
Bella uring-uringan meskipun masih terhubung dengan Jovas, tapi ia tak puas dengan jawaban kekasihnya yang
terdengar ogah-ogahan. Sejak dua kali pertemuan dengan Manda, pria itu terlihat bersikap lain pada Bella. Meskipun tidak terang-terangan namun Bella bisa merasakan betapa dingin sikap Jovas padanya.
“Trus lu di mana sekarang yank? Kok mendadak banget batalin kencan kita di puncak? Padahal udah susah payah gue booking tempat.” Kesal Bella yang masih saja tak terima dengan batal mendadak kencannya.
“Gue disuruh nemenin bokap ngecek perusahaannya. Udah ya, gue sibuk.” Jovas menutup panggilan sepihak, tanpa mau mendengar respon Bella lagi.
“Eh... Eh... Tunggu!” Pekik Bella berusaha mencegah Jovas menutup telpon karena dirasa masih ada yang
harus dibahas. Sayangnya, ia harus menelan kecewa dan meratapi layar ponsel yang sudah berakhir panggilannya.
Bella menggertakkan gigi, ia geram dengan sikap kekasihnya. “Gue nggak yakin lu serajin itu ngikut bokap lu ke kantor. Apa mungkin... Aaarrghhh... Dia punya selingkuhan?” Pekik Bella histeris membayangkan karmanya dibayar tunai saat ini.
***
“Berisik banget jadi cewek.” Jovas memijit dahinya yang pusing mendengar suara bawel Bella. Sebelum menjadikannya kekasih, entah setan apa yang merasukinya hingga menilai cewek itu menarik, bahkan lebih menarik dari Manda. Setelah mendapatkan Bella dan sering bersama, ia baru bisa melihat sifat asli cewek itu yang bikin pusing. Membandingkan Bella dan sang mantannya, ternyata masih bagus sifat Manda meskipun rada polos.
Penyesalan baru dirasakan Jovas setelah hatinya terbakar cemburu melihat kedekatan Manda dengan pria yang jauh lebih tampan darinya. Ada rasa tidak terima dari diri Jovas jika melihat Manda dimiliki orang lain, tepatnya Manda bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dari dirinya. Sungguh Jovas tak akan membiarkan itu mudah
begitu saja bagi Manda.
“Permisi tuan, saya sudah mendapatkan informasinya. Wanita bernama Manda itu sudah dua hari ini datang menjenguk ayahnya.” Seorang pria yang disewa Jovas untuk menyelidiki Manda akhirnya datang membawa kabar.
Jovas melirik pria tinggi kekar itu dengan antusias, “Lalu ayahnya masih dirawat di rumah sakit? Apa Manda akan datang lagi ke sana?”
Pria itu mengerutkan dahi, “Ng... Itu saya tidak yakin tuan.” Jawabnya takut-takut.
Jovas tak terima, “Jawaban macam apa itu? Trus kamu sudah tahu di mana Manda tinggal sekarang? Aku tak
__ADS_1
yakin dia punya rumah setelah semua aset ayahnya disita.” Seru Jovas lantang bertanya.
Pria itu mengangguk, dari raut wajahnya tampak sebuah keoptimisan. “Ya tuan, saya tahu di mana wanita itu tinggal.”
“Di Mana?” Kesal Jovas yang mulai naik darah menghadapi pria yang menguji kesabarannya itu.
Pria itu terkesiap mendapat sentakan Jovas. “Di... Di hotel X bersama pria asing itu.” Jawabnya terbata-bata, hanya badannya saja yang besar dan bisa dibanggakan dari pria itu. Selebihnya nyalinya ciut, dan mentalnya tak sekuat baja.
Jovas terkejut, ia menggeleng cepat. “Nggak salah infonya? Dia satu hotel dengan orang asing itu?” Interogasi Jovas berlanjut, ia tak bisa percaya apa yang didengarnya.
Pria itu mengangguk mantap, “Tidak salah lagi tuan, memang seperti itulah. Pria asing itu menyewa kamar hotel itu selama berada di Jakarta, dan wanita bernama Manda itu satu ruangan dengannya.”
“Kurang ajar!” Sentak Jovas sekaligus menendak kursi yang tadi ia duduki. Sontak pria mata-mata itu tersentak kaget dan setengah melompat begitu mendengar suara kursi terjatuh.
