Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 25 PERHATIAN YANG DIPUNGKIRI


__ADS_3

Seo Jun masih tercengang, perhatian sederhana yang diberikan Manda padanya terlihat begitu tulus. Ia bukanlah pria bodoh yang tidak bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang modus, selama ini belum pernah ada orang yang memperhatikannya dengan baik tanpa memandang statusnya. Bahkan kebaikan yang dirasakan Seo Jun dari orang terdekat yang mengaku sebagai saudaranya pun hanya sebuah kepalsuan. Jika tanpa embel-embel pengusaha paling berpengaruh di Korea, ia tak yakin akan ada yang memperlakukannya dengan tulus


seperti yang dilakukan Manda saat ini.


Kesal ditatap terus, Manda akhirnya hilang kesabaran. Ia langsung menyodorkan sendok ke mulut Seo Jun. Sontak tindakannya membuat Seo Jun tersentak lantaran diserang tanpa persiapan. Ia terpaksa membuka mulut dan membiarkan Manda menyuapinya dengan sedikit kasar, mungkin efek jengkel yang terlampiaskan.


Ekspresi wajah Seo Jun langsung berubah dalam suapan pertama, semula wajahnya mengerut lantaran takut rasa yang tidak sesuai selera, namun ia justru terlihat begitu menikmatinya.


“Gimana, Enakkan? Ini makanan paling merakyat dan cocok dengan lidah semua orang. Nih, makan yang banyak.” Manda tak lagi berniat menyuapi Seo Jun, ia menyodorkan piring ke tangan oppa itu.


Seo Jun memegang piring tanpa berniat menyuapi dirinya, ia malah menatap punggung Manda yang berdiri bingung membelakanginya. Makanan di tangannya diletakkan di meja, lalu Seo Jun meraih ponsel untuk bicara. “Kamu


nggak makan?”


Suara mesin penerjemah itu mengejutkan Manda, ia membalikkan badan untuk melihat Seo Jun. Pria itu menatapnya dengan tatapan sendu, membuat hati Manda trenyuh dan tak mampu menolaknya. Manda berjalan ke


ruangan lain tanpa sepatah kata, Seo Jun dibuat bingung namun ia tetap enggan bertanya. Sampai sosok Manda kembali terlihat berjalan mendekatinya, barulah Seo Jun tahu apa yang dilakukan gadis itu.


Manda menghampiri pria yang duduk di atas ranjang itu sembari membawa piring serta jatah makannya. Ia juga punya perut yang harus diurus juga, dan kini ia menempatkan diri di samping Seo Jun. Anehnya si oppa justru menatap Manda dengan terheran-heran, Manda sampai risih dipelototi seperti orang bersalah padahal ia hendak menyantap makanannya.


“Lihat apa? Cepat makan habis tuh minum obat!” Manda sedikit tegas, ia paling malas harus makan dengan tatapan dari orang. Dan ini kali kedua Seo Jun melakukannya, Manda sampai berpikir bahwa pria itu punya hobi aneh – memperhatikan orang makan.


Seo Jun hanya tersenyum, perlakuan galak Manda barusan justru terlihat manis. Entahlah, namun Seo Jun begitu menikmati saat melihat ekspresi gadis cantik itu menyantap makanan. Ia langsung berhenti menatap ketika Manda kembali meliriknya dengan sinis. Seo Jun menyendokkan sayur nangka dan mencicipinya, harus diakui bahwa rasa makanan yang ia sudah lupa namanya itu memang sangat enak. Bahkan ketika napsu makannya kurang, dan


mulut terasa sedikit pahitpun ia bisa merasakan kelezatannya.

__ADS_1


“Ng? Udah kenyang?” Manda melirik jatah makan Seo Jun yang menurutnya masih sangat banyak. Pria itu bahkan tidak menghabiskan separuhnya. Manda hanya mendapat jawaban anggukan kepala, kemudian si oppa kembali tiduran.


Manda menyudahi acara makannya, iapun sudah mulai merasa kenyang meskipun jatah makannya masih tersisa kurang lebih empat sendok. Dirapikannya bekas makan Seo Jun dan membiarkan pria itu berbaring dengan


tenang. Namun sekembalinya dari ruang dapur, Manda datang dengan segelas air hangat dan sebutir obat.


“Minum obat dulu, kamu harus cepat sembuh. Jauh-jauh ke sini bukan untuk tiduran sakit kan?” Manda menepuk pundak Seo Jun kemudian menunjukkan obat yang diletakkan di atas meja.


