Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 11 OMG, WHAT HAPPEN WITH YOU?


__ADS_3

Sofie menyembunyikan tampang bersalahnya dengan menunduk diam, ia mengira dengan sikap seperti ini saja bisa mencaikan suasana yang terlanjur tegang gara-gara ulahnya.


“Eh Mas, sorry ya bukan ikut campur urusan lu pada. Cowok ini penumpangku dan cewek Mas ini yang nebeng sama dia. Kalo dibilang selingkuhannya sih belum sampe di level itu deh, cowok ini nggak tertarik kok sama dia. Daripada bikin keributan mending Mas nya menepi deh selesaikan urusan pribadi.” Ujar Manda kesal, ia tidak mau melihat baku hantam dan penghakiman sendiri terjadi lagi.


Manda memapah Seo Jun yang masih meringis sembari memegang perutnya hingga Manda sedikit cemas jika terjadi sesuatu yang serius akibat pukulan itu. Ia berhenti sejenak lalu menoleh pada dua orang yang masih membisu di belakang.


“Oya, tinggalin nomor hape lu. Jaga-jaga kalau sampai kondisi cowok ini serius akibat perbuatan lu, gue tahu di mana harus mencari pertanggung-jawaban. Sekalian mobil gue yang lecet itu ntar gue totalin.” Manda menantang Reagan, matanya judes melirik pria yang tadinya segarang macan namun kini seimut kucing.


Sofie menarik lengan Reagan, memintanya tidak menuruti kemauan Manda. Urusannya akan panjang kalau sampai mereka terus menghubungi.


“Ehem, berapa nomor lu buru! Takut? Ini belum apa-apa loh, lu tadi sok jagoan kok sekarang nggak berani tanggung jawab? Buru!” Teriak Manda tegas.


Seo Jun keheranan dengan apa yang Manda ributkan, ia tak mengerti pembicaraan itu dan memilih diam. Membiarkan ia berada dalam perhatian si gadis yang jaraknya dekat banget dengannya.


Reagan merinding dimarahi oleh gadis yang tampaknya lebih jutek daripada Sofie, saking gugupnya sampai ia menghiraukan ocehan Sofie yang memintanya diam. Reagan malahan menyebutkan satu persatu angka pribadinya


dengan terbata-bata.


“Lu masih waras nggak ngapain nurutin dia. Kalau dia lapor polisi habislah kita.” Sofie memarahi Reagan yang masih cuek terhadapnya. Seolah apapun yang dikatakan Sofie mental dari pendengaran.


Manda mengingat nomor yang disebutkan Reagan tanpa harus menyimpannya dalam kontak ponselnya. Berbekal ingatan super tajam, ia sanggup menghapalkan apapun dengan sekali dengar. “Oke, berdoa aja lukanya nggak

__ADS_1


parah. Gue ajak dia visum buat jaga-jaga perlu sampai urusan hukum.” Manda menyeringai kemudian berbalik memapah Seo Jun kembali ke dalam mobil.


Sofie memucat seketika mendengar ancaman Manda, jika sampai berurusan hukum maka ia bisa pastikan kemarahan kedua orangtuanya dan konsekuensinya. Reagan pun hanya membisu sembari melipat kedua tangan, rasa sesal baru muncul belakangan. Ia kehilangan akal sehat dan bertindak sebelum pikir panjang, jika memang harus berbuntut panjang maka ia tak punya pilihan selain menghadapi dengan gentle. Sekarang urusan yang lebih darurat adalah mendengar pengakuan si biang kerok, Reagan yang masih diam langsung menarik tangan Sofie dengan keras dan menyeretnya ke arah pintu keluar.


“Sakit, lu bisa pelan gak tangan gue udah merah!” Bentak Sofie yang separuh ketakutan menghadapi kemarahan Reagan. Pria itu wajar marah karena dampak kelakuan Sofie mengakibatkan kerugian yang cukup besar, belum lagi kepanikan yang dibuatnya.


“Lu bisa diam? Kuping gue eneg dengar teriakan lu.” Jawab Reagan jutek.


Sofie tidak terima dengan jawaban kasar itu, ia mulai meronta. “Oh gitu, yaudah lepasin gue. Ngapain sama orang yang bikin lu eneg. Lagian gue nggak mau urusan ama hukum, lu kelewat **** pake ngasih nomor hape segala ama tuh cewek.” Ujar Sofie mencoba lempar batu sembunyi tangan padahal semua kekacauan itu berasal dari dia.


