
Jovas menginjak gas mobilnya hingga melaju cukup kencang, ia tak akan membiarkan targetnya lolos lagi.
"Woi, yang bener dong nyetirnya." Pekik Devi protes karena ia tak siap tiba-tiba mobil Jovas berkecepatan tinggi.
Boro-boro menjawab protes Devi, perhatian Jovas terfokus pada jalanan.
"Eh?" Celetuk Devi reflek saat melihat mobil yang ia kenali pemiliknya melaju di depan mereka. Kini ia paham kenapa tiba-tiba Jovas tancap gas.
"Bagus! Terus yang cepat, selip mereka. Tikung bila perlu." Teriak Devi menghasut Jovas agar ngebut.
Jovas nyengir saja, wanita memang makhluk yang sulit ditebak. Dengan cepat bisa berubah suasana hatinya. Baru saja ia diprotes, sekarang ia malah didukung habis-habisan untuk ngebut. Namun Jovas menyimpan pendapatnya dalam hati, percuma meladeni Devi, gadis itu akan semakin berisik jika terus ditanggapi.
Mobil Manda mulai memelankan kecepatan, lampu sein belakangnya mengarah pada jalur kanan, Jovas pun mengikuti petunjuk mobil itu dan menyalakan seinnya.
"Mereka mau ke mana ya?" Tanya Devi yang tetap saja tidak digubris. Ia duduk menyimak sambil menggigiti bibirnya.
Mobil Manda masuk ke jalanan kecil, tapi masih terlalu besar untuk disebut gang. Jovas memelankan mobilnya setelah melihat mobil Manda berhenti, akan lebih baik jika ia bisa menjaga jarak agar tidak ketahuan.
"Kok ke sini sih? Mau ngapain mereka ke tempat remang-remang gini?" Tanya Devi.
Jovas diam saja, ia tak melepaskan pandangannya dari Manda yang kini tampak keluar dari mobilnya, senyuman Jovas langsung terbit lalu redup lagi saat melihat Seo Jun juga keluar dari sana. Seketika itu Jovas mengepalkan tangannya, ia geram, sangat geram.
Devi mendelik ke arah Jovas, habis sudah kesabarannya dikacangin terus sedari tadi.
"Hei, masih ada orang nggak nih? Dari tadi perasaan gue ngomong sama patung." Teriak Devi kesal.
"Udah ah, berisik bawel." Celetuk Jovas yang tengah melepaskan seat beltnya. Ia buru-buru keluar dari mobil, namun saat hendak menutup kembali pintu, Jovas langsung nyengir saat melihat Devi masih duduk manis di jok depan lengkap dengan sabuk pengaman yang masih terpasang.
"Lu mau turun nggak? Kalau nggak gue kunci nih!" Ujar Jovas setengah niat.
__ADS_1
Devi malah baru sadar dari bengongnya, ia buru-buru melepas seat belt dengan memasang wajah tak bersalah. "He he maap." Ujarnya basa basi.
Mereka mulai berjalan membuntuti Manda dan Seo Jun yang sudah duluan berjalan. Untung saja Jovas sangat perhatian hingga masih hapal jalan mana yang dilalui Manda meskipun ia tertinggal jauh.
Langkah Devi dan Jovas baru berhenti saat dari tempatnya berdiri sudah bisa melihat keberadaan targetnya. Jovas terkejut, begitu pun dengan Devi yang sampai mengucek matanya saking tak percaya.
"Cowok kayak gini yang lu bilang tajir melintir? Seumur-umur gue pacaran ama Manda, gue nggak pernah ajak dia makan di tempat beginian. Benar-benar nggak berkelas, oppa lu itu buang ke laut aja, kere kok deketin cewek gue!" Ketus Jovas yang kesal dan cemburu tentunya setelah memergoki Manda dan Seo Jun di tenda angkringan.
Devi juga tak menyangka bahwa selera Seo Jun ternyata aneh, namun ia juga tidak terima mendengar oppanya dijelek-jelekkan.
"Eh, yang seleranya nggak berkelas tuh cewek itu! Mana mungkin si oppa tahu tempat ginian kalau bukan dia ajakin. Lagian mana ada orang kere yang berani gajiin orang jadi supirnya, dua puluh juta sehari? Ya hanya oppa gue lah, dasar Manda aja matre." Ketus Devi.
Jovas terbelalak, mungkin ia salah mendengar bahwa kedekatan Seo Jun dan Manda hanya sebatas supir dan majikan? Lalu Manda digaji dengan nilai se-fantastis itu hanya untuk jadi supir? Benar-benar sulit dipercaya, dan Jovas tidak percaya.
