
" konyol" ucapnya sambil tersenyum menggemaskan.
" bagaimana aku mencintai yang lain jika hatiku sudah terpaut pada dirimu" ucapnya lagi sambil mencubit hidungku.
" terimakasih" hatiku melayang dengan setiap pengakuannya.
" tapi sebesar apa pun kau mencintai tetap saja ibumu takkan merestui kita" ucapku mengingatkan.
" beri aku waktu" jawabnya meyakinkan.
Aku segera pamit setelah hari mulai senja. ia begitu enggan melepaskanku pergi. apalagi aku sepertinya begitu berat kaki ini melangkah menuju pulang.
" hati- hati kak Meisya" ucap kania tetap dengan keceriaannya.
" tentu" jawabku sembari tersenyum.
" aku pulang ya,,, cepet pulih biar bisa segera sekolah" pamitku pada Rama.
" benar tak apa- apa kau pulang sendiri??"
aku mengangguk yakin.
Pulanglah aku dengan membawa kebahagiaan dalam hati. Lima langkah aku keluar dari gerbang rumah Rama ,, seseorang mengejarku seraya berjalan disampingku.
" kamu belum sehat bener,,, knapa malah keluar rumah"
" aku tak akan membiarkanmu sendiri"
__ADS_1
" aku tak apa- apa,, nanti kamu sakit lagi" ucapku mengingatkan.
" sekarang aku sudah sembuh"
" bohong ah"
" bener aku sudah sembuh !! karena obatnya sudah ditemukan" ujarnya sambil menggandeng tanganku.
" apa?" tanyaku pura - pura tak mengerti.
" kamu!!" jawabnya mantap
" gombal"
kami berjalan saling bergandengan. rasanya tak ingin semua ini berlalu begitu saja. berharap semoga jalan yang dituju kami masih lama dilewati.
" sudah sampai" katanya sambil menatapku.
" terimakasih sudah mengantarku"
" aku pulang dulu ya"
" ya,, hati- hati" jawabku sambil memandang ia yang berjalan semakin menjauh.
Sampai dirumah aku begitu bahagia. hingga kebahagiaan ini tak luput dari pandangan mamah.
" katanya nengok temen yang sakit,, eh malah yang dibilang sakit yang ngantar pulang"
__ADS_1
" ya kan maunya dia. aku gak nyuruh kok"
" awas lho nanti Irfan marah"
" ya gak juga. kenapa mesti marah?" jawabku datar
" ya pasti marah kekasihnya malah jalan sama orang lain"
" mamah kok gitu sih sama aku!!"
" bukannya begitu...tapi kamu harus memutuskan antara Irfan atau Rama. kamu tak bisa dong dengan dua- duanya. itu namanya egois"
" mah ,,, Irfan itu baik bangettt,,, tapi sebaik apa pun dia tetap saja aku tak bisa mencintainya jika aku melepaskannya aku akan merasa kasihan. selama ini dia yang selalu setia menghibur Meisya ,menemani Meisya bahkan menjaga Meisya,, tapi hati Meisya justru mencintai Rama. Meisya juga bingung" jelasku pada mamah yang sudah dianggap seperti sahabatku sendiri.
" trus apa hebatnya Rama?"
" Rama itu laki- laki pertama yang deket saat masuk SMA. dia ngasih kenyamanan padaku,, perhatian ,kasih sayang , pokoknya Meisya terlanjur mencintainya"
" trus kenapa bisa nerima cinta Irfan kalau Rama memberikan semua itu lebih dulu"
" alasannya panjang. mungkin mamah tak akan memahaminya"
" bagaimana bisa memahaminya tanpa mendengarkannya"
" lain kali aku cerita. sekarang aku mau istirahat dulu" ujarku seraya meninggalkan mamah.
Hari ini aku benar - benar bahagia. sesuatu yang ditunggu - tunggu sejak dulu kini sudah didapatkan . Rama menyatakan perasaannya meskipun kini ada Irfan yang akan terluka dengan segala keputusanku. kupikirkan cara yang terbaik untuk melepaskan Irfan dari belenggu cinta yang tak pernah ada untuknya. aku tak ingin menyakiti Irfan tapi aku ingin menyatukan cintaku bersama cinta Rama.
__ADS_1