Semakin Sofie bersikeras berontak, semakin kencang Reagan memperkuat cengkramannya. “Lu kira lu pintar? Dia cuman tanya tanpa dicatat, kecil kemungkinan dia nyari gue. Palingan cuman gertakan doang, sedangkan elu? Gimana lu jelasin ke gue kenapa lu bisa menghilang dari toilet bandara sampai Monas bersama pria asing?” Cecar Reagan dengan sinis, ia perlu penjelasan sejelasnya sekarang. Tadinya ia ingin selesaikan di tempat yang lebih tenang namun sekarang kesabarannya benar-benar mencapai limit terendah.


***


sekarang. Feelingnya mengatakan bahwa pria berkewarganegaraan Korea itu tengah mengalami kesulitan, dan hati kecilnya tak tega meninggalkan begitu saja.


“Kamu masih sakit?” Tanya Manda spontan lalu tersadar bahwa ia berucap dengan bahasa Indonesia yang tidak dimengerti lawan bicaranya.


Seo Jun hanya mengangguk, padahal ia tidak mengerti apa yang dibicarakan gadis itu namun reaksinya langsung menjawab dengan bahasa tubuh.


Manda mengambil ponselnya kemudian mengandalkan aplikasi lagi untuk komunikasi, “Kamu masih sakit?” Ujar suara mesin penerjemah dalam bahasa Korea.

__ADS_1


Seo Jun tersenyum kecil lalu mengambil ponsel itu untuk membalas. “Lumayan. Tapi nggak apa-apa, jangan cemas.”


Jawaban Seo Jun tak lantas menenangkan Manda, apalagi sekarang pria itu ada dalam mobilnya. Andai terjadi sesuatu yang fatal, Manda pasti yang pertama dijadikan saksi. Tidak banyak yang Manda ketahui  tentang Seo Jun, apa tujuannya dan siapa temannya. Pengakuannya bahkan lain dengan kenyataan, Seo Jun mulai merem dan diam hingga Manda mengguncang lengannya saking takut ia tak sadarkan diri.


“Hei … Aku bawa ke rumah sakit aja ya? Apa ada temanmu yang bisa dihubungi?” Tanya Manda yang masih mengguncang lengan Seo Jun.


Seo Jun dengan berat menggerakkan mata, susah payah membukanya walau setengah inci. “Ng… Jangan! Aku nggak boleh ke rumah sakit.”


Manda bingung, pria itu bicara tanpa menggunakan alat hingga ia tak mengerti apa yang disampaikan. Manda berusaha menyodorkan ponsel dan memaksa Seo Jun memegang ponselnya untuk ngetik. Meskipun ogah-ogahan akhirnya Seo Jun melakukannya.


“Nggak usah ke rumah sakit, aku nggak apa apa. Biarin aja!” Jawab Seo Jun.


Ponsel Manda berpindah ke tangannya lagi, ia bersiap mengetik balasan. “Periksa bentar ya, aku antar ke rumah sakit. Jangan mati di mobilku.” Ujar Manda yang gelagapan hingga mengatakan hal-hal buruk dan berlebihan.


Ucapannya barusan seperti doa yang jadi kenyataan, belum juga Manda menyodorkan ponsel dan memaksa pria itu merespon, ia malah mendapati tubuh Seo Jun tumbang menyandar di pintu mobil. Sontak saja Manda terkejut dan berteriak sendiri, apa yang terjadi pada pria itu? Manda mengguncang tubuh kekar itu dengan keras, seperti mengguncang boneka yang lemas namun sayangnya tubuh pria itu terlampau berat sehingga Manda hanya sanggup menggoyangkan dan bergerak sedikit.


“Kamu kenapa hei? Hei … aduh.” Ujar Manda panik, ia lupa siapa nama pria itu dan tak tahu apa yang terjadi padanya. Jelas-jelas ia sendiri yang mengajak Seo Jun masuk ke dalam mobilnya lalu sekarang ia panik karena pria itu tidak bereaksi.


“Oh God plis, dia jangan mati dulu.” Doa Manda dalam ketakutan, menakuti dirinya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2