
Inayah POV
Panggilan ku di putus secara sepihak, aku jadi kawatir dengan keadaan Zidan, tadi pagi Zidan belum sempat meminum obatnya, sarapan pun Zidan lewatkan. Zidan bisa lupakan makan karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, aku sempat berpikir sesaat untuk membawakan Zidan sarapan, tapi aku urungkan. Zidan sudah melarang ku untuk datang ke kantornya, aku takut Zidan marah lagi, aku hanya berharap Zidan makan dengan benar dan meminum obatnya.
aku kirimkan pesan untuk Zidan.
*papahnya Aska*
*"Assalamualaikum Zi"
"jangan lupa makan ya, tadi kamu nggak makan Loh, obatnya juga nggak di minum"
"nanti pulang aku masakin apa?*"
cukup lama aku memandangi ponsel, tidak ada balasan pesan dari Zidan, padahal pesan ku sudah terbaca olehnya. Baiklah aku akan buatkan sesuatu yang mungkin Zidan suka, semoga saja.
...
author POV
Zidan pulang lebih awal lagi, tapi kali ini pria itu tidak pulang ke rumah Inayah, ia pulang ke rumah Karina untuk meminta maaf. Zidan melihat Karina yang tengah duduk menemani Nesha bermain, keduanya tidak menyadari kehadiran Zidan.
"boleh gabung" ucap Zidan, kompak ibu dan anak itu menoleh, Nesha berlari kegirangan menghampiri Papahnya, sedangkan Karina menyunggingkan kan senyum.
Karina ikut mendekat, memeluk Zidan juga karena ada perasaan bersalah juga sebenarnya. Sudah bertingkah sangat kasar di ruangan suaminya, Zidan menurunkan Nesha setelah mengecup kening anaknya itu. Sedangkan tangannya masih merangkul pinggang sang istri.
"Nesha main dulu ya sayang, papa mau ngobrol sama mama" Nesha mengangguk, berlari kagi ke arah mainan Barbie nya yang menumpuk di depan tv.
Zidan kembali fokus pada Karina, memeluk Karina dari depan.
"maaf, tadi aku sudah buat kamu marah" Karina mengangguk dan memilih menempelkan wajahnya di dada Zidan.
"aku juga salah, nggak seharusnya aku marah-marah kaya tadi ke kamu, kamu kan cuman ngomong, tapi aku malah ngamuk kaya gitu" perlahan Zidan melepaskan pelukannya, mencium singkat bibir Karina dan pipinya secara bergantian.
"lapar" ucap Zidan seperti anak kecil, Karina tertawa, tidak tahan melihat perubahan wajah Zidan yang seperti itu.
"ayo makan, bi inah sudah masak juga tadi" mereka bergandengan masuk menuju dapur.
__ADS_1
"kamu nginap di rumah, sayang?"
"nggak, aku pulang, aku belum dapat alasan apa ke Inayah"
"yah , padahal aku berharap kamu nginap Lo sayang"
"nanti, ya" Karina mengangguk patuh, tiba-tiba saja Karina melepaskan genggaman tangannya, dengan wajah berseri berpindah berdiri di depan Zidan, Zidan mengangkat alisnya bingung.
"sayang, kita liburan yu" tangan kiri Zidan terangkat mengusap sisi wajah Karina.
"mau liburan kemana emangnya?"
"mau ke Korea"
"ok, bulan depan " ucap Zidan tanpa basa-basi lagi.
"serius sayang?" begitu antusiasnya Karina.
"iya" Karina melompat-lompat kesenangan, Zidan menyunggingkan senyum melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil itu. Karina memeluk Zidan begitu erat.
"makasih sayang"
.....
"sayang, mau tambah nasi?"
"sedikit aja" Karina sodokan sedikit nasi ke piring Zidan.
"sayang, lihat tu anak kamu..." Karina menunjuk Nesha dengan dagunya.
"susah banget di suruh makan" Karina mengeluh tentang anak mereka, apa lagi sekarang, bukannya ikut makan dengan orang tuanya, Nesha justru berlarian di dalam rumah, menghambur mainannya di mana-mana.
"nggak papa sayang, nanti Nesha makan ko"
"kamu nih, terlalu di manja anaknya, jadi gini kan" Nesha tuangkan air ke gelas Zidan.
"anak ku, gimana dong" Zidan tersenyum puas, sedangkan Karina berdecak Kesal.
