
Manda baru saja menyelesaikan ritual mandinya – berendam di bathup lalu keramas, membersihkan seluruh tubuhnya yang merasa terkontaminasi oleh sentuhan Seo Jun. Padahal ia yakin tidak terjadi apa-apa semalam, namun tetap saja pengalaman menakutkan itu mengusik pikirannya yang masih gadis ting-ting. Kini Manda kembali galau di depan tas ransel yang isinya berantakan. Ia harus mengenakan pakaian apa lagi? Kemarin penampilannya bahkan dikritik oleh Seo Jun.
“Emang siapa dia berani kritik penampilanku?” Gerutu Manda yang kesal teringat kejadian kemarin. Alhasil
pilihannya jatuh pada setelan jumsuit two piece warna pastel, setelah dikenakan lumayan membuatnya terlihat girly. Manda tersenyum puas sembari memoleskan sun screen dan mengusapkan bedak tabur tipis pada wajahnya.
Suara bel di depan terdengar nyaring, Manda berhenti sejenak menepukkan spoon bedak ke wajah. Ia menoleh
ke arah pintu kamarnya, menyipitkan mata serta menajamkan indera pendengarannya. Bel itu terdengar seperti menerornya, tetapi Manda enggan beranjak, “Kan ada dia, paling dia yang bakal lihatin siapa yang datang.” Gumam
Manda lalu mengangkat bahunya dan kembali melanjutkan riasan yang sedikit lagi sempurna dengan sapuan lipbalm.
Hampir lima menit berlalu, suara bel itu masih berbunyi jelas yang membuat hati Manda tidak karuan. Ia menggertakkan gigi lalu dengan ogah-ogahan melangkah keluar kamarnya. “Kemana sih tuh orang? Kamarnya kan lebih deket pintu keluar, kenapa nggak ditanggapin sih?” Kesal Manda.
Begitu sampai di depan pintu, Manda mengintip dari lubang kecil di tengah pintu. Seorang pria berpakaian rapi yang lebih mirip waiter, berdiri menunggu di depan pintu. Manda mengedarkan pandangan ke sekeliling terutama kamar Seo Jun, hati kecilnya seakan berharap pria itu muncul dari balik pintu kamarnya. Seketika Manda menggelengkan kepala, membuyarkan pikiran yang terlampau jauh berharap itu. “Ngapain aku mikir dia.” Kesal Manda.
Manda tak punya pilihan lain, demi menghentikan teror bel itu maka terpaksa ia yang membuka pintu itu. Begitu si waiter melihatnya, senyum lebar dan ramah pun terbit dari wajah pria itu. Manda reflek membalas senyumannya, tetapi senyumnya lebih terlihat seperti nyengir lantaran melihat pria itu mendorong meja kecil yang di atasnya berisi beberapa macam masakan serta peralatan makan.
“Selamat siang nona, silahkan diterima pesanannya.” Ujar si waiter ramah.
Manda mengernyitkan dahi, bingung dengan perkataan si waiter. “Siang mas, apa nggak salah kamar? Aku nggak mesan apa-apa loh.” Jawab Manda ragu-ragu.
__ADS_1
Pria itu masih mempertahankan senyuman ramahnya, khas seorang pelayan. “Ah maaf nona, maksud saya ini adalah pesanan dari tuan Lee Seo Jun. Beliau berpesan agar anda yang menerima dan silahkan dinikmati hidangannya.” Jelas si waiter yang masih menunggu dipersilahkan masuk mendorong mejanya, atau setidaknya Manda bisa meneruskan mendorong sendiri meja itu ke dalam.
Manda tampak berpikir sejenak, ia kasihan kalau sisi egoisnya muncul dan menyusahkan pelayan itu. “Baiklah,
tinggalkan saja di sini. Nanti aku yang bawa masuk sendiri.” Ujar Manda yang akhirnya luluh dan bersedia meringankan tugas pelayan itu.
“Baik nona, setelah selesai anda cukup meletakkannya di depan kamar. Nanti tim room boy kami yang bersihkan. Terima kasih, selamat menikmati hidangan khas hotel kami.” Ucap pelayan pria itu dengan sopan sebelum beranjak dari hadapan Manda.
