
“Lepasin tangan gue!” Rengek Sofie yang menatap tidak senang pada gadis yang tidak ia kenali. Tiba-tiba saja ia mendapat serangan dari gadis yang juga menyebut nama Seo Jun. Sofie yang baru sadar akan hal itu mendadak panik, ada orang yang mengenal Seo Jun dan kini bertanya padanya tentang keberadaan cowok Korea itu.
OMG, masalah apalagi ini? Jangan-jangan ini ceweknya si oppa? Gumam Sofie dalam hati. Ia menepis genggaman tangan Devi secara paksa.
“Aku tanya sekali lagi, kamu yang bawa dia ke sini kan? Trus di mana dia sekarang?” Tanya Devi, nada bicaranya mulai melengking.
Reagan tak tinggal diam melihat pacarnya diintimidasi, ia melangkah maju dan melindungi Sofie. Tubuh tegap pria itu menyembunyikan tubuh Sofie di belakangnya. “Selow aja sih mbaknya, kita juga nggak tahu kemana orang Korea itu sekarang. Dia pergi sama cewek lain kok, galak lagi. Lah, mbak siapanya? Kok tahu nama dia tapi nggak tahu dia di mana?” Tanya Reagan. Setelah menjawab panjang lebar itu, ia merasa bangga sudah berhasil melindungi kekasihnya.
Devi mengernyitkan dahi, “Cewek galak? Ya Tuhan siapa lagi yang terlibat sama dia?” Devi memijiti keningnya, serangan pusing secara mendadak gara-gara memikirkan nasib Seo Jun yang tidak jelas.
Sofie muncul dari belakang tubuh Reagan, wajahnya cemberut menatap Devi. Boleh dibilang ia sedikit cemburu karena pikiran yang ia ciptakan. Khayalannya menyebutkan bahwa Devi adalah pacar Seo Jun yang kehilangan jejak Seo Jun gara-gara ponsel yang rusak.
“Lalu kamu ke sini ambil handphonenya buat apa? Kamu saja nggak tahu dia di mana, ngapain ambil ponselnya?” Devi memincingkan matanya, ia menyoroti Sofie yang berdiri di sebelah Reagan. Nota pembayaran masih di tangannya, yang kemudian dengan sigap hendak direbut Devi. Beruntung bagi Sofie karena sigap mempertahankan kertas yang dipegangnya, namun Devi terus memaksa sehingga kerobekan pun tidak terelakkan.
“Ya… Robek.” Gerutu Sofie kesal karena gagal mempertahankan miliknya dan justru rusak akibat saling menarik.
Devi membaca kertas sobekan itu, memang tidak ada artinya bagi dia karena ia mempunyai cadangan dari nota si pemilik konter. Tidak ada gunanya juga, kertas itu hanya berisikan nomor ponsel pemilik konter. Yang jelas, tujuan Devi merusak kertas itu supaya Sofie tidak nekad memaksa untuk mengambil ponsel itu.
“Ya udah kalau robek, artinya nggak sah. Lagian bukan pemilik ponsel yang datang ambil, mana boleh diberikan. Kamu mau ambil barang orang kan?” Tuding Devi dengan mata mendelik.
__ADS_1
Sofie ketus menatap Devi, bisa-bisanya ia dituding menginginkan barang orang seakan ia tidak mampu membeli sebuah ponsel mahal. “Heh, jangan ngasal lu. Kalau handphone mahal doang, gue juga bisa beli. Ngapain mesti
ambil punya orang yang bekas servisan.” Ujar Sofie kesal.
“Lah, trus kenapa ngotot mau ambil punya orang padahal udah tahu orangnya belum datang dan nggak tahu di mana.” Balas Devi tidak mau kalah.
Reagan mulai pusing kepala, mendengarkan dua gadis cerewet saling adu kebawelan nyaris membuat telinganya pecah gendang. Ia melerai keduanya dengan menarik Sofie agar menjauh dari lawannya. “Sudah … Sudah! Mau pecah kepala gue dengernya!”
Pemilik konter lebih galau lagi, meskipun hanya diam mengamati namun ia pun jengah melihat keributan yang terjadi di dalam tokonya. “Kalian diam saja, tidak ada satupun yang bisa ambil hape ini kecuali pemiliknya. Dia yang sudah bayar jadi dia yang harus ambil sendiri walaupun notanya dipegang orang lain.” Ujar si pemilik konter dengan tegas.