__ADS_1
"dasar kamu ini" Karina memukul lengan Karina. Ruang makan Karina begitu hangat, mereka bercanda, tertawa, berbagi cerita bersama.
....
Inayah POV
Di atas meja, sudah tertata dengan rapi semua masakan ku, semoga saja Zidan senang, sebentar lagi Zidan pulang, seharusnya.
Aska juga sudah duduk menunggu papahnya, Aska bilang ingin makan malam bareng papahnya, jadi Aska menolak saat aku ingin menyuapinya lebih dulu, padahal anak ku itu sudah lapar sekali.
"Aska makan aja ya nak, papa pulang kayanya Kemalaman deh" Aska menggeleng dengan wajah lesu.
"Aska mau nunggu papah, mah" aku pasrah, tidak bisa memaksa juga. Aku berharap Zidan pulang secepatnya, kesian anak ku, dan makanan yang aku masak pun sudah dingin.
Aku bolak balik dari dapur ke ruang depan hanya untuk memastikan Zidan pulang, tapi nihil, sudah sekitar satu jam lebih lewat dari jam biasnya Zidan pulang. Kemana di? aku menggendong Aska yang sudah tidak tahan dengan ngantuk ya, harusnya kan jam segini Aska sudah tidur, tapi anak ku tetap kekeh ingin menunggu Papahnya.
Secercah harapan muncul saat aku mendengar suara mesin mobil masuk ke halaman rumah. Dengan cepat aku keluar untuk membukakan pintu, aku bisa bernafas lega, suami ku akhirnya pulang, aku menunggu di depan pintu dengan Aska di gendongan. Aska tidak tidur, tapi sudah sangat mengantuk, mengangkat kepalanya saja susah.
"Aska, itu papah pulang nak" Aska langsung mengangkat kepalanya.
"papah" panggilan Aska di abaikan Zidan, Zidan melewati kami yang sejak tadi menunggunya, tanpa mau menyapa dulu, bahkan Zidan menepis tangan ku yang ingin meraih tas kerjanya.
Aska di gendongan ku memberontak ingi turun, aku turunkan Aska dan anak ku mengejar masuk papahnya, semoga saja Zidan tidak memarahinya, terlihat sekali wajah Zidan yang tidak bersahabat.
Mataku melotot, saat Aska terdorong ke belakang karena Zidan.
"Aska" aku berlari mendekat anak ku yang sudah menangis karena ketakutan, tatapan tajam Zidan berikan pada anaknya.
"sudah ku katakan jangan mendekat, dasar anak nakal!" bentak Zidan, sama sekali tidak ada rasa bersalah yang ia tunjukan pada anaknya. Aku tidak bisa terima untuk kali ini, Zidan sudah kelewat batas, Zidan dengan sengaja mendorong Aska hingga jatuh hanya karena anaknya terus mengekori di belakang
"kamu kenapa si Zi, kamu tau Aska nunggu kamu sampai ketiduran hanya untuk bisa makan malam sama kamu. Kamu ko tega-teganya mendorong anak kamu sampai menjerit ketakutan kaya gini" aku tidak meninggikan kan suara ku, aku masih menjaga sopan santun ku, aku pelan, tapi sepertinya hal itu semakin membuat Zidan murka. Lengan ku di cengkramanya dengan kuat, aku meringis menahan sakit, tatapan tajam Zidan begitu menakutkan.
"aku nggak yakin, anak itu anak ku" seperti ada panah yang Zidan tusukkan di hati ku, sungguh tega dia katakan hal itu di hadapan anaknya, Zidan ragukan darah dagingnya. Ya Allah teganya Zidan mengatakan hal itu.
Zidan selalu saja mempertanyakan Aska jika ia marah dengan Aska, ia meragukan Aska sebagai anaknya. Aku pun tidak tau atas dasar apa Zidan seperti itu, kenapa ia tega sekali. Setelah mengucapakan kan kalimat yang sangat menyakitkan untuk ku dan Aska, Zidan melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar hingga aku sedikit terdorong ke belakang, Zidan pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
Ku hapus air mata yang sekarang sudah mengalir deras melalui pipi, aku tidak ingin anak ku melihat ibunya bersedih, aku kembali duduk di depan Aska, memindahkan Aska ke pangkuan ku, anak ku sudah sudah tidak terlalu menangis lagi, tapi isakan nya masih terdengar memilukan.
__ADS_1
"anak mama lapar kan? kita makan ya nak, habis itu tidur"
"Aska mengangguk patuh, matanya merah, aku tidak tega sekali melihat Anak ku.