
“Kamu tunggu di mobil saja, aku selesaikan administrasi dulu.” Seo Jun berpesan pada Manda sebelum mereka pencar. Barang-barang Manda dan pria itu dibawakan oleh dua orang room boy yang diupah Seo Jun.
Manda menuruti perintah Seo Jun, namun ia merasa tidak tenang membiarkan pria itu sendiri. Sembari menghela napas, Manda mengikuti room boy yang lebih dulu berjalan menuju parkiran. “Letakkan saja di sana.” Gumam Manda, memberi aba-aba pada dua pria itu untuk memasukkan tas dan koper ke jok tengah.
Mereka undur diri setelah tugas selesai, dan Manda kembali sendiri. Duduk menunggu kemunculan Seo Jun yang entah berapa menit lagi. Demi mengusir sepi, Manda teringat belum menghitung gajinya yang dibayarkan Seo Jun kemarin. Ia langsung memasukkan setumpuk uang seratus ribuan ke dalam tas pinggangnya, gengsi kalau harus menghitung di hadapan pria itu. Manda meronggoh keluar semua uangnya, ia mulai menghitung dengan teliti dan cepat seperti teller bank.
Sesekali mata Manda mengawasi di depan, takut jika Seo Jun tiba-tiba kembali sebelum ia selesai menghitung. Manda mempercepat sesi hitungnya, feelingnya mulai tidak enak dan menduga Seo Jun pasti akan segera datang. Ia bernapas lega karena akhirnya selesai bermain-main dengan kertas bernilai itu lalu buru-buru menyimpan dalam tas pinggangnya yang sudah sesak oleh tumpukan uang itu. Untung saja uang tersebut masih baru sehingga tidak
begitu menyita ruang tasnya saking masih licin.
“Dia beneran bayar aku full dua puluh juta, kalau sepuluh hari aku kerja sama dia udah bisa nyicil beli rumah nih.” Otak licik Manda mulai mengkhayal namun segera ia tepis dengan menggelengkan kepala.
“Tidak, tidak! Rumah di kota besar mahalnya selangit, duit dua ratus juta belum ada apa-apanya. Mendingan buat modal usaha aja, biar tetap ada pemasukan. Aku bisa nyari kos-kosan aja buat bertahan hidup.” Manda tersenyum dan mengangguk, ide itu terdengar jauh lebih realistis daripada sebelumnya.
Seo Jun muncul dari balik pintu kaca, bola mata Manda membesar menangkap sosok itu. Ia segera tancap gas lalu menjemput si Oppa dari depan pintu keluar. Seo Jun sigap melihat mobil yang berhenti di depannya, Manda membunyikan klakson kemudian pria itu bergegas masuk.
“So where are we going?” Tanya Manda. Ia bersiap menjalani hari yang cerah bersama oppa keren di sampingnya. Bagaimana tidak keren, hari ini pria yang kulitnya putih kinclong yang tak kalah dengan artis dengan perawatan super mahal itu kerennya berkali lipat dari hari kemarin. Seo Jun nyaris terlihat mirip seperti seorang aktor dari negaranya, ia mengenakan kemeja slimfit berwarna putih yang dipadankan dengan blazer Chinzen berwarna abu-abu tua, bawahannya mengenakan celana panjang jeans berwarna gelap dan sepatu kets putih, tak lupa kacamata hitam. Manda perlu setidaknya satu menit untuk menenangkan perasaannya yang canggung saat pertama menatap Seo Jun berpenampilan seperti itu di kamar hotel. Sekejap darah feminimnya mendesir, ia merasa pria itu sangat menarik perhatian.
Berbanding terbalik dengan Manda yang hanya dibekali pakaian pas-pasan saat diusir debt collector dari rumahnya. Mereka hanya membekali Manda baju rumahan, yang nggak banget dipakai untuk jalan-jalan. Entah bagaimana nasib koleksi dress ternama Manda yang menggelantung di lemari kamarnya yang sebesar satu kamar itu sekarang. Manda bahkan tidak diijinkan masuk dan mengucapkan selamat tinggal pada kamarnya, bonekanya, dan setumpuk koleksi komiknya.
