
"Makasih mbak" Akhirnya aku bisa menikmati minuman segar ini, aku duduk di depan untuk minum sebentar sebelum kembali menemui anak-anak dan suami ku, aku juga memesan kue coklat untuk teman minum.
Aku tau dia pasti kawatir karena aku belum kembali, dengan segera ku angkat telpon.
"Iya mas, kenapa?" sudah tau sebenarnya kenapa dia menelpon, masih aja tanya, hahaha anggap aja basa basi
"kamu ko belum balik, di mana? biar aku susul" tuh kan bener, dia khawatir, seneng banget deh di kawatirin kaya gini, sebelumnya nggak pernah sama mantan suami, pernah sih sebelum dia main belakang. Ah nggak usah di bahas lagi masa lalu itu, terlalu menyedihkan.
"nggak usah mas, kamu di sana aja temanin anak-anak main, aku lagi duduk sambil makan kue coklat" ku kirimkan foto Selfi agar dia percaya.
"Masyaallah istriku cantiknya" Blus, mungkin sekarang pipi ku sudah bersemu merah. Tama selalu saja memuji ku dengan sebutan cantik, apa dia tidak merasa bersalah karena sudah membuat jantung ku berdetak tidak berdaya.
"Hehehehe, nggak usah di susul ya mas, aku mau nikmatin ini dulu baru kesana, kamu jagain anak-anak aja di sana" Tama mengirimkan foto anak-anak yang sekarang sedang bermain lempar bola, mereka nampak begitu bahagia.
"ya udah, kamu hati-hati di sana, kalau ada apa-apa langsung kasih kabar" ku kirimkan lagi foto dengan senyum lebar, dengan emoticon jempol dan love.
"Ya Allah, sungguh indah ciptaan mu, semoga saja anak ku nanti mewarisi faras menawan ibunya, Amin" Lagi dan lagi, Walaupun sudah sering, tapi aku belum terbiasa, biasalah tidak pernah di puji sebelumnya, sekali lagi ku tekankan, pernah sebelum perempuan gatal merusak rumah tangga ku.
"Ya udah mas, kamu lanjut liatin anak-anak, aku mau makan dulu, kayanya aku mau pesan satu kue lagi deh, ini enak banget soalnya, nanti aku bungkusan juga buat Kalian"
"baiklah istriku tercinta" aku tersenyum malu-malu, seperti anak muda yang sedang kasmaran saja, dasar aku ini, Kalau sudah bucin seperti orang bodoh saja.
"Masih pengen" aku kembali memesan satu kue coklat, aku jadi banyak makan akhir-akhir ini, lebih banyak makan dan lebih sering muntah juga.
"Sayang, Kita makan siang di sana aja"
__ADS_1
"bisa nggak sih kalau di luar jangan panggil sayang!" sepertinya aku mengenal suara itu.
"Karina " Aku menoleh, dan benar saja itu Karina, tapi siapa pria berjaket hitam itu, dia bukan Zidan, siapa dia, sayang? Sepertinya Karina menyadari kehadiran ku di dekat mereka, wajahnya langsung berubah panik.
"I--inayah " aku tersenyum tipis padanya, sebenarnya aku ingin mengutuknya, Wanita ini yang sudah menghancurkan rumah tangga ku, tapi tidak sepenuhnya salah dia, Zidan sendiri yang mempersilahkan dia masuk ke rumah tangga kami, dan mendapatkan dukungan penuh keluarganya. Jika di ingat-ingat, aku serendah itu ya dulu di hadapan mereka.
"Lo--dari tadi" aku mengangguk dan kembali membelakanginya, aku tidak ingin berlama-lama menatapnya, tapi jujur aku penasaran dengan pria yang bersamanya itu, siapa dia, apa hubungannya mereka dekat.
"******sayang******..."
Aku tidak tau apa yang terjadi di belakang, tapi sepertinya inayah meninggalkan pria itu, makanya si pria itu memanggilnya. Ku angkat bahuku acuh, apa peduliku, benar-benar tidak penting sekali. Ku habiskan makanan ku, aku ingin segera menemui keluargaku, aku takut Tama kawatir yang berlebihan jika aku lebih lama lagi.
....
