
Alhamdulillah, Aska di ijinkan pulang setelah hampir satu Minggu di rawat, aku senang sekali melihat malaikat kecilku kembali bisa tertawa puas dan banyak bicara, cerewet seperti biasanya.
Aku sudah rapikan semua barang-barang Aska ke dalam tas. Aska duduk bermain di atas tempat tidur dengan kaki bersila, infusnya baru saja dibuka beberapa menit yang lalu. Aska minta di garuk tangannya setelah kasa yang melilit tangan putraku di buka, Aska terus bilang, gatal, mungkin kelamaan di perban tangannya.
Aku tersenyum saat mendengar Aska mengajak robot dengan kepala yang bisa mengeluarkan senter ia ajak bicara layaknya teman sesuainya. Kenapa lucu sekali mendengar ocehannya, ya Allah, aku tidak ingin melihat putraku sakit lagi, hancur lebur perasaan ku saat putra ku merintih kesakitan, mengamuk meraung-raung karena si perawat tidak bisa menemukan titik yang pas untuk memasukan jarum infus ke tangannya.
Aku keluar sebentar untuk menebus obat, setelah sepuluh menit aku kembali. Aku sudah menelpon taksi yang akan membawa ku ke bandara dan terbang ke kota kelahiran ku, Kalimantan Selatan. Aku rindu sekali, aku rindu masakan mamah ku, aku rindu omelan papah ku, aku rindu jajanan yang di jual di pinggir jalan.
Saat kecil, aku dan Abang ku selalu merengek pada papa untuk di ajak keluar jalan-jalan, membeli berbagai macam jajanan manis dan asin yang menggugah selera makan.
Papah tidak menolak, selesai sholat isya, dengan sarung dan baju koko yang masih terpasang, papa akan membawa aku dan abang Shaka berkeliling jalan raya menggunakan sepeda motor merah kesayangan papah, dan sampai saat ini, sepeda motor itu masih ada di rumah kami.
Aku dan abang Shaka akan segera menarik tangan papah setelah motor kesayangan terparkir dengan rapi. Kami bertiga akan menyisir jalan dengan berbagai macam penjual makanan enak, mata ku dan abang ku berbinar-binar melihatnya.
Roti bakar dengan isian keju dan coklat di warung amang Ipan menjadi pilihan paling pertama. Roti beliau sangat enak dari roti-roti yang lain, amang Ipan panggilannya. Beliau membuat dan memanggang sendiri rotinya, tidak seperti penjual roti bakar lain yang memesan roti ke pusat kota setiap tiga hari sekali.
Isian yang di berikan pun tidak sedikit, pasti sampai keluar dari rotinya. Itu untuk kudapannya, kalau untuk makanan beratnya, aku, abang Shaka, papah, dan mamah memiliki selera sendiri.
Aku lebih suka mi ayam dengan kuah kental yang begitu enak, abang Shaka nasi goreng dengan taburan bawang goreng yang banyak, sedangkan mama papah lebih suka bakso Samin, bakso itu aku benar-benar tidak suka rasanya.
Mengingat kenangan masa kecil ku yang bahagia membuat aku sementara melupakan kehidupan ku yang pahit dan menyedihkan ini.
Aku sudah berada di dalam taksi, ku ingat seharusnya Zidan sudah pulang sesuai janjinya dua hari lalu, tapi kemarin saat aku pulang mengambil beberapa mainan Aska untuk di bawa ke kampung, tidak ada tanda-tanda kedatangan Zidan.
Aku mengirim pesan singkat satu jam lalu sebelum meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
*papahnya Aska*
*"Assalamualaikum, Zi"
"kamu sudah pulang? kamu kapan pulang?"
