
“Pokoknya hari ini aku harus dengar kabar baik dari kamu. Ini kesempatan terakhirmu!” Kecam Moon yang sudah bertekad bulat akan memproses hukum kepada Devi jika hari ini sepupunya masih dinyatakan hilang.
Devi berdiri mematung dengan tangan sedikit bergetar, nyalinya terguncang karena ancaman Moon yang tidak bisa lagi digoyah. “I … Iya, aku sekarang lagi nunggu dia datang ambil ponselnya. Dia pasti datang, ya kan bang?” Devi menoleh ke belakang meminta dukungan dari si pemilik konter handphone.
“Iya, neng.” Ujar pria yang menservis ponsel Seo Jun itu seraya mengacungkan jempolnya.
Moon mendengar suara pria itu meskipun tidak mengerti bahasanya, ia menghela napas berat. “Devi, kalau kamu mencoba mempermainkan aku, kamu pasti menyesal karena berurusan denganku. Dia itu bukan klien biasa, bodohnya aku yang memercayakan dia pada guide abal-abal seperti kamu.” Kesal Moon.
Devi mengakhiri pembicaraan secara sepihak, kepalanya kian cenat-cenut mendapat kecaman keras dari Moon. Ia pun tidak menyalahkan Moon yang bersikap demikian, andai ia yang ada di posisinya pun pasti bereaksi sama, bahkan mungkin lebih tidak bermurah hati memberikan kesempatan lebih dari satu hari.
“Bang, dia beneran datang kan?” Devi malah bertanya pada si pemilik konter, gadis itu mulai pesimis karena sudah hampir dua jam menunggu namun pria berparas Korea tak kunjung muncul.
Aku pasrah dah kalau memang harus masuk penjara gara-gara ini. Gumam Devi dalam hati, ia sedih namun mau apa lagi?
“Ditunggu aja neng, kan neng yang minta dihubungi sebelum aku buka toko udah harus cegat di sini dulu. Siapa tahu ntar siangan dikit dia udah nongol, lagian hapenya pasti penting banget bagi dia. Nggak mungkin dia nggak
datang ambil.” Seru si pemilik konter yang nampak prihatin pada Devi, apalagi setelah Devi menceritakan kronologi insiden yang membuatnya rela menggelar sayembara demi mencari seorang pria.
Devi memaksakan diri untuk tersenyum, bagaimanapun ia harus menghargai abang yang peduli padanya. “Makasih, bang. Aku bakal nunggu sampai dia datang, bila perlu sampai abang tutup toko.” Ujar Devi penuh tekad.
Pria itu hanya nyengir, membayangkan gadis itu duduk di depan konternya dari jam Sembilan pagi sampai jam Sembilan malam sebagai satpam. Meskipun bukan ia yang ada di posisi Devi, namun kengiluan pantat sudah bisa pria itu bayangkan. “Iya deh neng, semoga nggak sampai tutup dia udah datang ya.” Ujar si pria itu senyam senyum.
***
__ADS_1
Mobil Manda terparkir di parkiran sebuah mall yang disebutkan Seo Jun dengan susah payah, ajaibnya pria itu lupa di mana tempat ia menserviskan ponselnya. “Benar kan ini tempatnya?” Tanya Manda ragu-ragu, ia menyipitkan mata demi mencari kebenaran dari raut wajah Seo Jun.
Sayangnya wajah si Oppa justru meragukan, ia celingukan sesaat lalu tersenyum canggung pada Manda. “Kita coba masuk dulu.” Pintanya sambil melepas seatbelt.
Manda mengikuti Seo Jun, melepaskan seatbelt lalu membuka kunci pintu mobil. Keduanya turun dan merenggangkan otot sejenak setelah penat duduk berjam-jam melewati arus macet. “Ayo buruan.” Manda memimpin jalan, meskipun terasa ragu bahwa ini mall yang tepat.
Dan benar saja dugaan Manda, ketika mereka sampai di lantai dasar, Seo Jun berhenti dan menatap sekeliling. Dari rautnya terlihat gurat bingung dan ragu, “Sepertinya bukan di sini. Tempatnya tuh ada eskalator dua yang agak jauh, tapi ini malah berdekatan. Trus banyak yang jual baju di lantai dasar. Ini malah isinya pameran mobil, bukan ini tempatnya.”
Manda menggaruk kepalanya, “Duh, mall di Jakarta itu banyak banget. Aku mana hapal interior di dalamnya kayak apa. Masa sih nggak ada petunjuk apapun, kita disuruh nebak mall mana. Kamu nggak dikasih nota? Nggak ada nomor yang bisa dihubungi?” Pekik Manda, ia sudah capek, ini mall ketiga yang mereka datangi dan berujung salah.
