
Sinar matanya begitu sendu. aku tahu ia sedang cemburu. aku tahu pula ada sebuah beban yang sedang ia tanggung. mungkin kemarahan dan kekecewaan ibunya terhadap dia. ditambah lagi dengan kedatangan surat dari Irfan padaku. aku tak berani mengganggunya. aku tak berani menambah beban pikirannya tapi aku ingin dia tahu tentang isi surat itu. ingin aku mengungkapkannya bahwa kini aku sudah bebas dari Irfan . tapi ia tetap bungkam tanpa bertanya.
hingga sampai di waktu pulang sekolah aku tak menyapanya. ku biarkan mereka semua bubar,, ku biarkan mereka pulang. aku diam dikelas menunggu semua berlalu. aku menelungkupkan wajahku ke meja,, aku ingin melepas semua penat yang ada.
" Sya ,, ayo kita pulang" tegur Dina.
" kau duluan saja!!" suruhku pada Dina.
" baiklah aku duluan ya" ucapnya lagi sambil berlalu. aku hanya mengangguk.
Setelah semua sudah berlalu,, aku menegakkan tubuhku,, kusapukan pandanganku keseluruh ruangan kelas, kukira semua sudah berlalu nyatanya masih ada sosok yang diam dikelas selain aku.
" kau belum pulang??" tanyaku
__ADS_1
dia hanya menggelengkan kepala. aku beranjak mendekatinya.
" kau kenapa??" tanyaku lagi. dia menarik napas dalam- dalam. mengusap wajahnya dengan kasar . ia seakan hendak membuang semua beban yang telah membuatnya begitu penat.
" haiiii.. kau marah padaku??" tanyaku dengan lirih menahan tangisan yang tiba - tiba menyelimuti mataku. dia masih saja diam. dia menatapku sendu penuh pilu. ia sedang sakit dan terluka . aku tahu itu. mungkin ia sedang tak ingin bersamaku pula. aku berdiri dan hendak melangkah pergi tapi ia segera memelukku dari belakang.
" jangan tinggalkan aku" rilihnya miris!!
" mari kita pulang" ajakku pelan. dan ia mengangguk setuju.
diperjalanan kami seolah menjadi sosok asing. kami terdiam seolah menikmati tiap pijakan kaki yang menuntun kami diperjalanan ini.
" kau marah dengan surat Irfan?" tanyaku disela keheningan. ia hanya melirikku tanpa bicara.
__ADS_1
" dia memutuskanku,, sekarang aku dan Irfan sudah tidak ada ikatan apa- apa" akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan itu. tapi reaksi dia tak seperti yang ku bayangkan. dalam bayanganku mungkin ia akan bersorak bahagia atas kabar itu. tapi ternyata itu tidakk!!! ia hanya memandangku dan ia meraih tanganku seraya menggenggamnya seolah ia ingin menguatkanku.
" jangan pikir aku sedih dengan surat itu" ucapku menyadarkan dia.
" maafkan aku karena aku pikir surat itu surat cinta atau permintaan maaf dia padamu"
" makanya kalau ada apa- apa itu jangan berlalu begitu saja. dengarkan dulu penjelasannya"
" iya.. maafkan aku,," katanya sambil mengeratkan genggamannya. sinar matanya sedikit berbinar. tapi awan mendung masih menguasai setiap pandangannya.
Kami tetap berjalan bersama. hati kami saling menguatkan dalam diam. ingin ku menanyakan bagaimana ibunya tapi aku segera mengurungkan niat itu. aku tak ingin ada pikiran yang menghalangi kebersamaan kami. kami menikmati kebersamaan kami yang entah sampai kapan masih bisa ku jalani. kini kusadari ada sebuah jurang yang mungkin saja memisahkan kami saat ini juga. meskipun Rama tak mengungkapkannya tapi aku bisa menebaknya kesedihan Rama besar kaitannya dengan ibunya.
" kuatlah wahai hati mungkin sebentar lagi kesakitan yang sesungguhnya melandamu"
__ADS_1