“Kenapa dia malah tidur sama pria itu? Baru berapa lama kenal kok beraninya tidur sama dia! Kenapa gue yang udah pacaran duluan sama dia malah ditolaknya dengan sok suci. Kurang ajar lu, Manda.” Gertak Jovas, api cemburu membakar seluruh tubuhnya. Manda selalu mengelak setiap kali ia ajak berhubungan lebih dalam, jangankan mengecup bibirnya, sentuhan fisik yang lebih ringan saja tak bisa Jovas dapatkan dari Manda. Wanita itu benar-benar seperti tersegel utuh, tapi bagaimana bisa Manda dengan mudahnya memberikan pada pria
“Dua orang lawan jenis tinggal satu kamar, nggak mungkin nggak ada apa-apanya.” Geram Jovas, ia masih melampiaskan kekesalannya dengan bicara sendiri, seolah mengucilkan pria lain di dekatnya.
“Tidak... Jangan-jangan Manda terintimidasi, jangan-jangan pria itu memaksanya dengan memanfaatkan kekurangan Manda sekarang. Gue nggak boleh biarin ini terjadi, Manda harus gue dapatkan lagi.” Seru Jovas yang kini sudah berubah pikiran dari memandang rendah Manda, kini berbalik simpati padanya.
Jovas membalikkan badan menatap tajam pria yang berdiri serba salah di belakangnya. “Kamu... Cepat cari tahu lagi dan ikuti mereka ke manapun mereka pergi. Begitu ada peluang mendekati wanita itu, langsung kabari gue.” Perintah Jovas tegas.
“I... iyaa tuan. Permisi ya tuan.” Segera pria itu kabur dari hadapan Jovas, bisa sial jika ia ikut menjadi sasaran amukan padahal bukan ia yang melakukan kesalahan.
Jovas kembali larut dalam pikirannya, kenangan bersama Manda yang pernah begitu manis dalam ingatannya
seperti diputar lagi. Harus ia akui, alasannya berpaling dan mengkhianati Manda karena tak tahan godaan. Hasratnya sebagai pria normal menghendakinya menyalurkan pada wanita yang juga bersedia melakukan dengannya, dan ia tak bisa mendapatkan dari Manda. Itulah sebabnya, ketika Bella yang juga sahabat baik
Manda itu tahu peluang merebut Jovas, akhirnya lebih berani menyerahkan kehormatannya dan memenangkan hati Jovas dalam waktu singkat. Semula segalanya terasa nikmat, surga duniawi yang ia rasakan bersama Bella. Tetapi Jovas pun mulai menyadari seiring bersama Bella, bahwa kenikmatan hidup itu bukan sekedar urusan ranjang tetapi kenyamanan hati ketika membina hubungan. Dan itu tidak ia dapatkan dari Bella, terlebih sikap manja dan matre Bella makin membuatnya ilfeel.
__ADS_1
“Gimanapun caranya, gue bakal rebut lu kembali ke pelukan gue, Manda.” Tegas Jovas penuh gelora untuk bersaing dengan pria yang kini berada di samping Manda.
***
Manda dan Seo Jun baru saja menikmati sarapan pertama mereka di hotel mewah ini. Setelah tiga malam menginap di hotel mahal itu, mereka selalu melewatkan jam sarapan di restoran gara-gara bangun kesiangan. Untungnya tadi malam Manda bisa tidur lebih awal dan pulas sehingga bisa membangunkan Seo Jun untuk menikmati sarapan, walaupun sedikit harus berusaha menggugah pria itu bangun.
Seo Jun mengunyah makanannya dengan lesu, kepalanya masih terasa berat, ditambah kondisi perutnya
yang masih belum bersahabat pasca meneguk soju beberapa botol sendirian.
“Hooaaaam....” Terdengar suara menguap panjang dari Seo Jun sehingga membuat Manda melirik tajam ke arahnya.
“Ih, kau ini... Bagaimana bisa makan dengan mata tertutup. Jangan sampai ketiduran saat mengunyah,
aku tidak mau membantumu jika sampai keselek.” Gerutu Manda yang menggelengkan kepala melihat kelakuan Seo Jun.
“Hmmmm....” Hanya itu jawaban singkat dari Seo Jun. Ia terlihat tak bersemangat makan dengan wajah mirip wajah bantal.
Manda mendelik, mau kesal tapi geli juga melihat tampang lucu pria itu. “Makanya jangan serakah minum segitu banyaknya.” Ketus Manda sambil menahan senyum geli.
Seo Jun tidak menjawab, ia hanya melirik sekilas Manda kemudian kembali cuek.
“Habis ini balik tidur saja, aku mau ke rumah sakit sebentar ya bos.” Ujar Manda sambil tersenyum meminta pengertian bosnya. Setelah tahu trauma yang belum hilang dari Seo Jun, Manda tak lagi ingin pria itu kesulitan.
“Tidak... Aku mau ikut!” Tegas Seo Jun, suaranya yang mantap menjawab itu mengejutkan Manda.
Apa kau yakin dengan keputusanmu? Lirih Manda dalam hatinya.
***
__ADS_1