
Setelah makan, Aska menemani aku mencuci piring, Aska sudah lebih tenang sekarang, aku akan segera bereskan cucian piringku dan menidurkan Aska, Aska sudah mengantuk sekali.
"Mamah, Aska ngantuk"
"iya sayang, sebentar ya, mamah bereskan ini dulu"
Cepat-cepat aku selesaikan, saat aku mengeringkan tangan dan berbalik, Aska sudah tidur dengan kepala berada di atas meja makan. Aku angkat anak ku untuk di pindahkan ke kamarnya, saat di tangga aku berpapasan dengan Zidan yang juga ingin turun.
Matanya sepertinya baru bangun tidur, mungkin Zidan haus dan persediaan air di kamar habis, aku menunduk melewatinya, aku benar-benar masih marah dengan sikap Zidan tadi, begitu juga dengan Zidan yang tidak mengatakan apapun, semakin hari aku merasa zidan semakin asing saja.
Ku letakkan Aska yang sudah tidur nyenyak di atas tempat tidurnya, lampu kamar ku matikan, tidak ada niat untuk ku pindah ke kamar depan, anggap aja ini bentuk protes ku pada Zidan.
...
Entah sekarang jam berapa, aku terbangun karena merasakan geli di bagian perut ku, aku memicingkan mata untuk memastikan apa yang terjadi.
"maaf" aku hembuskan nafas berat, itu Zidan, hembusan nafasnya tepat mengenai kulit leherku.
"masih marah ya" aku sebenernya ingin berteriak di depan wajah zidan sekarang, aku ingin memakinya, aku ingin mempertanyakan perubahan sikapnya yang semakin hari semakin asing menurutku. Aku benar-benar geli.
Tangan Zidan masuk kedalam baju tidur yang aku kenakan, bergerak abstrak di dalam sana, belum lagi hembusan nafasnya.
" Zidan awas ah, geli" ku rasakan gelengan dari Zidan.
"Sana masuk kamar, sempit" aku beralasan, padahal kasur Aska besar, dan cukup untuk kamu bertiga.
"sama kamu" aku memutar mata jengah.
"aku tidur di sini"
"ya udah aku tidur di sini juga" aku menahan tangan Zidan yang ingin bergerak lebih nakal di dalam bajuku, aku geli dengan tingkah Zidan ini.
__ADS_1
"Zidan ah, jangan, geli"
"makanya kita pindah, yo"
"nggak, aku mau di sini, kamu aja sana"
"ya udah, aku juga di sini aja" aku takut Aska bangun dengan perdebatan kami, Zidan akan terus memaksa jika tidak di turuti, aku bangun, ku kecup singkat kening anakku, meninggalkan Zidan.
Di dalam kamar, aku langsung tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuh ku, aku malas berdebat.
Zidan ikut naik, dan menurunkan sedikit selimut dari wajah ku.
"Jangan tidur dengan selimut yang seperti ini, kamu kesulitan bernafas" ucap Zidan dan kemudian tidur di tempatnya, lengan Zidan kini menindih perutku, Zidan juga menggosok-gosok wajahnya di tengkukku.
"maaf, aku nggak maksud ngomong gitu"
"tidur, sudah malam" aku berucap ketus.
"kamu belum bilang iya" menyebalkan sekali pria satu ini, sudah bikin sakit hati, sekarang maksa sampai mati.
"iya apa?"
"Iis, tidur Zi, aku ngantuk" Zidan membalik tubuh ku menghadapnya, aku tidak ingin menatapnya. Siapa yang tidak sakit hati coba, ada seorang ayah yang terus-terusan mempertanyakan anak nya sendiri, apa dia menganggap ku hamil dengan pria lain, aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih, bukan hanya aku yang kecewa, Aska juga, tega sekali Zidan pada kami berdua.
"sayang" panggil Zidan dengan suara lembutnya.
"kamu ko semakin hari semakin asing Zi?" aku beranikan diri untuk bertanya, ku cari kebohongan dari pandangan mata Zidan, Zidan diam tidak mengatakan apapun.
"ada yang kamu sembunyiin dari aku ya, Zi?"aku usap wajahnya yang hanya diam.