"Lagian, jangan remehin tempat kecil kayak gitu. Begitu lu coba makanannya, lu bakal lupa derajat lu siapa." Timpal Devi yang tidak terima Jovas meremehkan tempat tongkrongan yang asyik itu sebelum mencobanya.
"Samperin ke sana lah, gue juga mau makan malam kali. Laper!" Celetuk Devi tanpa menoleh ke arah Jovas.
Mendengar itu, Jovas bergegas berlari menghampiri Devi. "Gila lu, nekad lu ketahuan mereka?" Hadang Jovas.
"Kenapa harus takut? Gue datang kan sebagai pembeli, sama kayak mereka. Kecuali kalau lu mau bikin onar di sana, mending lu nggak usah ikut." Jawab Devi acuh. Ia kembali melangkah menghampiri tenda sederhana di pinggir jalan kecil itu.
Jovas serba salah, ia ingin ikut tetapi gengsinya terlalu tinggi, ditambah lagi jika muncul bersama Devi. Otomatis Manda pasti akan menilai dia sebagai pria mata keranjang. Bella saja masih berstatus pacarnya, sekarang dia malah keluar makan bersama cewek lain. Semakin Jovas galau, semakin jauh Devi meninggalkannya.
❤️❤️❤️
"Ini namanya nasi kucing." Ujar Manda menjelaskan sebungkus kecil makanan yang dipegang Seo Jun.
"What? Cat food?" Seo Jun terkejut lalu mengembalikan bungkusan itu pada kumpulannya. Ia bergidik lantaran mengira lapak makanan minimalis itu menjual makanan manusia dan makanan kucing di meja yang sama.
__ADS_1
Manda malah terbahak kencang melihat sikap Seo Jun yang kelabakan, bisa-bisanya si Oppa salah paham, dikiranya nasi kucing itu sungguhan makanan untuk kucing. Manda mengambil lagi bungkusan yang tadi Seo Jun pegang, kemudian membukanya. Seo Jun mengamati kelakuan Manda dengan wajah meringis, seperti menahan rasa geli.
Manda sadar dipelototi, ia sengaja mendelik ke arah Seo Jun kemudian menyodorkan nasi dalam bungkusan kecil itu ke hadapannya.
Tanpa menjelaskan apa-apa, Manda mulai menyantap dengan sendoknya. Ia sengaja menambahkan sound efek mengunyah makanan dan menikmati kelezatannya demi menggoda Seo Jun.
"Aaammm... Ng... Delicious." Seru Manda sambil mengacungkan jempolnya, ia tersenyum lebar pada Seo Jun yang masih ngeri.
"You must try this!" Ujar Manda mengambil lagi sebungkus nasi kucing lalu membukanya untuk oppa.
Seo Jun menelan ludahnya, ia masih salah persepsi tentang makanan itu, ditambah setelah melihat rupa nasi kucing itu. Nasi putih yang palingan hanya tiga suapan, dengan toping ikan teri goreng beberapa ekor, beberapa irisan tipis telur dadar dan sambal."
Seo Jun menggeleng cepat, melihatnya saja sudah ngeri. Manda malah semakin terkekeh, hingga Seo Jun kesal dibuatnya.
"Hei, ini tidak lucu! Kenapa kamu malah makan makanan kucing? Apa di sini tidak menjual makanan untuk manusia?" Kesal Seo Jun.
Manda susah payah menghentikan tawanya, saking asyiknya tertawa hingga ia mengelap air matanya yang keluar di ujung mata.
"Itu hanya namanya saja, sebenarnya itu makanan buat manusia. Disebut nasi kucing karena porsinya sedikit seperti makanan kucing. Tapi ini enak sekali, cobalah sendiri. Ini nggak pedas kok, sambalnya manis."
Seo Jun agak lega mendengar itu, setidaknya pikiran buruknya terhapuskan. Ia mulai tergoda untuk mencicipi, apalagi Manda sudah merekomendasikannya, plus sambalnya tidak pedas. Si Oppa mulai mengambil sendok dan melahapnya.
Manda menopang dagu melihat reaksi Seo Jun memakan itu. Tiba-tiba mata Seo Jun berbinar, ia mengacungkan jempolnya sebagai bentuk penilaian terhadap nasi kucing itu. Manda tersenyum geli, ternyata sangat mudah membahagiakan si Oppa. Pria itu tidak cerewet dan mudah diajak membaur, Manda merasa ia semakin tertarik dengannya, karena kenyamanan yang entah sejak kapan mulai ia rasakan ketika bersamanya.
❤️❤️❤️
Mari makan yuk!
__ADS_1