
"kita mau kemana si, Sha?" remaja dengan rambut pendek itu tidak juga kunjung menjawab pertanyaan sahabatnya, ia terus saja menarik paksa tangan sang sahabat, sedangkan gadis remaja dengan rambut panjang di ikat setengah bagian atasnya hanya bisa pasrah.
"Sha, ngapain ke sini sih, kita baru kelas satu, ini mah khusus buat yang sudah kelas tiga" Inayah muda yang saat itu masih berusia lima Belas tahun berusaha melepaskan cengkraman tangan Khansa, tapi tidak semudah itu, Khansa terus menahan Inayah untuk tetap berdiri di sampingnya.
"kita cuci mata, Aya. tuh lihat" Khansa menjeda Kalimatnya, ia tunjuk para mahasiswa dan mahasiswi dengan jas Almamater kampus yang sedang mempromosikan kampus mereka.
"mereka ganteng-ganteng banget, apa lagi yang megang mik, argghh senyumannya itu loh... Bikin meleleh jantung para wanita" Inayah geleng-geleng kepala melihat kelakukan sahabatnya.
"Ada yang kurang jelas, jangan sungkan untuk bertanya" suara berat dari pria tinggi yang begitu di kagumi Kansa berhasil membuat atensi Inayah teralihkan.
"Sha" panggil Inayah
"kenapa?"
"yang pegang mik siapa namanya?"
"Zidan Fadillah Narendra" ucap Kansa, tanpa mengalihkan fokusnya sama sekali. Inayah yang tadi menolak keras saat Kansa mengajaknya ke Aula, malah ikut terhipnotis dengan Mahasiswa berkarisma dengan tatapan dingin bernama Zidan.
Inayah dengan cepat membuang wajahnya ke arah samping saat tatapannya beradu dengan Zidan.
"manis banget senyumnya" gumam Inayah yang di sadari oleh Khansa. Khansa menoleh pada Inayah.
"tadi nggak mau di ajak ke Aula, sekarang nggak mau berhenti melirik ka Zidan" Khansa memutar matanya malas, sedangkan Inayah hanya menyunggingkan senyum.
....
"permisi" Inayah sedikit menoleh, kini jantungnya berdebar tidak karuan, buku di tangan yang Inayah pegang hampir saja lepas.
__ADS_1
"i--iya ka, ada apa ya?" jelas sekali kegugupan dari gadis muda bermata sayu itu. Bukannya menjawab, Zidan muda justru menjulurkan tangan.
"perkenalkan, saya Zidan, Zidan Fadillah Narendra" Inayah mati-matian menahan agar pria di depannya ini tidak menyadari kegugupannya, semoga saja. Inayah julurkan juga tangannya.
"saya Inayah ka, saya murid kelas sepuluh" Zidan mengangguk pelan, dengan sesekali menatap sekitar.
"ada aka ya ka? ada yang bisa saya bantu?" Zidan menarik kursi dihadapan Inayah untuk ia duduki.
"gini, saya mau nanya beberapa hal tentang sekolah ini, boleh?"
"iya ka, silahkan tanya aja, saya akan bantu jawab sebisa saya" mengalir lah obrolan keduanya, obrolan yang akan berujung dengan hubungan panjang dan berakhir dengan pernikahan, mana mereka berdua tau, jika takdir mempertemukan mereka dengan cara seperti ini.
Bel yang berbunyi membuat Inayah bergegas berdiri, ia rapikan buku-bukunya ke dalam tas jinjing yang ia bawa.
"ka, saya duluan masuk ya" tanpa menunggu jawaban dari Zidan, Inayah melenggang begitu saja, Inayah itu murid yang teladan dan pintar, ia takut sekali berbuat kesalahan dan mengecewakan kedua orang tuanya yang ada di kampung halaman. Baru beberapa langkah, pergelangan tangan Inayah di cekal. Zidan merasa bersalah karena main pegang saja.
"ma--maaf, saya nggak maksud pegang kamu" ucap Zidan merasa tidak enak. Keduanya terlihat salah tingkah.
"itu, boleh minta nomor hp kamu, biar saya kalau ada pertanyaan nggak susah mau tanya ke siapa" Inayah yang buru-buru langsung saja menyambar ponsel Zidan, Inayah ketikan nomor ponselnya di sana, Inayah berikan lagi ponsel itu kepemilikannya.
