
Hari- hariku kini seolah sedang mekar berbunga. kebahagiaan yang sempat pudar kini seakan dapat kuraih lagi dalam genggamanku. ada Rama disampingku meskipun itu kulakukan di belakang sosok Irfan yang masih bersetatus kekasihku. tapi kini aku seakan tak peduli akan kehadirannya.
" kita kekantin bareng yu" ajak Irfan suatu saat kala sedang istirahat.
" kamu duluan, aku harus ke perpustakaan dulu. mau cari buku "
" baik ,kita kesana bersama - sama"
" tapi gak sekarang ,,,paling bentar lagi"
" ya sudah aku tungguin" kata Irfan tetap sabar.
" bisakah kau tak selalu datang ke kelasku,,, bisakah kau tak selalu harus bareng aku? bisakah aku bebas mau kemana sama siapa saja?" tiba - tiba tanpa sadar aku meninggikan suaraku.
" apa salah?? aku hanya ingin menemanimu diwaktu senggangmu"
" salah!!!!" jawabku mantap.
" dimana letak salahnya??? aku tak mengganggu pelajaranmu,, selama ini aku tahu batasannya"
__ADS_1
" memang tidak,, tapi kau seolah aku tak boleh dengan yang lain selain denganmu"
" begitukah?? aku tak pernah melarangmu bersama teman - temanmu. aku tak pernah melarangmu bersama Lulu"
" iya aku tahu tapi mereka merasa menjadi penghalang bagi kita"
" aku tak mengerti pemikiranmu, atau kau sedang berusaha menjauhiku??"
" terserah!!!" ucapku ketus.
" baiklah,,, aku tunggu nanti pulang sekolah" kata Irfan seraya ia berlalu dari kelasku.
" kau murung?? ada apa??" tanya Lulu saat keluar dari perpustakaan
" tadi aku sedikit bertengkar dengan Irfan"
" kenapa?"
" aku melarangnya selalu datang ke kelasku"
__ADS_1
" alasannya??"
" gak ada alasan . aku cuma sedikit terganggu saja"
" jangan - jangan kau mulai menjauhinya"
" mungkin!! daripada aku terus dengannya tanpa hati" jawabku entah darimana asalnya keberanian itu.
" Sya... yakin kau mau berpisah dengan Irfan??"
" yakin,, cuman belum tahu harus darimana dan apa alasannya,,, aku sering kasihan padanya. dia selalu sabar menghadapiku tapi perasaanku semakin menjauh darinya. kita lebih baik jadi teman daripada seperti sekarang".
Pulang sekolah Irfan seperti biasa sudah menunggu. seperti biasanya pula ia menebarkan senyuman hangat menyambutku. seolah tak ada apa - apa ia berjalan riang disampingku juga Lulu.
" kau haus? mau minum?" begitu katanya. tapi aku cuma menggelengkan kepalaku. seperti biasa Irfan bercerita ini itu tapi aku hanya menyimaknya.
terdengar samar - samar dari belakang suara Rama bercengkrama dengan kawan- kawannya. aku berusaha untuk tidak meliriknya. aku malah berjalan melambat. hingga segerombolan yang dibelakang bisa melewati Irfan, Lulu dan juga aku. benar saja ada Rama disana. ia melirikku dengan wajahnya yang sedih. ia melihatku dengan sinar kecemburuan yang sangat dalam. aku ingin mengejarnya,,, aku ingin memanggil namanya, bahkan aku ingin berjalan bersamanya bukan dengan Irfan. tapi aku segera sadar aku tak boleh melakukannya didepan Irfan. bagaimana pun aku tak ingin melukai hatinya meski dibelakangnya aku sudah sering menyakitinya. Kulirik sosok Irfan disampingku yang selalu ceria saat bersamaku,,, ku tatap punggung Rama yang semakin lama semakin menjauh dari pandanganku. aku tak tahu sebenarnya siapa yang pantas menjadi kekasihku???
mereka hadir dihidupku dengan karakter yang berbeda. Irfan selalu sabar , ceria dan memperjuangkan segalanya untuk aku . tapi aku tak pernah senyaman dengan Rama. sementara Rama ia tak pernah berusaha berani memperjuangkan cintanya secara terbuka seakan ada penghalang yang begitu kuat tapi aku terlanjur mencintainya.
__ADS_1