
Reagan panik luar biasa, ia berlarian ke manapun mencari Sofie. Pusat informasi nyatanya tidak efektif untuk menemukan Sofie. Hanya ditinggal sebentar ke toilet namun kekasihnya tidak kunjung kembali, sementara semua barang berharganya masih ia kantongi.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Lagi-lagi suara mbak operator yang menyambut panggilan Reagan. “Apa gue harus bikin laporan penculikan? Masa sih hilang tanpa jejak secepat itu, lu kemana Sof?” Reagan mulai kehilangan semangat, pikirannya kacau seiring dengan bunyi pusat informasi yang mengumandangkan panggilan terakhir untuk pesawat yang akan ia tumpangi.
***
Dua puluh menit mengitari mal besar demi mencari orang yang belum pernah ia temui membuat kepala Devi serasa berputar – putar. Konter handphone bertebaran di lantai tiga dan empat mal ini, dan Devi nyaris pingsan bertanya satu persatu konter dan hasilnya masih nihil.
“Permisi, Mas. Tadi cowok ini datang servis Hp nggak?” Devi menunjukkan foto Seo Jun dari ponselnya. Kesekian kali ia harus pasang wajah ramah untuk bertanya, sampai kerongkongan terasa keringpun ia masih mendapat jawaban yang sama – gelengan kepala dari penjaga toko – penolakan lagi.
Devi memijit dahi, jika harus ditelusuri semua toko mungkin dua jam saja tidak cukup. Ia tengah memikirkan kerja cerdas daripada kerja keras seperti ini. “Ah, kenapa nggak minta bantu pusat informasi?” Devi menjentikkan jari hingga mengeluarkan suara, ia mulai optimis setelah mendapatkan ide. Dengan gesit ia berlari menuruni eskalator, lebih cepat daripada berdiri diam mengikuti tangga berjalan itu.
“Mbak, aku mau bikin pengumuman …” Devi menyebutkan hal aneh yang langsung membuat alis mbak CS mengkerut antara percaya atau tidak. Devi menyadari keraguan petugas informasi itu, ia kembali meyakinkan keseriusannya. CS itu mau tak mau meraih microphone dan membuat pengumuman.
“Pengunjung mal yang terhormat, kami informasikan khusus kepada seluruh rekan pemilik konter. Apabila toko anda kedatangan pelanggan seorang pria keturunan Korea yang menserviskan ponsel ke toko anda, silahkan langsung menuju pusat informasi menemui ibu Devi. Akan diberikan imbalan sebesar 1 juta rupiah tunai kepada anda yang menservis ponsel tersebut. Terima kasih.”
Devi tersenyum lebar, “Terima kasih, mbak.”
“Sama-sama.” Jawab CS dengan senyum ramah penuh kepalsuan, padahal dalam hatinya tengah menggunjingkan Devi yang kelewat royal.
Setelah informasi berbau materi dikumandangkan, lima orang pria menghampiri dan mengaku sebagai orang yang menampah ponsel dari orang yang dicari Devi. Mereka bahkan membawa ponsel yang dimaksud dan saling mengklaim bahwa mereka yang jujur.
“Bentar … Bentar, yang aku cari cuman satu orang tapi yang ngaku servisin hape dia sampe lima orang. Sekarang gini deh, jawab pertanyaanku dulu. Gimana ciri-ciri cowok yang aku cari ini dan siapa namanya?” Devi layaknya ajang pencarian bakat, tengah mengaudisi para kontestan.
__ADS_1
Kontestan 1, seorang pria berbadan buntal dan kacamata cupu.
“Anu … Dia tinggi, putih, ada lesung pipi, pake kemeja hitam. Ng… namanya, Lee Min Ho.” Seru si pria ketahuan halunya, sekeliling yang mendengar khayalan muluk itu langsung terbahak tawa.
Devi nyengir, segitunya demi uang satu juta. “Sorry bro, aku nyari temenku bukan nyari aktor. Lanjut yang lain plis jangan ngaco deh, aku bukan nggak tahu gimana ciri temenku jadi jangan bikin malu diri sendirilah.”
Dua orang pria lainnya saling bertatapan, sedangkan yang satu dengan meyakinkan berseru. “Tadi ada cowok putih
datang sama seorang cewek mau servis HP. Dari bahasanya sih kayak bahasa Korea kayak drakor gitu.”
