
Kabar aku menjadi kekasih Irfan sampai di telinga Rama. aku tak PEDULI. dia sendiri yang mulai menjauhiku,, meninggalkanku dan mengacuhkanku.
Bagi Rama kenyataan ini merupakan sesuatu yang menyakitkan dihatinya. saat ini dia benar - benar sudah kehilangan Meisya. meskipun hatinya tak rela tapi ia akan mencoba menerimanya demi kebahagiaan Meisya. dalam Lubuk hatinya ia begitu terpukul. harus mendengar bahwa kekasih hatinya kini milik orang. ingin berteriak sekeras mungkin ,,tapi ia tak bisa . ia berdiri kemudian dengan kekuatan penuh ia memukul dinding kelas yang bisu.
" awwww" terasa sakit tangannya . kemudian dilihatnya ada memar bekas pukulan barusan. ia menumpahkan segala amarah dihatinya. ia sengaja membiarkan teman- temannya pulang duluan. ia hanya ingin menyendiri untuk sesaat.
Ia segera bangkit dari semua lamunannya,,,tatkala dilihatnya dua orang berjalan melintasi kelasnya.
" hai .... !!!! " teriaknya.
aku dan Lulu menoleh ke asal Suara. ada rasa bahagia seolah bahagia yang sempat tertunda saat kulihat sosoknya berdiri tegap di belakangku. " dia semakin tampan" ucapku dalam hati. meskipun ia terlihat kusut sekali.
" hai" ucapku penuh ragu. aku tak ingin berharap terlalu banyak seperti sebelumnya. aku pikir mungkin ia akan kembali berlalu begitu saja seperti sebelumnya.
__ADS_1
" selamat ya...aku turut bahagia" ucapnya . entah menyindirku atau benar - benar tulus ia ucapkan . aku tak bisa mengartikannya karena gemuruh dalam dada mengalahkan segalanya.
" selamat atas apa??" tanyaku tak kalah menyindir
" selamat atas jadiannya kamu sama Irfan"
" telat...harusnya dua hari yang lalu kau mengucapkan itu" balasku merasa puas.
ia seolah marah ,, ia mengepalkan tangannya seperti ingin meninju sesuatu . tapi tunggu dulu...
tiba - tiba ia melepaskan genggamannya.
" maaf..." ucapnya lirih hampir tak terdengar.
__ADS_1
" jangan begini.... jangan seperti ini. jika Irfan melihatnya pasti dia akan marah" ucapnya lagi
"jika boleh jujur aku mohon,,,, stop kau katakan namanya dihadapanku untuk kali ini saja. aku mohon jangan biarkan aku menjadi seorang yang sangat munafik. aku tahu bahagiaku ini menyakiti hati Irfan. " jerit batinku.
kami pun berjalan beriringan tanpa bicara hanya diam semata. ingin kuawali obrolan tapi harus mulai dari mana.
" kemana Lulu?" tanya dia malah menanyakan Lulu.
" dia pergi mendahului kita"
" padahal dia tak usah terburu- buru. toh kita tak ngapa- ngapain. "
" mungkin dia..." aku tak melanjutkan ucapanku.
__ADS_1
" harusnya ia disini menemani kita supaya Irfan tak berpikiran yang enggak - enggak"
Irfan lagi yang dia sebut... jago banget dia mengacaukan hatiku.....