Cinta Yang Memudar

Cinta Yang Memudar
Mual


__ADS_3

ku tutup mulut ku tidak percaya, aku masih tidak menyangka jika akan secepat ini, ketukan dari luar menyadarkan aku untuk bergegas keluar dari dalam kamar mandi.


"Sayang, kamu nggak papa, keluar gih, aku kawatir" Aku memasang senyum yang lebar, aku tidak sabar ingin memperhatikan hasil tes ku pada Tama, dia pasti senang.


"Sayang, kamu nggak papa?" Tama nampak kawatir, aku bisa melihat dari raut wajahnya, di sentuhnya kedua pundak ku.


"mas" panggil ku.


"iya sayang kenapa? katakan" Ku tunjukan benda kecil berwarna merah muda di depan Tama. Kedua bola mata Tama nampak membesar. Di ambil alih nya beda kecil itu, ia beralih menatapku tidak percaya, aku mengangguk meyakinkannya jika apa yang ia lihat sungguh nyata, aku hamil.


"Iya mas, aku hamil " ucapku penuh antusias.


"Ka--kamu hamil Inayah?" aku mengangguk lagi. Tama menarik ku kedalam pelukannya.


"makasih sayang makasih, aku nggak tau mau bilang apa lagi, aku senang banget Inayah, aku seneng banget" ku eratkan juga pelukan ku di pinggangnya.


"Aku juga seneng mas, aku seneng hamil, aku bahagia kamu sesenang ini" Tama menciumi pucuk kepala ku berulang kali.


"Aku akan jadi ayah dari tiga orang anak" aku terkekeh seraya mengangguk.


"Iya mas, kamu sudah mau anak tiga" Tama yang kelewat senang mengangkat sang istri ala bridal style, ia berputar-putar dengan tubuh Inayah di Gendongannya, Inayah mengeratkan pelukannya di leher Tama seraya tertawa bersama.


"Aku senang banget Inayah" pekik Tama


....


"Pah" Panggil Zidan lembut di samping Narenda yang baru saja sadar. Narendra bergumam dengan kepala bergerak pelan.


"Pah, bisa denger Zidan?" Kembali Narendra bergumam dengan segera Zidan keluar memanggil tenaga medis.


Selesai di periksa, Narendra kini sadar, meskipun selang oksigen masih terpasang di hidungnya.


Dewi menyeka air matanya, tidak sanggup ia melihat keadaan kondisi suaminya yang memperhatikan. Mereka yang biasanya akan di rawat di rumah sakit besar dengan pelayanan VIP kini di rawat diruang rawat sederhana, berbagi dengan pasien lain.

__ADS_1


"Jangan nangis mah, papah nggak papa" Dewi memaksakan senyum seraya mengangguk kecil.


"Zidan, istri sama anak mu mana nak?" tanya Narendra karena sejak sadar tadi, belum pernah ia melihat Karina dan Nesha ada di ruangannya.


"Ada di rumah pah" jawab Zidan singkat, Zidan sesekali melirik Dewi yang nampak berubah wajahnya.


"Nggak usah di pikirin perempuan penipu itu pah. Papah istirahat aja" Dewi membenarkan selimut yang sebenernya tidak berantakan sama sekali.


Di tempat lain, Karina bersama Nesha sedang duduk di salah satu tempat makan. Karina nampak gelisah menunggu seseorang.


"Sudah lama menunggu sayang" Jelas Karina terkejut saat namanya di sebut dengan nada suara berat itu. Karina mencengkram kuat pergelangan tangan Nesha dan menoleh.


"Apa mau Lo" ucap Karina dingin, tapi di dalam dirinya berdetak tidak karuan. Pria dengan masker dan topi itu terlihat mengembangkan senyum di balik masker hitamnya, pria itu fokuskan tatapannya pada gadis berumur sebelas tahun yang duduk di samping Karina. Karina yang menyadari hal itu lekas menarik Nesha agar duduk lebih rapat dengannya. Pria itu menatap dingin ke arah Karina. Karina berdiri, ia berbisik di telinga pria itu


"Apa mah Lo Raka, gue sudah penuhi apa mau Lo, gue bawa anak gue ke sini, dan Lo harus tepati janji Lo, jangan sampai apa yang ada di kepala Lo sekarang di denger anak gue" Raka menoleh dan hampir saja wajah keduanya bertabrakan, Karina dengan wajah merah padam menahan emosi memilih duduk. Sekarang Raka yang menunduk dan berbisik di telinga Karina.


