
Devi melipat tangan sambil melirik kesal pada pria di sampingnya. Tatapannya sarat akan makna meremehkan, bibirnya pun ikut manyun saat ia mengejek pria itu.
"Katanya orang pintar, pasti benar dugaannya. Tapi nyatanya meleset tuh perkiraannya. Boro-boro datang, sekarang kita benar-benar kehilangan jejak mereka." Kesal Devi.
Jovas merasa canggung dipelototi Devi, wajar sebenarnya gadis itu marah karena Jovas sudah banyak melontarkan kata-kata sombong namun hasilnya zonk. Manda sampai sekarang belum nampak batang hidungnya.
"Bentar deh, gue cari info dulu." Ujar Jovas lalu bergegas melepas sabuk pengamannya.
"Gue ikut." Seru Devi yang mengikuti jejak Jovas lalu bergegas keluar dari mobil.
"Gue nggak percaya kalau Manda setega itu, harusnya dia bergegas datang ke sini karena tahu ayahnya sudah balik ke penjara." Ujar Jovas bingung.
"Ya barangkali kan, siapa yang tahu hati orang. Apalagi ada oppa di sampingnya, ya betahlah dia." Ketus Devi, mereka bicara sambil berjalan.
"Maksudmu si cowok pucat itu belum tahu tentang ayah Manda?" Jovas tiba-tiba berhenti saking penasarannya. Namun Devi belum menyadari pria itu berhenti melangkah, ia tetap saja berjalan.
"Mungkin loh ya, cewek mana sih yang nggak malu...." Devi berhenti bicara setelah menyadari ada yang janggal. Ia melirik ke sebelah namun kosong, spontan ia menoleh ke belakang dan sadar Jovas tertinggal di belakang. Devi nyengir, ia baru saja bicara sama angin. Meskipun sebal, ia tetap berlari menghampiri Jovas.
"Lu apaan sih tahu-tahu berhenti." Pekik Devi.
Jovas nyengir, "Nggak usah teriak lah, gue denger kok. Tadi apa lu bilang? si cowok pucet nggak tahu tentang ayah Manda?"
Devi berdecak, "Sekali lagi lu sebut oppa gue cowok pucet, gue sambelin tuh mulut lu." Kesal Devi.
Jovas tertunduk, sengaja menghindari sorot mata Devi yang seakan hendak melahapnya.
"Ya maap." Ujar Jovas.
"Tapi emang kenyataan kok, tuh cowok putihnya kelewatan." Timpal Jovas berdesis.
Devi yang sudah senyum puas itu kembali menekuk wajah, "Lu bilang apa?"
Jovas mendongak lalu pasang wajah sok tegas, "Gue bilang kapan lu mau jawab pertanyaan gue. Dari tadi lu mulu yang monopoli pembicaraan."
Devi nyengir, ia terdiam sejenak baru bicara setelah moodnya kembali. "Ya mungkin aja, kalau gue jadi cewek itu, gue pasti malu punya ayah yang dipenjara. Apalagi ngakuin di depan gebetan baru."
Jovas manggut-manggut, "Masuk akal juga. Tapi kita udah sampai di sini, sekalian aja gue mau temui om Antonio." Ujar Jovas, ia melangkah lagi hendak memasuki kantor.
__ADS_1
"Trus gue harus ikut gitu?" Tanya Devi, ia masih berdiri di tempat.
"Terserah elu." Jawab Jovas singkat tanpa menoleh pada Devi.
Akhirnya Devi menyusul juga walau harus setengah berlari mengejarnya. Jovas menghampiri penjaga penjara lalu dengan senyum yang sok dibikin ramah, ia berusaha mendapatkan perhatian petugas.
"Permisi pak, kami mau menjenguk tahanan bernama Antonio Salim." Ucap Jovas dengan sopan.
Jovas dilirik dari atas kepala ke ujung kaki, tampang orang kayanya kelihatan banget, tapi itu tidak mempermudah Jovas mendapatkan perhatian petugas.
"Anak muda, di sini ada peraturannya. Hari kunjungan sudah ditetapkan di sana, silahkan baca sendiri."
Wajah Jovas mengkerut tidak senang diperlakukan seperti itu. Ia menoleh sebentar ke arah papan pengumuman yang dimaksud petugas itu lalu kembali menatap si petugas dengan senyum seringai.
"Pak, aku memang baru pertama kali ke sini karena ini bukan tempat yang enak dikunjungi. Tapi aku butuh sedikit bantuanmu ke depannya." Bisik Jovas, ia merangkul pundak petugas itu dan dengan lihay menyusupkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada petugas itu. Dalam sekejap saja perubahan sikap petugas itu terjadi.
