
Manda memincingkan mata, heran saja dengan keputusan mendadak itu. ia meminta ponsel untuk bicara, “Bukannya kamu bilang nggak akan menyesal ngikutin aku? belum apa-apa kamu sudah nggak kuat kan, ini bukannya penyesalan?” ledek Manda, ia belum mengikuti perintah bosnya dan masih memegang alat mandi.
Melihat pemberontakan Manda, jelas langsung memicu adrenalin Seo Jun. Pria itu dibuat tak sabaran dengan sikap membangkang si gadis. Ia berjalan cepat mencegat langkah Manda dan langsung mengendongnya dari belakang,
memangku tubuh langsing itu ke atas pundaknya persis orang yang tengah memapah sekarung beras.
“Lepasin! Lepasin aku!” Pekik Manda sembari menendang angin saking tidak mengenai tubuh Seo Jun sedikitpun, ia terus berontak dengan kaki karena kedua tangan masih memegang alat mandi.
Seo Jun menggendong Manda hingga di depan pintu mobil, ketika gadis itu diturunkan, jarak mereka berdua sangat dekat sehingga Manda bisa leluasa memandang wajah pria itu.
Lihat dari dekat, dia tampan banget, mukanya licin banget sampe nggak ada tahi lalat, kumis, jerawat satupun yang menempel. Buset, mukaku kalah terawat. Gumam Manda dalam hati, mengagumi wajah bening Seo Jun.
Seo Jun mendehem hingga nyawa Manda terkumpul semua dan sadar apa yang ia lakukan terlihat bodoh, mengagumi pria yang dengan paksa menggotong tubuhnya lalu menyuruhnya mengantarkan ke hotel. Ia jelas tidak rela kalah begitu saja, “Oke, tapi setelah aku mandi.”
“Tidak! sekarang juga kita pergi dari sini. Mandi masih bisa nanti, cepat aku tidak tahan lagi ngantuknya.” Ujar Seo Jun sembarangan beralasan.
Meskipun tidak rela kalah begitu saja, Manda tidak punya banyak pilihan. Ia tetap harus melaksanakan perintah bosnya, dengan mata mendelik ke arah Seo Jun, ia menggeletakkan barangnya begitu saja di jok belakang dan masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Seo Jun tersenyum senang, walau mendapat tatapan yang seperti mengandung setruman listrik, yang penting ia berhasil menggagalkan aksi nekad Manda mandi di tempat umum. Ia tak sanggup membayangkan seorang gadis menanggalkan seluruh pakaiannya dan mandi di toilet umum, siapa yang bisa menjamin keamanan fasilitas itu? Kalau ada yang usil mengintip lalu merekamnya, jelas gadis itu yang lebih dirugikan.
Sepanjang perjalanan mereka terdiam, Manda masih kesal dan menggerutu dalam hati sementara Seo Jun menikmati keheningan ini, cocok untuk ketenangan jiwanya yang sepanjang hari diricuhi masalah. Saking banyaknya kejadian tak terduga di sini, ia sampai melupakan masalah-masalahnya di Negara asal. Seakan-akan ia telah lahir kembali dan menjalani kehidupan baru. Ia menyibukkan diri dengan mengompres es pada bibirnya yang sebenarnya sudah bebas dari bengkak. Hanya saja sensasi dingin itu terasa menyegarkan dan membangkitkan semangatnya.
Gengsi Manda masih sangat tinggi, hanya untuk sekedar bertanya hotel yang akan cocok bagi pria itu saja, Manda tidak bersedia. Pria itu meminta dibawa ke hotel bintang lima, jadi Manda bisa mengukur kemampuan dan selera Seo Jun. Tanpa ragu, ia melajukan mobilnya ke kawasan barat Jakarta, di mana ada satu hotel yang ia sukai dan dirasa cocok dengan bosnya.
Mobil Pajero Manda mulai memasuki parkiran hotel elit itu, sebenarnya ia bisa saja menurunkan Seo Jun di *l*obby, hanya saja ia ingin sedikit menyusahkan pria itu. Siapa suruh Seo Jun kelewat percaya diri dan yakin bisa mengikuti gaya hidup manda yang serba kepepet, nyatanya belum apa-apa ia sudah menyerah dan kabur mencari kenyamanan hidup.