Seo Jun terkesima, ia menatap Manda penuh arti. “Gomawo (Terima kasih)” Ujarnya pelan sembari tersenyum. Ia memilih menuruti apa yang diminta Manda, toh tubuhnya memang perlu asupan obat dan istirahat agar segera


pulih. Benar kata gadis itu, kedatangannya kemari bukan untuk sakit dan menghabiskan waktu di kamar. Masih banyak tempat yang harus ia kunjungi, ia benci kesendirian, ia benci kamar. Namun untuk saat ini, masih ada Manda yang mendampingi. Ia tidak sepenuhnya sendiri.


Manda terdiam ketika mendengar ucapan itu, kendati tidak memahami bahasa Korea namun untuk ucapan Seo Jun barusan adalah kata-kata yang sering ia dengar dalam drama Korea. Manda tersipu, ia memilih membalasnya


dengan senyuman tipis kemudian beranjak dari hadapan oppa.


***


“Halo?”


“Selamat siang bu, kami dari bagian resepsionis ingin mengingatkan anda bahwa batas waktu check out tinggal satu jam lagi. Apa anda ingin memperpanjang?”


Manda terdiam gusar, kali ini ia kebingungan mengambil keputusan. Diliriknya Seo Jun yang tidur nyenyak setelah minum obat, melihat kondisi pria itu jelas menggugah hati Manda. Siapa yang tega membangunkan orang sakit


yang sedang tertidur?

__ADS_1


“Halo, ibu?”


Suara CS menyadarkan Manda dari lamunannya, ia terus berpikir tanpa memberi kepastian. “Ya, Bu. Sebentar ya aku tanyakan dulu.” Ujar Manda beralasan, padahal ia perlu tambahan waktu untuk berpikir.


Apa aku bangunin saja? Dia yang sewa kamar ini, jadi dia yang harus ambil keputusan dong! Eh, tapi kasian juga dia baru saja ketiduran. Gumam Manda dalam hati, ia masih bimbang memikirkan solusi.


“Baiklah, perpanjang saja bu.” Manda mengambil keputusannya, ia perlu menghela napas panjang untuk meyakinkan diri bahwa itu adalah keputusan yang tepat.


“Baik, bu. Silahkan ke bagian resepsionis nanti untuk menyelesaikan administrasi. Terima kasih.”


Manda masih mematung sembari memeluk gagang telpon, ada satu hal yang terlewatkan dari pertimbangannya. Ia baru ingat bahwa Seo Jun mengambil kelas kamar VVIP, harga per malamnya mungkin ditaksir mencapai


puluhan juta. Dan ia baru saja dengan percaya dirinya mengatakan akan memperpanjang satu malam. Jika Seo Jun ternyata keberatan, lalu siapa yang akan membayar tagihan? Manda menggigit jari, ia benar-benar ketakutan sekarang. Mau menjebolkan tabungannya pun, ia mungkin tidak punya uang sebanyak itu sekarang.


“Sssttt … Bangun, bangun!” Manda menghambur ke atas ranjang, rasa kasihan dan kemanusiaannya terhadap Seo Jun buyar seketika. Kala terjerat masalah uang, ia mengabaikan rasa sungkannya. Manda menyibak selimut agar lebih mudah membangunkan si oppa, tubuh pria itu terlihat mulai berkeringat dan ia tertidur sangat pulas. Melihat kondisi itu, lagi-lagi membuat Manda trenyuh. Ia berhenti mengguncang tubuh pria itu, percuma rasanya. Sudah kesekian kali ia berusaha membangunkan saat tertidur, namun Seo Jun tampaknya memang tipe orang yang jago tidur. Waktu tertidur di mobil yang ia kira pingsan, dan sekarang pun sama susahnya untuk dibangunkan.


Manda menyerah, ia berdiri sembari menghela napas. Tak ada pilihan lain, ia harus bertanggung jawab atas apa yang diputuskannya.


***


Cuplikan episode berikutnya :


“Apa? Semahal itu untuk satu malam? Ng … Bisa downgrade nggak ke kamar biasa?”


Seo Jun terbangun dengan kondisi lebih segar, namun tidak mendapatkan Manda di dalam kamar. Niat usilnya muncul, ia ingin memanfaatkan perhatian Manda dalam kondisi sakit. Seo Jun tersenyum culas, ia bersiap untuk pura-pura sakit lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2