Devi langsung semangat, “Trus?”
“Trus nggak jadi kuservis ponselnya karena dia mintanya harus cepat selesai.” Jawab pria itu santai.
Semangat Devi kendor seketika, ia baru saja dibumbungkan tinggi kemudian dihempaskan jatuh. “Apa bagusnya berita gitu. Ya sudahlah, sorry bro itu nggak memenuhi syarat, aku hanya berikan imbalan pada orang yang tepat.”
Devi menggeleng prihatin, miris dengan mental pemalak itu. “Informasi yang aku pasang udah sangat jelaslah, hanya untuk yang servis HP dia, bukan yang ketemu dia. Kalau memang nggak ada ya udahlah mungkin dia nggak jadi servis di sini. Sorry buat semuanya.”
Devi berniat mengakhiri pencariannya, semakin diteruskan rasanya ia bertambah gila.
“Lah, gue kan belum ditanya. Nama cowok itu Lee Seo Jun bukan?” Celetuk seorang pria terakhir yang sedari tadi memangku tangan sebagai penonton.
Nama yang sangat tepat disebutkan pria itu langsung menarik perhatian Devi, ia segera menghampiri pria yang terhalangi si pria halusinasi. “Dari mana kamu bisa tahu?” Tanya Devi konyol, kewarasannya ikut goyah gara-gara tingkah beberapa pria tadi.
“Lah, lu nyari yang servis hp ini kan? Orangnya tadi datang sama cewek lokal yang terjemahin bahasa dia. Jelas gue tahulah, kan bikin nota pake nama dia.” Ungkap si pria sambil menunjukkan ponsel dan secarik nota pink.
__ADS_1
Devi memeriksa keabsahan nota itu, walau belum bertemu Seo Jun namun ia yakin pasti benar yang dimaksud pria itu adalah Seo Jun. “Jadi dua hari lagi dia baru balik nebus HPnya?” Devi membaca tanggal pengambilan yang tertera di nota.
Pria itu mengangguk, segalanya sudah tercamtum dengan jelas. “Lalu mana bayaran gue?”
“Ah, oke ntar kuurus, tapi berikan nomor WA lu buat jaminan. Jangan berikan hapenya ke dia, sebelum aku datang. Deal? Aku kasih bonus lagi kalau bisa pertemukan aku sama dia.” Seru Devi membuat kesepatan.
Pria itu mengangkat alis, bukan kerjaan susah kalau hanya soal menghubungi. “Deal.”
***
Sofie disudutkan oleh Seo Jun, ia bisa berfirasat pria itu hendak menyingkirkan dia yang mulai tidak berguna. Ia memilih menikmati bakso dalam keheningan, membiarkan Seo Jun dan gadis di sebelahnya tebar pesona. Sebenarnya ia tinggal mengaktifkan ponsel dan bisa mengakses kendaraan online untuk memudahkan perjalanan, tapi resikonya adalah ditemukan Reagan.
Diraihnya ponsel dalam tas dan dengan mantap mengaktifkannya, ia tinggal memblokir sementara nomor Reagan asalkan tidak ditinggalkan Seo Jun.
“Nih, aku sudah mengaktifkan ponselku. Kau mau kemana habis ini? Awas kau berani ninggalin aku!” Sofie menunjukkan ponselnya yang sudah menyala.
Amanda menoleh ke Sofie, meskipun tak mengerti bahasanya namun saking berdekatan dengan gadis yang bicara penuh semangat itu hingga tergoda kepo.
Seo Jun tersenyum geli, gadis itu terlalu blak-blakan. Kalau tidak digertak dulu, gadis itu tak bisa menunjukkan itikad baiknya bertanggung jawab. “Oke, habis ini kita jalan.”
“Kemana?” Tanya Sofie girang.
Amanda merasa terkucilkan, hanya ia yang tak paham bahasa yang mereka gunakan. Tapi ia tak lagi peduli, seiring makanan yang sudah habis ia lahap. Ia bangkit berdiri dan meninggalkan mereka berdua, langkahnya diperhatikan sejenak oleh Seo Jun.
“Monas.” Ujar Seo Jun yang kembali fokus pada dirinya, bayang Amanda yang berlalu setelah membayar ke penjual pun bisa ia tepiskan. Gadis itu mungkin hanya sebuah iklan yang dipertontonkan sebagai penyemangat hati.
__ADS_1
***