"kamu semakin hari semakin aneh, aku seperti kehilangan sosok Zidan ku yang dulu, sosok zidan yang bahkan tidak pernah sekalipun meninggikan suaranya padaku. Zidan yang tidak akan pernah terbesit untuk bersikap kasar dengan ku..." aku tidak tahan untuk tidak menangis di hadapan Zidan, terlalu sesak rasanya menahan perubahan sikap Zidan yang semakin hari semakin aneh saja.
__ADS_1
"aku kan sudah minta maaf dengan masalah kita empat tahun yang lalu, aku sudah mohon ke kamu Zi, aku sudah berhenti dari kantor itu, mengubur impian ku, aku sudah lakukan semua untuk kamu. Tapi kamu kenapa semakin jauh. Aku salah apa Zi, katakan, biar aku bisa berubah, tapi jangan kaya gini, kamu nyakitin aku juga anak kita " ku tutup wajahku dengan kedua tangan, aku terisak di hadapan Zidan, ku rasakan Zidan menarik ku masuk ke dalam pelukannya, tangan Zidan mengusap punggung ku.
"aa--aku nggak minta banyak ko sama kamu, Zi, aku cuman mau kamu kaya dulu lagi, sayang aku, selalu ada saat aku butuh, nggak marah-marah, nggak bentak aku, peluk aku kalau aku sedih, menghargai apa yang aku buatkan untuk kamu dengan susah payah"
"kamu kenapa sih Zi, kamu berubah, kamu sudah nggak cinta aku, ya. Kamu benci aku sampai tega ngomong kalau Aska bukan anak kamu, kamu tuduh aku hamil dengan pria lain, kamu ko tega banget si Zi, ngomong gitu" aku kesulitan bicara karena dadaku Sesak, tangisan yang aku tahan semua tumpah di hadapan Zidan.
Zidan tidak mengatakan apapun, Zidan diam saja dan terus mengeratkan pelukannya.
"Aska itu loh anak kamu Zi, Aska buah cinta kita selama dua belas tahun, kamu ko tega banget mempertanyakan kehadirannya. Kamu tau aku sayang banget sama kamu, aku rela bantah kata-kata ibu sama ayah demi tetap nikah sama kamu, dan Sampai sekarang aku belum pernah menghubungi orang tuaku karena mereka masih marah, aku korbankan semuanya agar bisa hidup sama kamu, Zi"
"maaf" hanya satu kata itu saja yang terus terulang dari mulutnya. Aku ingin mendengar penjelasan yang lebih panjang lagi, jika aku salah aku ingin tau di mana letaknya, di mana letak yang tidak ia sukai, agar aku bisa berubah seperti apa yang dia mau.
"aku sayang kamu, aku sayang anak kita, aku cuman terpancing emosi, maafkan aku, maaf" mendengarkan apa yang dia katakan kenapa justru membuat ku semakin menangis. Ku lingkarkan tangan ku di pinggangnya walaupun sulit, aku menangis di dalam dekapannya, mungkin sekarang baju yang Zidan pakai sudah basah karena air mata ku.
"Terus kenapa kamu sampai marah segitunya, aku sudah masak makanan kesukaan kamu, aku sama Aska tunggu kamu pulang biar kita bisa makan sama-sama, tapi kenapa respon kamu malah kaya gitu sih?" aku masih terisak, air mataku juga masih turun
"di kantor banyak kerjaan, aku pusing, maaf karena sudah menjadi tempat pelampiasan emosi aku"
"udah ya, jangan nangis lagi" Aku mengangkat kepala menatapnya, entah kenapa Zidan justru tertawa dan mencium bibir ku singkat.
"kenapa jadi ketawa, apa yang lucu?"
"kamu lucu banget sayang, bibir maju, mata merah gitu, gemesin tau nggak "
"ih, nyebelin banget " aku memukul-mukul dadanya kesal, orang lagi sedih malah ketawa, apa yang lucu coba.
"hus, nanti Aska bangun" benar juga, ini sudah tengah malam, Zidan tersenyum penuh arti menatap ku, aku tau betul tatapan mesum ini.
"apa"
"main yuk, dah lama kita nggak main "
__ADS_1
"kalau aku nggak mau, kamu marah Nggak?"
"nggak, aku juga nggak mau maksa kamu" mana tega aku menolak permintaan Zidan, aku mengangguk, Zidan tersenyum dan bergegas turun mengunci Kamar, mungkin malam ini kami akan tidur begadang lagi, dan semoga saja besok tidak kesiangan bangunnya.