Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Om Zidan


__ADS_3

"Zi, nggak ada yang kamu sembunyikan dari aku kan" aku sungguh tidak tahan menyimpannya sendiri, sudah cukup lama aku menahannya, tapi semakin lama pula aku tersiksa, terus berpura-pura tidak terjadi apa-apa, berpura-pura biasa saja, padahal penuh tekanan.


Tangan Zidan berhenti mengetik, ia diam sesaat, setelah itu kepalanya terangkat, ia menatapku dingin, tatapan tidak suka atau tatapan apa itu aku tidak mengerti.


"ada yang kamu sembunyikan dari aku, Zi?" aku mengulang pertanyaan, berusaha sekuat mungkin untuk terlihat biasa saja, padahal sudah sangat tersiksa dengan perubahan sikapnya yang semakin keterlaluan, semakin kasar.


"kamu ngomong apa?" Zidan berucap dingin terlihat begitu santai sekali.


"aku merasa ada yang kamu sembunyikan, Zidan. Ada sesuatu yang aku nggak tau tentang kamu. Kamu nggak macam-macam kan di belakang aku?" kini tangan ku bergetar, ada rasa takut yang mulai menyerang, takut Zidan marah, tatapan Zidan tidak berubah, tetap dingin dan tajam. Secara tiba-tiba Zidan menutup laptopnya dengan kasar, Zidan terlihat tidak suka sekali dengan pertanyaan ku.


"Bersihkan mulut Aska, kita pulang" tanpa menjawab dulu, Zidan berdiri dari duduknya, aku pun sudah kehabisan stok sabar, ku tahan pergelangan tangan nya, tapi berhasil membuat Zidan semakin murka.


"lepas bangsat!" bentak Zidan dengan kata-kata yang begitu kasar, aku tersenyum miring menatapnya.


"ternyata benar, ada yang kamu sembunyikan dari aku, ada yang aku nggak tau tentang kamu" ucap ku menahan, Zidan menatap aku begitu sinis, ia melangkah mendekat, aku kira Zidan akan menampar lagi, tapi ternyata tidak, ia buang dengan kasar eskrim yang masih ada di tangan Aska, kemudian ia gendong Aska. Sedikit sulit, karena di tangan yang sama, Zidan memegang laptopnya, sedangkan satu tangan yang lain, Zidan gunakan untuk menarik pergelangan tangan ku.


Aku tidak memberontak, menurut saja, saat Zidan memaksa aku masuk ke dalam mobil.


"dua Minggu tanpa kabar sama sekali, walaupun sudah aku katakan Aska di rawat di rumah sakit, nggak ada niatan sama sekali kamu menghubungi aku untuk sekedar menanyakan kabar Aska. Kamu tau Zi, betapa takutnya aku saat itu, aku nggak punya siapa-siapa di kota besar ini kecuali kamu. Semua pesan yang aku kirim kan tidak ada satupun kamu balas, padahal pesan-pesan itu sudah terbaca. Siapa yang membaca pesan yang aku kirim ke hp kamu, Zi, siapa?" aku memalingkan wajah menghadapnya, aku melirik pegangan tangannya di setir mobil yang semakin mengerat, sorot matanya begitu tajam.

__ADS_1


"aku sudah katakan kalau aku ke kampung halaman, aku pusing terus memikirkan kamu di rumah, aku putuskan untuk rehat sejenak di rumah orang tuaku. Sama seperti pesan sebelumnya, pesan itu hanya terbaca saja, tapi kenapa saat aku pulang kamu bisa semarah itu, kamu marah karena aku yang pergi tanpa minta ijin dulu" ucap ku lagi, Zidan masih terus saja diam, aku berbalik sebentar melihat Aska, anak ku asik dengan mainannya, ia belum sadar dengan pertengkaran dingin orang tuanya.


"sikap kasar kamu, sikap dingin kamu, omongan kamu, semuanya aku tidak kenal itu, Zidan yang aku temui dulu bahkan tidak pernah tega meninggikan satu oktaf saja nada suaranya di hadapanku"


"diam Inayah" suara Zidan dingin mengintimidasi, aku tidak gentar sama sekali, sudah terlanjur juga, jika Zidan ingin marah, silahkan, aku tidak akan memaksanya untuk terus diam.


