
"Gue pulang dulu ya, insyaallah gue bakalan balik lagi ke kota ini" nampak sekali sahabatku ini memaksakan senyum dan anggukannya. Khansa mengusap kepala putra ku yang ada di gendongan Fakhri, sebenarnya ia ingin menggendong Aska juga, tapi tidak berani karena baru saja beberapa bulan selesai lahiran Cesar.
"Anak gantengnya tante Khansa, Sholeh seperti mamahnya, jagain mamah kamu ya nak, tumbuhlah menjadi anak yang pintar dan mampu melindungi mamah dan adik mu dari orang-orang jahat contohnya papahmu dan keluarganya" aku hanya menghela nafas panjang saat harapan Khansa itu mendapatkan anggukan dari Aska, bukannya tidak suka, hanya saja aku takut Aska menyimpan dendam pada papahnya. Aku juga sebenarnya tidak ingin mempertemukan mereka lagi, mempertemukan anak-anak ku dengan papahnya, tapi untuk menamakan dendam di hati anak-anak ku sepertinya itu tidak baik juga.
Khansa beralih lagi memeluk begitu erat, tangannya bergerak turun naik mengusap punggung ku. Aku tak kuasa membendung air mata jika sudah seperti ini, mau bagaimanapun aku berpura-pura baik-baik saja tapi nyatanya aku tidak sekuat itu, aku lemah, aku hanya berusaha tegar di hadapan mereka, aku takut mereka khawatir, tapi di saat sendiri aku menangis, menangis sejadi-jadinya, aku tidak menyangka akan semua takdir ini. Rumah tangga ku telah usai, semuanya hancur saat Zidan putuskan menikahi Karina karena tidak sengaja menghamili wanita itu di saat hatinya berantakan dan sulit mengontrol diri.
Andai Zidan katakan padaku semuanya dari awal, mungkin saja akhirnya tidak seperti ini, aku bisa saja mencari jalan keluar untuk masalahnya, dan tidak harus perasaaan bersalah pada Karina berakhir cinta dan melukai aku dan anak-anak ku seperti sekarang.
Tapi Zidan memilih menyembunyikan semuanya, Zidan hidup dengan dua wanita selama bertahun-tahun lamanya, aku seperti wanita bodoh yang selalu menganggap perubahan sikap Zidan yang semakin aneh setiap harinya karena rasa cemburunya yang belum usai.
"Lo kuat Aya, Lo pasti bisa lewati semuanya, Lo pasti bisa melupakan pria brengsek itu, aku percaya sama Lo Aya" Khansa selalu meyakinkan aku untuk tetap kuat dan tidak terlihat lemah di hadapan orang-orang yang telah menyakiti aku, meskipun sulit aku tetap berusaha, aku pun tak ingin Zidan mengetahui keterpurukan ku setelah resmi bercerai dengannya.
"gue nggak nyangka akhirnya dari kisah gue dengannya se menyakitkan ini, Sa. Ka Zidan yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangan gue, menuntun gue, menyayangi gue, tapi nyatanya semua itu bohong, Sa..." Ya inilah aku, Inayah yang belum bisa melupakan pria brengsek itu, sudah ku katakan jika butuh waktu lama dan ketenangan jiwa agar dapat mengubur semua kenangan yang pernah aku buat bersamanya.
Tidak ada kata menyesel setelah memutuskan hubungan ku dengannya, aku pun tak menyesal mengenal dia, karena tanpa dia, aku tidak akan memiliki makhluk kecil dengan mata bulat yang sekarang asik memakan es krimnya dengan Fakhri, juga si mungil di dalam perut ku, mereka berdua adalah duniaku, cinta ku, hidup ku, ragaku, mereka lah alasan agar aku tetap hidup demi mereka berdua, tetap waras di tengah hancurnya cinta juga hatiku.
"tunggu gue balik, Sa, gue akan segera datang ke sini lagi bersama anak-anak gue, setelah gue yakin jika raga dan batin gue telah sembuh sepenuhnya" ku lepaskan lagi pelukan ku. ku hapus air mataku dengan tisu yang Fakhri belikan beberapa menit yang lalu.