"Zi, aku kangen mama papah, aku izin pulang kampung sebentar, ya. Kamu hati-hati, jangan telat makan selama aku nggak ada. Aku sayang kamu, dan Aska rindu papahnya"
"Aska Alhamdulillah sudah sehat, anak kita kembali ceria, jika ada waktu luang, boleh minta waktunya sebentar Zi, aku ingin bicara?"*
Aku menghela nafas, saat kembali ku cek ponsel dan ternyata pesan-pesan itu sudah terkirim, tapi tidak ada jawaban seperti biasanya. Aku tidak ingin murung di saat bahagia ini, aku ingin menikmati waktu dengan keluargaku tanpa ada rasa sesak yang memenuhi hati.
Author POV
"pergi tanpa pamit? menarik " satu sudut bibirnya terangkat puas, sepertinya bayang-bayang kemurkaan Zidan sudah menghiasi kepalanya.
"tinggal di tambah bensin aja di atasnya, biar lebih menyala" monolog Karina.
Karina juga tersenyum puas, Zidan menuruti semua apa yang ia katan. Zidan hanya membaca semua pesan yang masuk dari inayah, tidak pernah sekalipun Zidan mengangkat panggilan dari wanita yang ai anggap pengganggu itu.
"Zidan sudah ada di dalam genggaman gue, Inayah. Lo nggak akan pernah bisa menyentuhnya lagi, Zidan sudah takluk di tangan gue"
"ini balasan setimpal atas apa yang Lo lakuin dulu"
"sayang, tolong ambilkan mainan Nesha, ini dia nangis minta di gendong terus" cepat-cepat Karina meletakkan ponsel Zidan, ia mengambil beberapa mainan di dalam kamar dan segera keluar menemui Zidan dan Nesha.
__ADS_1
Zidan menggendong Nesha sambil menenangkannya, gadis berumur tiga tahun itu menangis sesenggukan di dalam gendongan papa tercinta.
"sudah sayang, sudah ya" ucap Zidan begitu lembut, Karina mengambil alih Nesha dari Zidan, takut Zidan encok karena sudah hampir satu jam menggendong Nesha yang tak kunjung reda tangisannya. Tapi Nesha menolak, gadis kecil itu mengeratkan pelukannya di leher sang papah, Zidan memberikan isyarat agar Karina duduk saja, dia bisa menangani tangisan putri kesayangan itu.
"anak papa, kesayangan papah, putri papah satu-satunya" ada yang salah dari ucapan Zidan menurut Karina, ada yang tidak sesuai yang tidak seharusnya Zidan ucapkan.
"kenapa putri satu-satunya, Karina anak kamu satu-satunya, kamu nggak punya anak selain Karina, anak perempuan miskin itu, bukan anak kamu! " ucap Karina dengan suara di tekan, Zidan hanya mengangguk patuh, seperti robot yang ia saja ketikan di suruh majikannya.
"anak papah satu-satunya, putri kesayangan ku, yang cantik dan manja" Karina tersenyum puas, ia benar-benar bisa merasa bangga dengan kedudukannya di hidup Zidan, Inayah tidak ada artinya sama sekali.
"besok kita pulang ya, aku masih banyak kerjaan di jakarta yang harus di urus"
"kerjaan, atau kamu kangen mereka?" Zidan memutar matanya jengah, Karina suka sekali mencari permasalahan di antara mereka. Suka sekali memancing keributan yang ujung-ujungnya berkahir dengan kata maaf dari Zidan untuk menenangkan sang istri tercinta.
"Jangan mulai Karina" tegur Zidan.
"jawab aja apa susahnya sih! kamu tinggal bilang iya kalo ia, bilang tidak kalah emang nggak"
"aku di jakarta banyak kerjaan, ada rapat penting untuk membahas cabang perusahaan yang baru, apa itu Kurang jelas? apa aku pernah bilang aku merindukan Inayah dan anaknya? aku bahkan tidak pernah menelponnya hanya untuk menjaga perasaan kamu, Karina" Karina berdiri, ia memeluk Zidan dari depan, Karina mendongak menatap Zidan.
"aku sayang kamu, Zidan Narenda"
"aku juga sayang kamu, Kirana Maharani " keduanya melempar senyum bahagia.
....
__ADS_1