Gara-gara perdebatan dua orang gadis cerewet, malah mendatangkan massa yang berkunjung sebagai penonton. Si pemilik konterpun berusaha membubarkan pengunjung kepo itu agar tidak menutupi konternya. Devi melirik
tajam pada Sofie, begitupun sebaliknya Sofie terang-terangan menatap dengan julid pada gadis itu. Mereka mengambil posisi masing-masing dan pasrah pada aturan si pemilik konter. Yang bisa mereka lakukan hanya menunggu, entah sampai kapan pokoknya menunggu kedatangan Seo Jun kemari.
Sofie mendelik kesal, “Lu aja yang balik, gue masih ada kepentingan sama dia. Gue udah bilang bakal bayarin servis hapenya, jadi gue harus balikin duit dia baru deh gue tenang.” Ujar Sofie. Sebenarnya itu hanya alasan agar ia bisa bicara lagi dengan Seo Jun, dan syukur-syukur kalau pria itu mau memberinya kesempatan sekali lagi.
“Lu nyari dia buat apa? Lu siapanya dia?” Akhirnya pertanyaan itu terlontar dari mulut Sofie juga, rasa penasarannya terhadap Devi yang juga terlihat antusias mencari Seo Jun itu tak bisa dipendam terus. Sofie menebalkan kulit wajahnya untuk bertanya tanpa malu pada gadis yang tadi diajak berdebat dengannya.
Devi hanya melirik sebentar pada Sofie, melihat wajah gadis itu saja membuatnya kehilangan selera untuk menjawab pertanyaan itu. Ia memilih menyibukkan diri dengan ponselnya, ketimbang menghabiskan suara untuk melayani pertanyaan Sofie.
__ADS_1
Reagan menghela napas berat, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana panjang dan tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan getaran ponsel di dalam sana. Ia mengeluarkan ponsel itu, matanya menyipit mendapati sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.
***
Manda duduk dengan santai menikmati es krimnya, ini sudah gelas kedua dari minuman manis nan dingin yang dihabiskannya. Sementara Seo Jun lebih memilih bengong melihat rakusnya Manda pada es krim itu. Entah karena
suka atau karena haus, Manda melahapnya seolah itu adalah minuman terenak di dunia.
“Ah, astaga kenapa nggak kepikir sebelumnya.” Gumam Manda yang seketika matanya membulat penuh antusias. Bagi Seo Jun yang tidak mengenal dirinya, mungkin ia dianggap rakus melahap es krim di saat pria itu ingin
mendapatkan ponselnya. Namun bagi Manda, makan es krim di saat penat adalah cara paling ampuh untuk mendinginkan pikiran. Dengan pikiran yang tenang maka mampu berpikir jernih dan akhirnya menemukan jalan keluar terbaik.
Manda menjulurkan tangan ke hadapan Seo Jun, pria itu tahu maksudnya dan meletakkan ponsel yang sedari tadi ia pegang ke dalam genggaman tangan Manda. Setelah itu, Manda terlihat sangat antusias, ia bahkan membuka mulutnya hingga lidah yang terjulur sedikit terlihat. Telunjuknya dengan lincah menekan angka-angka yang ia hapal di luar kepala, sebuah nomor ponsel yang diminta secara paksa untuk mengancam seseorang.
Seo Jun tak mengerti apa yang dilakukan Manda, namun saat ia buka suara sedikit saja untuk bertanya, Manda malah mengkodenya agar diam. Telunjuk tangannya yang nganggur diletakkan di depan bibir, pertanda agar
Seo Jun tidak mengusiknya sekarang.
Manda menekan tombol panggilan setelah yakin semua nomor sudah ia tekan, kini tinggal membuktikan apakah benar pemilik nomor itu adalah orang yang ia cari. Ia mengetuk meja mengikuti irama sambungan panggilan
__ADS_1
yang menunggu jawaban, sementara Seo Jun terus menatap lekat padanya. Tanpa Manda sadari, pria itu mengagumi kecantikan wajah Manda saat tengah antusias melakukan sesuatu.
***