
kini Lulu tak lagi marah sama aku. meskipun ia sepertinya masih kecewa atas semua sifat dan sikapku.
" kasian Irfan . aku bukannya tak mengerti kamu. aku tahu bahkan lebih tahu dari siapapun bagaimana persaan kamu ke Rama. bagaimana perasaan kamu sama Irfan" begitu katanya.
seperti biasa kita bertiga jalan menuju pulang.
" apa kau Meisya???" tanya seseorang yang sudah nunggu di gerbang. dia gadis cantik mungkin usianya 2 tahun dibawah aku.
" aku Meisya,,," jawab aku heran.
dia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki kemudian dia tersenyum.
" bisakah kita bicara berdua?" ujarnya lagi.
aku melirik Irfan dan juga Lulu meminta pendapatnya. mereka tak menjawab .
" baiklah" ucapku.
" mungkin kalian jalan duluan saja yA . gak usah nunggu aku" begitulah perintahku pada Lulu dan Irfan.
__ADS_1
mereka berlalu dari hadapanku. aku mengjak orang asing didepanku kesebuah tempat dimana kami bisa bicara nyaman.
" aku Kania . adiknya Rama" sekarang giliranku yang menatap ia dari ujung rambut hingga ujung kaki. ada Rasa bahagia bisa bertemu dengannya. aku tak tahu kalau Rama memiliki adik secantik ini. pernah ia bilang kalau ia hanya memiliki satu adik perempuan dan ia anak sulung.
" cantik sekali" ujarku memujinya. ia tersenyum. lesung pipinya terlihat begitu menggemaskan. kulit putih yang bersih,, tinggi semampai, hidung mancung, rambut panjang hitam terurai. " gadis yang sangat manis".
" makasih... kak Meisya juga sangat cantik. pantesan kak Rama begitu tergila- gila sama kakak". aku heran darimana ia tahu Rama mencintaiku sementara aku juga masih ragu apa dia mencintaiku atau tidak.
" oh iya bagaimana dia sekarang?? sakit apa dia??"
" dia masih sakit,,, ia kecapean dan kurang tidur. sebenarnya terlalu banyak beban yang harus dipikirkannya"
" kenapa kak Meisya tak datang kerumah saat teman- teman yang lain jenguk kak Rama??"
" kan sudah ada mereka yang mewakili semuanya,,, lagian saat itu kakak sudah ada acara sama mamah. jadi gak bisa kesana"
" tahukahkah kak ,,,kalau cuma kakak yang diharapkan kak Rama?" aku menggelengkan kepala.
" apa selama ini kakak tak menyadari kalau kak Rama begitu mencintai kakak?" aku tertegun mendengarnya. terlintas dipikiranku darimana ia tahu.
__ADS_1
" kak Rama begitu mencintaimu kak,,, ia begitu terpuruk saat kakak jadian sama Kak Irfan. aku melihatanya aku menyaksikan bagaimana saat itu. ia sangat sedih"
kemudian ia berhenti sesaat. ia menarik napas seolah memberi jeda pada hatinya untuk mengatur apa yang hendak di ucapkannya lagi.
" dia belum pernah jatuh cinta. sepertinya cinta pertama dia kak Meisya"
aku belum bisa menjawabnya. antara bahagia dan sedih kini kurasakan. seandainya kabar ini ku dengar saat aku menunggunya mungkin aku akan bersabar menantikannya. sekarang percuma karena kini aku sudah bersama Irfan.
" haruskah aku meninggalkan Irfan hanya untuk mengejar kembali cinta Rama. rasanya ini terlalu kejam." kataku dalam hati.
" semua sudah terlambat... sekarang ada sosok Irfan disampingku" ucapku lirih.
" apa kau mencintai kak Irfan?" dia bertanya yang tak mampu aku jawab.
" yang ku sesali kenapa kakakmu tak mengatakan perasaannya ,,malah menggantungkan status kami. saat ada yang mendekatiku ia justru menghindariku"
" kak Meisya tak tahu apa yang menjadi alasanya,, kakak tak pernah menanyakannya kan?"
" itu yang selalu ia bilang. selalu ada alasan yang takkan ku mengerti padahal dia belum pernah mengatakannya"
__ADS_1