"gue titip salam sama orang tua Lo, ya"aku mengangguk seraya menyamakan tinggi ku dengan Aska, ku bersihkan mulut anak ku yang penuh dengan eskrim, setelahnya aku berdiri lagi.
__ADS_1
" Gue pamit ya" sekali lagi aku memeluk Khansa.
"jaga diri kalian baik-baik" aku mengangguk dan melepaskan pelukan kami.
aku segera memegangi tangan putraku, sebentar lagi seluruh penumpang pesawat di minta untuk masuk kedalam pesawat, waktu perpisahan pun semakin dekat. Aku melambai lagi sebelum memutar tubuhku.
"gue pergi, makasih atas semua bantuan kalian"
"Sudah tugas kami membantu Lo, Inayah" kali ini Fakhri yang bersuara, aku sudah sampaikan banyak pesan pad Fakhri. Aku tidak ingin sahabat ku merasakan hal yang sama seperti ku. Ku katakan pada mereka agar saling jujur, jangan pernah menyembunyikan masalah apapun di antara mereka, karena pada dasarnya ketidak jujuran di dalam rumah tangga awal dari permasalahan permasalahan yang akan datang.
"ingat pesan gue Fakhri, jaga Khansa, jangan pernah Lo berniat memainkan hatinya" Khansa menoleh ke arah suaminya, ia sentil jidat Fakhri.
"ya udah, kita pisah di sini ya, gue sama Aska Pulang dulu" keduanya mengangguk dan tersenyum.
Aku pun melangkah menjauh, sesaat aku menoleh ke arah mereka, ku lihat Khansa mengusap air matanya dengan tangan yang terus melambai ke arahku dan Aska.
....
"aku benar-benar tidak memiliki suami sekarang?" aku bermonolog sendiri, aku pun masih berharap aku hanya bermimpi, aku berharap aku bangun dari mimpi buruk ini dengan Zidan yang berada di sampingku, memeluk ku seraya berbisik ' sayang tenanglah, ini hanya mimpi buruk, tidur lagi, ya ua....'
__ADS_1
tapi nyatanya ini semua benar-benar terjadi, aku dengannya sudah berakhir, dia hidup bahagia dengan selingkuhannya itu, sedangkan aku harus menata hidup yang baru kembali.
"Pada akhirnya aku yang di paksa mundur, aku yang harus mengalah, aku yang harus melepaskan, aku juga yang harus merelakan" setetes air mata kembali turun membasahi pipiku, aku tak alihkan perhatian pada awan-awan di sekitar pesawat yang nampak begitu indah.
"aku harap kamu bahagia dengannya, Zi. Aku berharap kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi, cukup aku saja yang merasakan sakitnya di khianati, aku tau ingin ada perempuan lain yang merasakan apa yang aku rasakan, karena di khianati itu sesakit itu, Zi... sakit banget" ku tutup mataku seraya memukul-mukul dadaku yang kembali terasa sesak.
....
Author POV
Pria itu tergopoh-gopoh menghampiri Khansa dan Fakhri yang baru saja keluar dari area bandara.
"Di--dimana Inayah" Zidan berusaha menarik nafasnya yang tidak teratur karena belarian dari sana ke sini mencari Inayah.
"Jangan temui dia lagi! Inayah sudah hidup dengan tenang bersama anaknya, dan pria BRENGSEK! seperti Lo itu memang nggak pantas untuk sahabat gue yang tulus" Fakhri menarik tangan sang istri untuk menjauh dari sana, Fakhri tau betul apa yang akan terjadi jika Khansa lebih lama lagi berhadapan dengan Zidan, bisa-bisa istrinya itu mencakar wajah pria yang sudah tega menyakiti sahabatnya.
"khnsaa! Di mana Inayah khansa!" Zidan berusaha mengejar, tapi Fakhri lebih dulu memasukkan sang istri kedalam mobil dan pergi meninggalkan Zidan.
"Khansa!"
__ADS_1
"ARGGHHH" pria itu meraung seraya mengusap wajahnya.