Seo Jun berpikir sejenak lalu meminta ponsel dari tangan Manda. “Nota itu semacam kertas bukti pembayaran di sini?” Seo Jun sepertinya ingat ada kertas yang diberikan oleh orang konter namun seingatnya Sofie lah yang mengambilnya.
Manda mengangguk senang, matanya mulai berbinar. Seharusnya sejak tadi ia menanyakan nota kepada Seo Jun agar mereka tidak main tebak-tebakan dan uji keberuntungan hanya demi sebuah ponsel. “Iya, mana kertasnya?” Pinta Manda, senyumnya mengembang lebar.
Ketika Manda tersenyum, giliran Seo Jun yang merengut. Wajahnya menunduk kecewa, ia keliru mengandalkan Sofie dan kini kerepotan sendiri meskipun gadis itu sudah tidak mengganggunya lagi. “Dibawa sama Sofie.” Jawab Seo Jun dengan suara lemas.
memegang nota adalah misi yang sama-sama sulit dan mustahil.
“Aku mau mau makan es krim dulu, aku stress.” Ujar Manda yang perlu mood booster segera, dan ia tergoda saat melihat stand es krim di seberang. Tanpa peduli respon Seo Jun, ia berjalan menuju stand itu.
***
“Lu yakin kita perlu ke sini yang? Dia kan nggak cari kita, ngapain kita nyari mereka? Ntar kita dituntut repot loh.” Reagan masih saja berusaha membujuk Sofie agar mengurungkan niatnya mencari Seo Jun. Sudah bagus mereka tidak menghubunginya, yang artinya masalah tidak berbuntut panjang. Namun Sofie malah keras kepala hendak terliat lagi.
__ADS_1
“Lu bawel banget sih, tadi gue mau datang sendiri lu ngebet mau ikut. Gue udah bilang kan jangan bawel, lu pulang aja kalau nggak senang.” Ketus Sofie, ia sudah sampai di mall dan tengah naik eskalator menuju konter.
Tidak sia-sia ia berpikir keras menemukan cara untuk bertemu Seo Jun lagi, untungnya ia punya otak yang cerdik dan menyimpan nota transaksi ponsel itu. Kalau saja Seo Jun yang membawanya, pasti tak ada lagi jalan untuk bertemu. Memang jodoh nggak kemana. Batin Sofie sembari terkekeh sendiri.
Reagan mengernyit lalu melirik Sofie, “Lu kenapa ketawa sendiri?”
Sofie bungkam lalu melirik sinis ke pacarnya, “Mau tahu aja lu.”
Mereka mempercepat langkah ketika konter yang dituju sudah terlihat, Sofie bahkan setengah berlari saking tidak sabar menghampirinya. Ia masih ingat wajah si pemilik konter yang berurusan dengannya, Sofie berjalan cepat dan melewati Devi yang duduk terbengong memainkan ponselnya.
“Bang gue mau ambil handphone.” Ujar Sofie bersemangat, ia menyodorkan sebuah nota yang langsung diperiksa oleh si pemilik konter. Pria itu mengernyit bingung, memang betul nota itu sesuai dengan ponsel milik pria Korea itu namun mengapa yang datang justru gadis ini dan pria yang berbeda.
“Neng yang kemarin datang sama cowok cakep orang Korea itu kan? Kemana cowoknya kok beda mukanya sekarang? Udah oplas ya?” Tanya si pemilik konter yang memiringkan kepalanya menatap Sofie dan Reagan.
Devi yang mendengar itu langsung beralih fokus dari ponsel lalu menatap Sofie dan Reagan. Ia bergegas berdiri dan mendekati mereka.
Sofie sedikit gelagapan, “Ng itu, dia nitipin ke aku kok. Notanya aja sama aku kan. Belum jadi ya ponselnya, Bang?”
Pemilik konter itu menatap Devi, “Neng, ini cewek yang kemarin datang sama cowok Korea itu, tapi sekarang cowoknya jadi lebih buluk. Bener nggak ini cowok yang neng cari?” Si pemilik konter belum merespon Sofie, justru ia mencari kebenaran dari Devi.
Reagan tersinggung dibilang buluk, ia memegangi wajahnya. “Bang ati-ati kalau ngomong, gue dibanding itu cowok masih cakepan gue ya.”
Devi melirik Sofie dan Reagan dari atas sampai ke bawah. Sofie sampai pasang wajah jutek karena dipelototi seperti itu.
__ADS_1
“Kamu yang bawa Seo Jun ke sini? Sekarang di mana dia?” Tanya Devi sambil menggenggam tangan Sofie dengan kuat.
***