Manda hanya mengangguk sebagai responnya, ia menatap lesu meja itu kemudian mendorongnya masuk. Dari tampilan masakan di atas meja itu sangat menggugah selera makan, Manda pun langsung merasa lapar karena godaan di depan mata. Tetapi ia menahan diri lagi sekuat hati dan bergegas menghampiri kamar Seo Jun.
Pintu kamar Seo Jun digedor berulang kali hingga Manda letih, pria itu tak kunjung membukakan kamarnya. “Gila, apa dia masih tidur sampai sekarang? Eh tapi nggak mungkin, dia aja udah pesanin makanan. Berarti dia udah bangun dong!” Gumam Manda berasumsi sendiri, kemudian ia nekad meraih gagang pintu dan membukanya.
“Aarrghh!” Pekik Manda lalu spontan menutup kembali pintu. Ia sangat terkejut, begitu pula Seo Jun yang berdiri hanya memakai celana boxer sehabis mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Manda pasti sedang mematung dengan mulut ternganga di depan pintu dan tak punya nyali untuk kembali masuk.
Manda menutup kedua matanya dengan kedua tangannya, ia merasa malu telah melihat pahatan tubuh seksi seorang pria secara nyata. Yang dirisaukan Manda saat ini adalah mitos yang sering didengarnya sewaktu kecil, bahkan ayahnya pun pernah menakutinya seperti ini.
“Jangan suka ngintip orang loh, nanti mata kamu jadi bintitan (mata merah)” Terkenang suara ayah Manda yang menyampaikan itu.
Manda menggosok matanya dengan panik, “Aarrghh! Gimana ini? Mataku sudah nggak suci....” Keluh Mana, ia sungguh polos ketakutan matanya akan memerah gara-gara itu.
__ADS_1
“Huh, kenapa sih dia yang telanjang dada kok aku yang malu?” Kesal Manda beberapa saat kemudian setelah sibuk mencari pembenaran bahwa ia tidak bersalah, ia tidak mengintip dan justru menyalahkan Seo Jun yang tidak mengunci pintu kamarnya ketika berganti pakaian. Atau kenapa tidak melakukan hal sepenting itu di kamar mandi.
Belum kelar berdebat dengan pikiran kotor serta pikiran malaikatnya, tiba-tiba Seo Jun keluar dari kamarnya dan menambah gugup Manda yang kini terlihat seperti maling yang tertangkap basah mencuri pandang padanya. Manda mulai gelagapan dan berusaha menghindari Seo Jun yang mendekat dengan tenang, setiap langkah maju dari pria itu pasti dibarengi dengan langkah mundur dari Manda.
“Ada apa mencariku tadi?” Tanya aplikasi ponsel Seo Jun yang diarahkan ke dekat Manda.
Seketika itu Manda berdehem canggung kemudian meraih ponselnya untuk memberi balasan. Gadis itu masih tidak berani menatap Seo Jun, meskipun ingin sekali ia mengintip penampilan si oppa hari ini. Tetapi ia terlalu gugup untuk melakukannya sekarang.
“Pesananmu sudah datang, makanlah!” Ujar Manda sekenanya, kemudian bergegas balik kanan hendak
meninggalkan Seo Jun.
“Cantik!” Gumam Seo Jun polos dan ternyata berhasil menahan langkah Manda.
Gadis itu penasaran dan takut salah dengar apa yang dikatakan ponsel Seo Jun, ia bergeming tanpa menoleh pada Seo Jun.
“Kamu sangat cantik hari ini.” Ujar Seo Jun lantang menyuarakan pujiannya yang tulus.
Senyum Manda mengembang, tentu saja ia tak ingin memperlihatkan senyum itu pada Seo Jun. Namun ternyata ia tak salah mendengar, pujian itu ditujukan Seo Jun padanya. Entah mengapa Manda merasa hatinya berbunga-bunga, ringan seakan bisa diterbangkan hanya dengan sekali tiupan.
Kamu juga tampan, oppa.... Puji Manda dalam hatinya.
__ADS_1
***
Yeah! Mereka mulai terkena virus cinta nih hehehe... Kira-kira hubungan mereka bakal mulus kayak jalan tol nggak yah?