Outfit of the day Manda sekarang sangat jomplang dengan Seo Jun, gadis itu hanya mengenakan kaos berwarna peach, sweater rajut berwarna putih dan celana jeans sobek-sobek di bagian lutut. Jangan tanya soal alas kaki, ia dengan pede hanya memakai sandal jepit dan untung saja mereknya bukan yang pasaran seharga dua puluh ribuan. Setidaknya alas kaki itu masih mengangkat sedikit harga dirinya, namun tetap saja dengan penampilan seperti itu jika disandingkan dengan pria di sampingnya, ia lebih cocok terlihat seperti asisten – jika tidak mau disebut babu. Dalan hati Manda menggerutu, nasib oh nasib.
Seo Jun meraih ponsel Manda, sebelumnya ia melempar senyuman manis pada Manda. “Ambil ponselku, setelah itu baru dipikirkan mau kemana.” Ujar Seo Jun.
__ADS_1
Manda mengangguk paham, ia mengarahkan mobilnya keluar dari area hotel. Jika ada yang mengenal Manda dan memergokinya baru keluar dari hotel elit bersama seorang pria, ia yakin gossip murahan akan bertebaran di sosial media. Orang yang tengah terpuruk sepertinya memang rentan jadi sorotan, itu sudah wajar karena lebih banyak orang yang senang melihat orang jatuh susah ketimbang bahagia.
“Eh, sebentar.” Seo Jun meminta Manda menepikan mobil sejenak. Gadis itu menurut saja meskipun bingung apa yang hendak pria itu lakukan dengan menyuruhnya berhenti padahal baru beberapa menit ia melajukan kendaraan.
Manda melirik Seo Jun yang menarik resleting tasnya, lalu mengeluarkan segepok uang lagi dan menyodorkan padanya. “Pembayaran hari ini aku kasih sekarang ya.” Ujar Seo Jun tersenyum sangat manis.
Manda blinger menatap senyuman Seo Jun, bukan karena saking manisnya namun karena ia galau disodori uang tunai sebanyak itu lagi. Tas pinggangnya sudah hampir meledak, kalau benda itu adalah perut manusia, mungkin
akan muntah saking penuhnya. Baru kali ini Manda ngeri mendapatkan segepok uang, ia tak tahu harus menyimpannya di mana lagi biar aman.
“Ng, bisa nggak ditransef aja?” Tanya Manda dengan konyol. Setelah itu ia menepuk jidatnya seraya merutuki kebodohannya.
Seo Jun ikut bingung, bagaimana mungkin ia mentrasfer sedangkan ia saja harus merupiahkan dulu uangnya. Malah jadi dua kali kerja dan tidak praktis. Pria itu masih menjulurkan uang yang belum berhasil serah terima.
seraya tertawa yang terdengar maksa dan aneh, ia menerima uang dari Seo Jun sambil menganggukkan kepala. Ungkapan terima kasih itu tertular dari Seo Jun yang kerap menganggukkan kepala padanya saat berkata terima kasih.
“You are welcome.” Jawab Seo Jun ramah. Ia tersenyum melihat tingkah Manda yang kaku.
“Tapi aku mau mampir ke ATM sebentar ya, uangnya mau aku setor saja ke rekeningku biar aman. Nggak enak bawa cash banyak-banyak, nggak apa-apa kan?” Manda meminta ijin pada Seo Jun, bagaimanapun dia adalah
bos Manda dan ini masih jam kerjanya.
Seo Jun mengangguk, “Itu lebih baik daripada kamu suruh aku transfer ke rekeningmu.” Pria itu tertawa. Manda yang merasa sedang disindir itu hanya bisa tertawa garing, lelucon ini memang ia yang ciptakan sehingga kini ditertawakan.
__ADS_1
***
Sementara itu di konter ponsel salah satu mall, Devi berdiri melipat tangan dengan perasaan tak tenang. “Pokoknya hari ini aku harus menemukan Lee Seo Jun.”
***
Menurut kalian bagaimana reaksi Seo Jun saat bertemu Devi?
A. Pura-pura tidak kenal padahal memang tidak kenal.
B. Langsung memaafkan Devi dan menjadikannya guide, plus memecat Manda jadi supirnya. Bayarannya mahal sih ….
C. Tidak mau berurusan, Devi yang membuat liburan Seo Jun berantakan.
***
Terima kasih tetap setia menantikan update cerita ini, Author mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Maafkan thor yang agak lama updatenya ^^
Sayang sama kalian ^^
Ttd
Author Lee
__ADS_1