"Kamu bahkan tega menyakiti anak kita" aku memekik saat tiba-tiba Zidan membanting setir ke pinggir jalan.


"DIAM BANGSAT!!" deru nafas Zidan memburu, aku membalas tatapan sengitnya itu, Zidan mencengkram wajahku dengan kasarnya, Aska yang sudah sadar pun histeris di belakang, Aska menahan pergelangan tangan Zidan.


"lepaskan mamah Aska, lepas, mamah kesakitan, lepas, lepasin mamah Aska, lepas, lepas om, lepas, kesian mamah Aska om Zidan " kami secara bersamaan menatap Aska yang sudah merah padam wajahnya, matanya berembun.


"jangan pukul mamah Aska om, jangan pukul mamah Aska, Aska janji sama om, Aska nggak akan minta di gendong lagi, Aska nggak akan manja lagi sama om Zidan, Aska nggak akan panggil om papah lagi, Aska janji om" perlahan cengkraman tangan Zidan mulai melunak, kami terus memandangi Aska. Sakit sekali mendengar anak ku memanggil papahnya sendiri dengan panggilan om, sebegitu asing anak ku dengan papahnya sendiri. Papah yang sekarang meragukan darah yang mengalir di tubuh Aska, aku tak kuasa menahan tangisan ku, aku kembali duduk dan membuang pandang ke arah luar.


"duduk Aska" perintah Zidan tegas, tapi Aska tidak menurut


Akhirnya aku yang berucap "duduk nak" Aska menurut dan duduk kembali, aku masih mendengar tangisannya.


"kamu dengar Zi, anak kamu sendiri, darah daging kamu sendiri, anak kita memanggil kamu dengan sebutan om, bukan papah, ini kan yang kamu, ini kan yang kamu inginkan, perpecahan keluarga kita, trauma menakutkan di kepala Aska"

__ADS_1


"kamu selalu aja bilang kalau anak ku itu bukan darah daging kamu, miris" aku menyunggingkan senyum, tangan ku lipa di depan dada, pandangan ku arahkan ke arah luar jendela.


"om Zidan" ku rasakan tangan Zidan yang berusaha menggenggam tangan ku, pria itu berusaha meluluhkan kemarahan ku, rasa sabar ku sudah ada di ambang batas, aku tidak masalah sebenarnya jika Zidan menamparku, tapi aku benar-benar tidak bisa terima saat putraku juga ikut terluka.


"sayang" Zidan memanggil dengan suara lirih.


"maaf" Kini tangan ku sudah ada di genggamannya, aku masih enggan menatapnya.


"sayang"


"Jangan minta maaf sama aku, minta maaf sana sama anak mu itu. Aska ketakutan sama Papahnya sendiri, cari cara agar anak mu itu mau manggil papah lagi" semoga saja Zidan bisa mengerti maksud kemarahan ku. Mobil itu hening kembali, tidak ada yang ingin memecahkan keheningan hingga mobil Zidan sudah berada di depan rumah, aku segera turun dan juga menurunkan Aska.


"Inayah" aku tidak menghiraukan panggilannya, suara Zidan mulai meninggi.


"sayang"


"Inayah" aku masih bisa mendengar erangan Zidan meski aku sudah ada di ambang pintu. Siapa yang tidak kesal coba, anak ku sampai biru badannya gara-gara dia. Jika boleh jujur, aku mencurigai Zidan, aku curiga Zidan menyalakan Api di rumah tangga kami. Pintu rumah aku tutup rapat, aku mengintip di jendela, Zidan terlihat menunduk, mungkin merasa bersalah. Aku menunggu sampai Zidan pergi, tapi nyatanya bukannya pergi, Zidan justru turun dan membuka pagar rumah, aku bergegas naik ke lantai dua, sepertinya Zidan tidak akan kekantor, ia masukkan mobil ke pekarangan rumah.


"mah, om Zidan jahat"

__ADS_1


"papah, nak" Aska menggeleng.


"itu om, bukan papah!" bentak Aska marah.


__ADS_2