Author POV
"Zidan!" kali ini Karina menarik kasar baju kaos yang pria itu kenakan, yang membuat Zidan berdecak kesal, tapi ia tidak katakan apapun, Zidan hanya melirik sekilas Karina dan pergi menjauh.
"Zidan!" kali ini Karina menarik kasar pergelangan tangan Zidan.
"Apa sih! aku tuh capek, bisa nggak jangan ngajak ribut!" ucap Zidan dengan nada tinggi.
"Zidan, aku ini istri kamu, sudah bertahun-tahun kamu kaya gini, mau sampai kapan, hah! Mau sampai kapan Kamu kaya gini!" bentak Karina.
Zidan kembali melangakah, ia ingin menghindari perdebatan tidak berujung itu.
__ADS_1
"Zidan! Kembali Karina menahan pergelangan tangan Zidan.
"Lepas BRENGSEK!" Karina sampai mundur kebelakang saat Zidan melepaskan tangannya dengan kasar.
"Lo tanya gue akan sampai kapan bersikap kaya gini? Hah? iya? Gue akan kaya gini seumur hidup gue? gue akan terus di hantui dengan penyesalan seumur hidup gue? gue akan tetap hidup dengan rasa bersalah KARINA!"
Zidan melempar kursi yang ada di sampingnya kesembarang arah. Dia lelah seharian mencari pekerjaan, pria itu benar-benar sudah kehilangan harta yang ia dan keluarganya banggakan, sudah tidak ada lagi yang bisa di pertahankan, Zidan pontang-panting memasukkan lamaran dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain, tidak ada satupun yang ingin menerimanya, bukan tanpa alasan mereka menolak, di lihat dari kasus perusahaannya yang tertimpa skandal penipuan yang membuat Zidan di tolak bekerja di berbagai perusahaan yang ada. Semakin hari pria itu terlihat semakin tinggi terurus, di lihat dari rambut-rambut halus yang memenuhinya wajahnya.
"SAMPAI MATI PUN LO AKAN MELIHAT SOSOK ZIDAN YANG GILA INI, KARINA!"
"LO NGGAK AKAN BISA TEMUKAN ZIDAN YANG DULU, KARENA ZIDAN YANG DULU SUDAH MATI BERSAMA CINTANYA, KARINA!
"CINTA GUE SUDAH MATI KARINA, INAYAH PERGI MEMBAWA HIDUP GUE BERSAMANYA! DAN YANG LO LIHAT SEKARANG HANYALAH PERASAAN BERSALAH!"
"JADI BERHENTI BERHARAP LAGI DENGAN GUE, LO BISA PERGI KARINA, LO BISA PERGI!"
"KENAPA KAMU MASIH TERUS MEMPERTAHANKAN RUMAH TANGGA KITA KALAU DI KEPALA KAMU ITU HANYA ADA INAYAH, ZIDAN? KENAPA ZIDAN?" Karina tidak kalah tinggi juga
"GUE BERTAHAN KARENA NESHA, NESHA YANG GUE NGGAK TAU ITU ANAK SIAPA"
Karina nampak memundurkan langkahnya, ucapan Zidan barusan sunggah nyata di pendengaran, Zidan menyebut mengenai Nesha. Zidan tertawa setelah mengucapkan kalimat itu, pria itu melangkah mendekati Karina.
"Gue bukan orang bodoh yang bisa Lo jebak Karina, gue bodohnya karena kecemburuan gue dulu, gue tau Nesha itu bukan darah daging gue, Lo sudah menjebak Gue, gue nggak sebodoh itu. Gue tau Lo nggak pernah hamil dengan gue, gue tau Nesha bukan anak gue, gue hanya nggak mau Lo malu, tapi Lo JUSTRU! semakin menekan gue untuk bertanggung jawab atas kehamilan Lo itu, dan bodohnya gue disini, gue menikahi Lo untuk melampiaskan kemarahan gue, gue cari kesenangan dengan menikahi Lo untuk melupakan rasa cemburu gue dengan Inayah, wanita yang gue sayangi seumur hidup gue. LO ITU HANYA PELAMPIASAN KARINA! HANYA PELAMPIASAN!"
Brak !!! Zidan menoleh, di lihatnya Dewi yang sudah terkapar tidak berdaya di depan pintu.
__ADS_1
"mamah!" jerit Zidan segera menghampiriku Dewi.