Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 56 RENCANA DEVI DAN MOON


__ADS_3

“Noona dengarkan penjelasanku dulu….” Devi susah payah merengek pada Moon yang pagi-pagi sudah menghujaninya dengan omelan. Sederet kata-kata pedas yang tercuat dari Moon menjadi sarapan Devi yang bahkan belum sepenuhnya melek dari ngantuknya.


“Apa lagi yang perlu dijelaskan? Sudah jelas kamu ketahuan sama oppaku. Aku kan sudah bilang ini misi rahasia dan begitu kamu melanggar persyaratan, kerjasama kita putus!” Ketus Moon yang terlanjur kecewa dengan kinerja Devi.


Gara-gara ulah Devi yang tidak professional itu, Moon harus mendapatkan ganjaran dari Seo Jun. Sekarang ia harus putar otak untuk memikirkan cara agar mendapatkan kepercayaan dari Seo Jun lagi. Bahkan gara-gara telpon tengah malam dari si oppa, terpaksa Moon terjaga dengan pikiran kacau hingga pagi. Ia tak henti galau berpikir buruk tentang gadis yang menghabiskan malam bersama si oppa. Betapa beruntungnya wanita bernama Manda


itu, baru mengenal Seo Jun beberapa hari sudah bisa menginap sekamar dengan Seo Jun. Sementara Moon yang sejak kecil hingga tumbuh dewasa bersamanya saja tidak pernah diperbolehkan masuk ke kamar pria itu.


“Noona, kejadian kemarin sungguh di luar prediksiku. Tadinya pengintaianku suda mulus, tapi ketika melihat wajah sedih oppa Seo Jun yang seperti ingin menangis, hatiku luluh. Aku takut kalau dia sakit atau sedang dalam masalah, maka dari itu aku menghampirinya.” Devi menjelaskan dengan cepat, takut dipotong Moon lagi dengan teriakan jengkelnya.


Moon terkesiap, Seo Jun terlihat sedih? Informasi itu langgung menggelitik rasa penasaran Moon. Tetapi gengsinya terlalu tinggi, ia harus menahan rasa penasarannya sebentar lagi untuk tidak merespon alibi Devi. Moon berdehem kemudian meninggikan intonasi suaranya untuk menggertak Devi lagi. Selagi kesempatan masih terbuka untuk memprotes kelalaiannya.


“Lalu kenapa kau mengambil foto dengan sudut seperti itu? Kamu kira aku peramal? Bisa lihat wajah orang yang tampak dari samping?” Kesal Moon.


Devi memucat, ia akui itu jelas kesalahannya. “Ng, maaf noona… Aku tidak tahu kalau gadis itu tiba-tiba bergerak lalu terjepret kameraku. Susah mendapatkan foto dari sudut depan, aku janji kalau noona memberiku kesempatan, aku pasti kirimkan foto sejelas-jelasnya. Bila perlu yang tampak komedonya noona, biar jelas gimana wajahnya. Hmm… Menurutku dia nggak cantik-cantik amat kok, lebih cantikan Noona.” Jelas Devi yang sengaja melebih-lebihkan agar Moon merasa tersanjung.


Pujian Devi ternyata mempan, secara reflek Moon merapikan anak rambut yang menganggu di telinganya. Ketika menyibak rambut pendek itu, Moon merasanya dirinya sangat cantik dan tersipu malu seorang diri. Hanya sekilas saja, kemudian ia harus kembali menghadapi kenyataan yang belum selesai dengan Devi. Dan ia kembali pasang nada jutek.


“Memberimu kesempatan? Hmm… Kedengarannya familiar, seperti lagu lama yang kemarin aku dengar juga.” Sindir Moon.

__ADS_1


Devi melengos, ia bahkan menepuk jidat saking pusingnya merayu cewek Korea itu. “Noona, plis.” Desis Devi, entah harus bagaimana lagi ia memohon.


“Devi, apa kau tahu pepatah yang bilang keledai saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama. Oh, atau apa kau tahu bahwa kesempatan itu tidak bisa datang ketiga kalinya? Kau sudah kehilangan dua kesempatan yang kuberikan untuk kerjasama, tapi hasilnya? Apa jaminan kalau kau tidak akan mengulangi kesalahan lagi jika aku memberimu kesempatan?” Seru Moon.


Devi langsung sumingrah, “Aku janji noona, asalkan kau memberiku kesempatan lagi, aku akan pakai strategi yang lebih baik. Bila perlu aku akan pisahkan wanita itu dari oppa, kau bisa mengandalkanku untuk itu.” Ujar Devi mengiklankan keunggulannya demi meyakinkan klien.


