CINTA YANG TAK PERNAH DIMILIKI

CINTA YANG TAK PERNAH DIMILIKI
PERTEMUAN TAK DI DUGA


__ADS_3

Sebuah bangunan berdiri kokoh,, dengan halaman hijau penuh bunga. terlihat asri nan indah. ada sebuah kesan kehangatan dari aksen warna yang dominan putih. meskipun terlihat sepi tapi angin yang bertiup sepoi- sepoi soelah menyapa tiap bunga yang tertata rapi mampu membuat suasana terlihat nyaman.


Diketuknya perlahan pintu yang berdiri kokoh menyambut siapa saja yang hendak membukanya . tak ada yang menyahut. kemudian ia mencari - cari sejenis bel yang mungkin terpasang di dekat pintu. tapi sebelum memijit bel, pintu sudah terbuka.


" ada perlu apa?? sedang mencari siapa??" tanya yang punya rumah dengan begitu hangat dan ramah.


" benarkah ini rumahnya Meisya Wijaya murid sekolah...." ucap seorang ibu pura - pura menanyakan padahal ia sudah pernah menyambangi rumah ini sebelumnya.


" iya benar,,, saya ibunya" jawab mamahnya Meisya.


" oh kebetulan sekali. aku ingin berbicara langsung sama ibunya Meisya"

__ADS_1


" ohhh kalau begitu mari masuk!" ajaknya dengan ramah meskipun belum tahu siapa sebenarnya orang yang ada didepannya.


Masuklah Ia dengan leluasa tanpa mengendap - endap seperti sebelumnya. kemudian ia melihat kesebuah ruangan tempat saat memergoki anaknya sedang memeluk seorang gadis sebayanya. kemarahan itu kembali hadir,, kekecewaan itu lebih besar namun ia segera mengendalikan semuanya.


" maaf,, jeung ini siapa??" yang punya rumah baru bertanya setelah terlebih dahulu menyuguhkan teh hangat beserta makanan ringan.


" aku ibunya Rama. mungkin jeng sudah pernah atau tahu anak saya" jelasnya langsung tanpa basa - basi. deg!!! ada sebuah perasaan seakan menerjang hati mamahnya Meisya.


" ohhh nak Rama. aku pernah dengar dari putriku. katanya memang cukup dekat mereka itu" ucap mamah Rama masih dengan sopan santun.


Kini ia sadar,,, saat itu Meisya pernah mengatakan ada sebuah alasan yang mungkin takkan dimengerti olehnya. mungkinkah ini alasannya??.

__ADS_1


" terus jeng menyalahkan putriku??"


" bukan menyalahkan tapi lebih tepatnya aku memohon pengertian putrimu dan tentunya kau sebagai ibunya. aku melakukan ini untuk putraku. untuk masa depannya. aku berjuang melakukan segalanya agar putraku bisa meraih segala cita- citanya. aku tak ingin sebelum itu anakku justru harus berurusan dengan perempuan atas nama cinta"


" apa jeng tidak terlalu otoriter terhadap putramu?"


" mungkin iya otoriter. tapi aku harus melakukan semua ini untuk anaku juga. sebagai single parent aku ingin anakku lebih segalanya melebihi yang memiliki orang tua lengkap setidaknya dikalangan keluargaku"


" lantas apa yang mesti aku lakukan?"


" aku mohon bicaralah pada putrimu untuk menjauihinya,, untuk mengabaikannya. jangan terlalu menganggap perasaannya. mungkin jika kelak mereka jodohnya aku takkan menghalanginya. asalkan untuk sekarang harus bisa saling menjauh dulu" ucap beliau memberi ultimatum.

__ADS_1


Ia mengangguk seolah menyetujuinya. tapi dalam hatinya sungguh ia tak tega menghancurkan kebahagiaan mereka. cinta masa remaja yang harus kandas karena keegoisan . bukan tak dimengerti apa yang dirasakan sosok yang kini tepat dihadapannya tapi ini rasanya terlalu naif dan membesar - besarkan keadaan.


" harusnyaaa,,, kita sebagai orang tua memahami mereka , mengawasi mereka, dan membimbing mereka,,, bukan menghancurkan rasa yang sudah mulai bertumbuh dalam diri mereka " begitu kata hati mamahnya Meisya.


__ADS_2