"Oh baiklah, kau bisa datang lagi hari rabu depan saat jadwal besuk." Ujar petugas itu mulai baik.
Jovas menyeringai, "Sebenarnya aku ingin kau melakukan sesuatu padaku." Seru Jovas kemudian berbisik ke telinga petugas itu.
Devi terpaksa harus menyipitkan mata, memajukan telinga demi usahanya menguping. Tapi sia-sia saja, tidak ada informasi yang bisa ia dengar dari dua pria itu. Yang bisa Devi lihat hanya senyuman dan anggukan dari si petugas.
Jovas berbalik badan meninggalkan tempat itu, Devi pun segera mengejarnya hingga posisi jalan mereka sejajar.
"Oh, jadi sekarang sudah main rahasia-rahasiaan ya!" Protes Devi.
Jovas diam saja, sampai Devi menarik tangannya. "Apaan sih? Lepasin, atau lu pulang jalan kaki." Ancam Jovas.
"Gue nggak takut pulang sendiri, gue bisa pesan taksi online. Tapi lu udah mulai main rahasia ya, kalau nggak transparan gitu ngapain lu ajak kerjasama!" Bentak Devi.
Jovas masih tenang-tenang saja, "Kan tidak semua rahasia pribadi diberitahukan, sekalipun kita ini partner. Sudahlah, jangan buang waktuku, kalau masih mau ikut mobilku lebih baik jangan banyak tanya."
Devi terpaksa kalah telak kali ini, ia hanya menatap punggung Jovas yang nyaris hilang sepenuhnya dari pandangannya karena masuk ke dalam mobil. "Tunggu saja pembalasanku." Seru Devi yang masih tidak terima diperlakukan seperti itu.
πππ
"Kamu sudah dapat tiketnya kan?"
__ADS_1
Seo Jun tiba-tiba muncul dari belakang Manda lalu menyodorkan ponsel ke telinga gadis itu. Reflek saja Manda terkesiap, ia tak menyangka si oppa mengejutkannya yang sedang duduk menonton di ruang tamu.
Manda mengangguk, lalu mengambil ponselnya. "Bisakah kau bertanya dari depan, kau membuatku jantungan saja!" Ketus Manda.
Seo Jun tertawa kecil gara-gara melihat tampang jutek Manda. "Sorry... Soryy...."
Usai mengatakan maaf, pria itu melompat lalu mendarat tepat di samping Manda.
Kelakuan seenaknya itu hanya dapat gelengan kepala dari Manda. Fokusnya tetap pada drama Korea yang ditontonnya. Seo Jun menatap apa yang menarik perhatian gadis itu lalu tersenyum.
"Kamu juga pecandu drakor ternyata." Ujar Seo Jun diwakili ponselnya.
"Memangnya kenapa? Lebih baik nonton yang indah-indah, karena hidup nyata nggak seindah drama Korea." Jawab Manda santai, lalu tertawa terpingkal-pingkal karena menonton adegan lucu tayangan tersebut.
Seo Jun ikut tersenyum, bukan karena lucunya tontonan tapi karena senang melihat Manda tertawa lepas. Biasanya gadis itu jarang tertawa, dan Seo Jun baru sadar bahwa kecantikan gadis itu bertambah ketika dia tertawa bahagia.
"Kalau kamu memang suka nonton drakor, kamu akan lebih bahagia jika bisa menonton aktornya secara langsung." Gumam Seo Jun.
Manda tertawa saat mendengar itu. "Kau kira gampang berjumpa mereka? Bahkan jika mereka datang liburan ke sini pun, kesempatan foto bersama mereka juga rasanya mustahil. Jangan mimpi terlalu tinggi deh, sakit nanti kalau jatuh."
"Aku serius Manda, aku bisa membuatmu bertemu idolamu, siapapun itu. Asal kau ikut denganku ke Korea."
Deg! Hati Manda terasa berguncang saat mendengar itu. Baru saja Seo Jun mengajaknya ke negaranya? Untuk apa? Apa Manda tengah berhalusinasi?
Entah bagaimana ceritanya pula, Manda tiba-tiba melirik ke arah Seo Jun. Dan mereka saling bertatapan dalam diam.
πππ
Kalau kalian jadi Manda, mau nggak diajak ke Korea sama Oppa?
π¬π¬π¬
Guys, tolong dukung karya terbaru author yang judulnya PUBER KEDUA.
Ayo yang suka romance tapi bukan romance picisan hehehe, silahkan mampir ya. Tinggalkan jejak like, Favorit dan komentar ya. makasih, sukses untuk kita semuanya.
Aamiin....
__ADS_1