Moon menghela napas kasar, “Huft, sudahlah jangan berlebihan menyanjung dirimu lagi. Aku cukup tahu janjimu tak semanis kenyataan, pokoknya ini kesempatan terakhir! Begitu kamu gagal kali ini, anggap saja kita tidak saling kenal karena aku tidak mau kena imbas lagi.” Ujar Moon, ia memang tetap memakai jasa Devi lantaran hanya gadis itu yang bisa ia andalkan. Hanya saja, Moon harus lebih mengecam dia agar tidak sembrono lagi.


“Baik noona, percayalah kali ini kau tidak akan kecewa.” Seru Devi penuh semangat.


“Hmm… Lalu apa rencanamu untuk memisahkan mereka?” Tanya Moon yang mulai menunjukkan rasa keponya.


Devi menyeringai, lebih tepatnya nyengir karena ia tadi asal celetuk dan belum terpikir bagaimana langkah selanjutnya untuk mewujudkan misi Moon. “Ada deh, pokoknya aku pasti laporkan hasilnya padamu.” Gumam Devi berkelit, padahal ia sungguh belum punya ide.


pembicaraan dengan Devi. Bergegas Moon mengecilkan suaranya lalu gestur tubuhnya seolah menutupi pembicaraan itu agar tidak didengar wanita itu.


“Sudah dulu, kamu kerjakan tugasmu dan laporkan padaku nanti.” Bisik Moon di ujung telpon lalu segera mengakhiri panggilan tanpa mendengar respon dari Devi dulu.


Wanita itu tersenyum licik, bahkan ia menaikkan satu alis ketika Moon meliriknya. “Telpon dari siapa? Oh… Apa dari oppa kesayanganmu? Haha… Sudahlah, kubur saja mimpimu untuk memilikinya. Dia tidak pernah mencintaimu!” Sindir wanita itu, ia semakin senang begitu melihat raut tidak senang dari Moon.

__ADS_1


“Untuk apa kemari? Bukankah sudah sering aku bilang, jangan tampakkan diri di hadapanku! Apalagi datang ke kantor ini, apa kirimanku setiap bulan masih kurang untuk membungkammu?” Seru Moon dengan tampang tidak


senang, ia berjalan mendekati wanita itu dan berniat mengusirnya secepat mungkin.


“Ayolah, jangan buat dirimu terlihat seperti anak durhaka. Apa salah kalau seorang ibu datang mengunjungi anaknya? Kau tidak pernah datang menemuiku, terpaksa aku yang harus kemari melihatmu. Hah, sepertinya kau tetap sama seperti biasanya, tetap payah!” Cibir wanita yang tak lain adalah ibu kandang Moon.


Telinga Moon panas mendengar sindiran itu, ia melipat kedua tangannya lalu menatap tajam pada wanita itu. “Ibu berkata seolah kau bisa jadi ibu yang baik untukku. Hah, ayolah jangan naif! Hentikan sandiwaramu dan jangan paksa aku berbuat tak berbakti padamu.” Kesal Moon, kesabarannya sungguh teruji sekarang.


Wanita itu bukannya merasa tersindir tetapi semakin berlaku seenaknya, ia bahkan berjalan melewati Moon lalu duduk di kursi kebesaran Moon tanpa permisi. Sikap tidak sopannya spontan mengundang reaksi Moon untuk sedikit keterlaluan bertindak, Moon dengan kasar menarik tangan ibunya agar beranjak dari kursi itu.


“Jangan uji kesabaranku, cepat tinggalkan kantor ini sebelum yang lain mencurigaimu! Jika kamu merasa menjadi ibu yang baik untukku, tolong jangan timbulkan masalah untukku terus. Aku cukup ikhlas menafkahimu, menuruti kehendakmu yang hidup foya-foya dengan kartu kreditku. Apa kau belum puas?” Kesal Moon, matanya bahkan berkaca-kaca saking emosinya ia melontarkan isi hatinya.


Wanita itu tersenyum sinis kemudian berbisik di telinga Moon, “Kalau begitu berikan padaku kartu kredit unlimitedmu, aku jamin hidupmu aman dariku setidaknya untuk beberapa bulan.


Moon mengepalkan tangannya, geram menghadapi wanita yang menyandang status ibu kandungnya itu. Selain fakta bahwa dari rahim wanita itu Moon dilahirkan, selebihnya tidak ada keistimewaan lain lagi dari ibu penggila


hidup mewah dan licik itu. Jangankan kasih sayang, jika Moon tidak bisa berguna untuknya seperti sekarang, mungkin sudah lama wanita itu membuangnya bak sampah tak berguna. Andai bisa, Moon justru ingin dibuang seperti itu ketimbang harus sakit hati ditempeli parasit berkedok ibu. Salahkah Moon jika ia tak bisa


menyayangi ibunya?

__ADS_1


***


Yang kangen Manda dan Seo Jun sabar ya, besok pasti muncul kok. Nah, kira-kira Devi punya rencana apa nih? Hmmm….


__ADS_2