"Tenang sayang, aku nggak akan kasih tau anak kita sekarang" Karina mendorong tubuh Raka menjauh, di dalam sana Raka memainkan lidahnya, ia pun ikut duduk di samping Nesha, Nesha menatap pria dengan wajah yang tidak terlihat itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Dia temen mamah nak, namanya om Raka" Nesha jangan kasih tau siap-siap kalau kita ketemu dia ya" Nesha Mengangguk patuh. Raka membuka topi dan maskernya. Wajah tirus dengan mata sipit dan senyum tipis kini nampak di depan wajah Nesha. Nesha terus menatap Raka. Raka mengusap kepala Nesha lembut.


"Kamu sudah besar nak" gumam Raka pelan. Raka menoleh ke arah Karina.


"Dia benar-benar mirip ayahnya" Raka tersenyum dan di balas Karina dengan memutar matanya jengah.


"Om, mata kita sama, Nesha juga sipit matanya. Papah Nesha nggak sipit, mamah juga nggak sipit, tapi ko Nesha sipit malah mirip om Raka" Raka menyibak rambutnya kebelakang, ia mengedipkan mata ke arah Karina.


"Tanyakan sama mamah mu nak, om juga nggak tau kenapa bisa begitu" Di balik tubuh Nesha, tangan Raka menyelinap hingga merangkul pinggang Karina. Karina menyingkirkan tangan Raka dari pinggangnya, di berikannya tatapan tajam pada Raka. Tapi Raka tidak peduli, kini ia merangkul lebih kasar pinggang Karina hingga wanita berambut bergelombang bagian bawahnya itu meringis.


"Sayang sudah pesan makanan?" Nesha menggeleng.


"Ayo pesan, om Raka yang bayarkan" Dengan antusiasnya Nesha membuka lembar demi lembar buku menu di depannya. Karina semakin dibuat risih dengan rangkulan pinggang yang Raka lakukan. Raka bermain-main dengan mengusap-usap perut rata Karina secara abstrak.


"Karina kamu pesan juga, aku yang bayarkan"

__ADS_1


"gue nggak laper" jawab Karina ketus.


"Yakin nggak mau, hm?" Karina kembali meringis saat Raka mencengkram lagi pinggangnya.


"Aku samakan aja"


"Baiklah" jawab Raka dengan senyum puasnya.


....


"Minum dulu sayang"


"makasih mas" dengan wajah pucat Inayah duduk di kursi yang Tama ambilkan. Tama mengusap bekas-bekas muntah dan air dari daerah mulut Inayah.


"kenapa hamil yang ini lebih manja ya anaknya mas, waktu hamil Aska sama Ziya nggak kaya gini ko". Keluh inayah, ia berikan lagi gelas minumnya ke Tama.


"Mungkin karena ini anak ke-tiga sayang" Inayah hanya mengangguk, tenaganya habis terkuras saat muntah tadi, wajahnya pun masih pucat, keringat bercucuran di daerah keningnya.


"Kamu istirahat aja dulu ya, nggak usah ke kantor dulu hari ini, biar aku aja yang wakilkan kamu"


"Mas nggak kerepotan?" Tama menyunggingkan senyum, ia usap peluh di wajah sang istri dengan lembut.


"kerjaan ku nggak seberapa dari pada kamu yang sekarang mengandung anak kita, sayang" Inayah mencium pipi kiri dan kanan Tama.


"bisa banget sih bikin istrinya salting tidak tertolong, mas" Tama tertawa terbahak-bahak, baginya ucapan sang istri terlalu lucu, belum lagi wajah mengenaskan Inayah saat menatapnya.


"Mau aku bawain apa nanti kalau pulang istriku?" Inayah meletakkan satu jarinya di depan pipi


"Bawain martabak telor, yang di tengah pertigaan sana mas, lagi pengen makan itu" Tama memberikan jempol nya.


"Baik laksanakan" Inayah meringis menampakkan deretan digigit putihnya yang tersusun rapi.


"Aku kerja dulu ya, kamu istirahat" Inayah mengangguk, ia cium tangan Tama secara takzim.

__ADS_1


__ADS_2