"maaf ka, saya buru-buru, kalau ada perlu langsung chat saja" Inayah sudah berlari menuju kelasnya, sampai ia lupa membawa satu bukunya. Zidan tersenyum puas setelah mendapatkan nomor Inayah, pandangnya teralihkan pada buku bersampul biru muda di atas meja.
"apa ini miliknya" tiba-tiba saja muncul ide di dalam benak zidan, tanpa pikir panjang, zidan memasukkan buku itu kedalam tasnya, buku ini akan menjadi penyebab pertemuan selanjutnya lagi dengan inayah, gadis cantik yang pencuri perhatiannya pada pandangan pertama.
....
Inayah POV
__ADS_1
"mama" terdengar teriakan Aska samar-samar bersamaan dengan langkah kaki kecilnya di anak tangga. Aska itu kebiasaan, suka sekali berlarian di tangga.
"Aska kenapa suka sekali lari sih nak, kalau kakinya tergelincir kan Aska yang sakit nak" ku kira itu Aska, karena aku tidak melihat kebelakang, hanya mendengar suara kaki yang perlahan mendekat, tapi kemudian tangan kekar melingkar di pinggang ku yang sibuk dengan piring, ternyata bukan Aska melainkan Zidan.
"Zidan" Zidan menumpukan kepala di pundak ku.
"Hem, ini aku bukan Aska"
"lepas Zi, nanti Aska lihat, nggak enak dilihat anak sendiri pelukan kaya gini" ku rasakan gelengan Zidan di pundak ku.
"Zidan, lepas sayang"
"nggak mau, biar aja Aska Lihat, biar anak kita tau kalau papahnya sayang mamahnya, sayang banget malahan, kalah perlu... Aska juga harus tau, kaya gimana susah Papahnya mengejar cinta mamahnya dulu" ku sikut perut Zidan kesal.
"jangan aneh-aneh kamu Zi, anak mu itu masih kecil, mana dia ngerti sama hal-hal kaya gitu, jangan mencemari otak anak ku dengan hal-hal seperti itu" Zidan tertawa pelan, bukannya melepaskan pelukannya, zidan malah semakin mengeratkan tangannya di pinggang ku.
"ma--mah" dengan cepat ku singkirkan tangan zidan dari pinggangku, aku tidak peduli dengan tangan ku yang penuh dengan busa cucian piring.
"iya nak, kenapa sayang" Aska melirik papahnya takut-takut, pasti ada yang ingin anak ku katakan, tapi melihat papahnya ada di sana ia jadi tidak berani. Zidan sepertinya mengerti dengan apa yang Aska rasakan, haruslah! kan dia yang sudah membuat anak ku jadi seperti melihat setan setiap ia bertemu dengannya. Zidan menyamakan tingginya dengan Aska, meraih tangan Aska untuk di genggam.
"Aska takut sama papah nak" Aska diam saja, ia seperti meminta pertolongan padaku dengan tatapan melasnya itu.
"Aska" walaupun takut Aska palingkan wajahnya menatap Zidan.
"Aska takut sama papah" tangan yang masih berbusa ku bilas dulu dan ikut merendahkan diri di hadapan Aska, Zidan menoleh sesaat padaku.
"Aska mau apa nak, hem?" Aska menggeleng, ia masih ketakutan meskipun sudah hampir satu minggu Zidan berusaha mendekatkan diri padanya.
__ADS_1
Aska melepaskan dirinya dan berlari lagi entah kemana. Ku hela nafas berat, entah sampai kapan Aska terus menyimpan rasa atrauma pada papahnya sendiri, ini lah sebabnya aku selalu marah saat Zidan bersikap kasar di hadapan Aska, atau lebih parahnya membentak Aska. Semua itu menjadi trauma bagi anak ku dan akan sulit untuk menyembuhkan trauma itu. Walaupun pada akhirnya nanti Aska mulai dekat lagi dan memanfaatkan papahnya, tapi ingatan tentang sang papah akan selalu tersimpan rapi di dalam kepalanya.
"Aska masih perlu waktu, Zi"