan bilang apa yang selama ini dia lakuin ke gue dan Nesha hanya untuk inayah dan anaknya, Zidan bilang apa yang ia lakukan hanyalah pengorbanan untuk mereka, gue nggak paham Raka, gue nggak ngerti" Raka mengusap air mata yang turun membasahi pipi Karina yang mulai memerah itu, nampak sekali kemarahan di kedua bola matanya.
"gue nggak mau kehilangan Zidan, gue sayang zidan, Lo tau kan Raka, seberapa cinta gue ke dia, gue nggak mau Zidan pergi, gue nggak mau Zidan terus memikirkan perempuan sial itu, gue mau Zidan hanya untuk gue... untuk gue Raka" gumam Karina di tengah kesadarannya yang hampir menghilang sempurna.
"Kamu tenang aja sayang, aku nggak akan biarin Zidan hidup bahagia, dia akan merasakan apa yang kamu rasakan sekarang, pria itu akan kehilangan cintanya, dan kamu akan menjadi istirnya satu-satunya, kamu tenang aja sayang, aku janji sama Kamu " Karina kesulitan mengangkat kepalanya, terlalu berat rasanya, sampa akhirnya Raka mengangkat tubuhnya untuk di pindahkan ke tempat tidur.
Raka lepas sepatu hak tinggi yang wanita itu gunakan, ia buka lemari besar di belakangnya dan meraih setelan tidur wanita dari dalam lemari.
Raka mendudukkan diri di pinggiran ranjang, ia rapikan rambut Karina yang lepek karena air mata.
"Aku janjian sayang, aku janji sama kamu, Zidan akan menjadi milik mu satu-satunya, aku akan buat Zidan menyesal karena sudah menyakiti kamu, aku akan lakukan segala cara agar kamu bahagia dengan Nesha, sayang, aku janji sama kamu, aku janji" Raka mencium kening Karina lama.
....
Di kantor, Inayah nampak melamun, pulpen di jarinya ia putar-putar, inayah mengabaikan layar laptop yang kini mulai meredup karena di abaikan.
__ADS_1
"Kayanya aku keterlaluan deh, nggak seharusnya kau semarah itu ke Tama, aku bisa ngomong ke dia baik-baik, bukan dengan cara membentak" pulpen di tangannya kini terlepas, Inayah melirik jam di pergelangan tangannya, sudah waktunya makan siang.
"apa aku temui aja dia dan ajak maka bareng, gimanapun aku juga salah di sini" Inayah menggangguk, ia bereskan barang-barangnya setelah memutuskan ingin menemui Tama di kantornya.
di tempat lain, Tama pun merasakan hal yang sama dengan sang istri, pria itu nampak prustasi, dua kancing kemejanya kini terbuka, rambutnya tidak serapi biasanya, wajahnya terlihat kusut.
"Raka" gumam Tama, dan kemudian berdecak.
"Kenapa jadi serumit ini sih, gue kira masalah akan selesai kalau gue nikahin Inayah, Raka akan tenang, tapi pria gila itu justru datang lagi, CK" Tama mengusap wajah kasar.
" gue nggak mau pria sinting itu melukainya"
"Inayah dalam bahaya, gue nggak bisa berbuat apa-apa" Tama membuka laci kerjanya, di laci itu, ia menyimpan sebuah bingkai kecil seorang wanita. Tama tersenyum seraya mengusap bingkai kecil itu.
"Sayang... aku kangen kamu, apa kamu di sana baik-baik aja Naila. Apa orang-orang itu menyakiti kamu? Hm? Aku nggak akan berbuat sesuatu yang bisa mencelakai kamu, sayang, aku janji akan bebaskan kamu secepatnya, aku janji" Tama mencium bingkai foto Naila, istri pertamanya. Tama peluk bingkai foto itu untuk menyalurkan rasa rindunya yang teramat menyiksa.
"Assalamualaikum, mas Tama " Tama membuka mata, terkejutnya ia melihat Inayah yang kini berjalan ke arahnya.
"Inayah" Inayah tersenyum, ia terlihkan pada bingkai kecil yang Tama peluk, sadar dengan pandangan mata Inayah ke arah bingkainya, dengan cepat Tama memasukkan kembali bingkai itu ke dalam laci. Pria itu berdiri dan menghampiri sang istri.
"Sayang, kenapa?" Tama mengarahkan Inayah untuk duduk di sofa nya, meskipun Inayah masih penasaran dengan bingkai kecil itu, tapi Inayah tidak ingin ambil pusing, tujuannya datang ke kantor Tama untuk meminta maaf, buhannya overtingking.
Inayah langsung memeluk Tama.
"aku mau minta maaf sama kamu mas, soal tadi malam, nggak seharusnya aku kaya gitu ke kamu" Tama mengusap kepala Inayah
"Mas juga mau minta maaf, nggak seharusnya mas kaya gitu ke kamu" Inayah menggangguk, ia mengurai pelukannya.
"mas sudah makan siang?"
"belum, kamu?" Inayah menggeleng
"aku datang buat Sekalian ngajak kamu makan siang mas" Tama menyatukan jari-jarinya dengan Inayah.
"ayo makan"
__ADS_1
"ayo"