“Udah ya bos, sisanya urus sendiri. Ponselku jangan dibawa, aku juga perlu pakai.” Manda mengucapkan kata-kata perpisahan untuk hari ini, tugasnya menjadi supir pribadi ia rasa sudah cukup bertanggung jawab. Selebihnya ia tidak perlu mencampuri urusan Seo Jun, ia yakin pria itu cukup pintar dan mandiri hanya untuk sekedar check in hotel.
Tanpa Manda sadari, bahkan ia belum punya kesiapan, Seo Jun menurunkan semua tas Manda dan menarik lengan gadis itu. “Kamu mau kemana? Malam ini kita nginap di sini!” Perintah Seo Jun tegas.
bisa cari tempat tidur lain. Tenang, aku datang lagi besok jam 6 pagi. Kamu tidak usah takut aku menghilang.”
Seo Jun nyengir, kesabarannya seolah diuji oleh gadis itu. Entah memang karena ia terlalu polos atau ia pura-pura bodoh, Seo Jun sudah menawarkannya nginap gratis di sini tapi ia malah lebih memilih tidur di jalanan. “Bawa barang-barangmu dan ikuti aku! Ini peringatan, aku tidak suka penolakan! Kau mau uang jaminanmu ku kembalikan? Kalau iya, jadi gadis penurut.” Ancam Seo Jun tegas.
Mendengar gaji jaminannnya disentil, Manda akhirnya tidak punya banyak pilihan selain menjadi gadis penurut. Uang empat juta itu sangat berarti, bukan mudah mencari uang sebesar itu baginya. Ia tetap was-was mengikuti apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.
__ADS_1
Seo Jun melangkah pasti sembari menggeret koper, auranya yang begitu berwibawa terlihat menyilaukan Manda yang berjalan di belakangnya bak pelayan. Manda merasa kecil, dekil, tersisiskan ketika pancaran aura itu terlihat. Heran saja, sepanjang hari bersama Seo Jun tapi baru sekarang ia merasakan pria itu sangat menonjol dan penuh kharisma. Lah, dari tadi kemana saja kesan istimewa itu disembunyikan?
Pria itu dengan langkah pasti menuju lobby, kedatangannya disambut oleh security dan CS dengan sangat ramah. Ia sangat fasih berbahasa Inggris, mendengar pembicaraannya yang mengalir lancar dan mental dari telinga Manda, membuat gadis itu merasa seperti mendengar dengungan dua ekor nyamuk saking ia tidak mengerti. Ia bukan tidak pernah belajar bahasa Inggris, hanya saja ijasahnya membuatnya malu lantaran tidak sebanding dengan kualitas otaknya. Tiba-tiba Manda merasa ingin lebih serius memperdalam kemampuan bahasa Inggrisnya walau harus mengulang dari 0.
CS yang cantik itu melayani Seo Jun dengan senang – karena malam-malam dapat tamu VVIP yang memesan kamar termahal di hotel itu – karena wajahnya sangat tampan persis aktor Korea – karena senyum pria itu
menawan sekali membuat betah mata yang memandang. “Tuan, maaf sekali kamar eksekutif kami hanya tersisa satu unit, dan untuk kelas kamar biasa sudah full. Bagaimana tuan?”
Apa boleh buat, awalnya Seo Jun berbaik hati memesan satu kamar untuk Manda, agar mereka bisa istirahat yang berkualitas malam ini tetapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Bukan Seo Jun yang enggan berbuat baik,
namun kesempatan itu yang tak mendukung. “Oke, yang itu saja.” Jawab Seo Jun masih dengan senyuman yang manis.
“Baik tuan, mohon ditunggu sebentar saya urus dulu.” CS itu tersenyum kemudian menyelesaikan urusan adminsitrasi dengan cepat.
Manda mendapatkan suguhan juice jeruk dingin oleh pelayan, minuman gratis bagi tamu yang sedang menunggu penyelesaian check in. Dinginnya juice yang mengaliri tenggorokan Manda itu terasa menyegarkan, sensasi itu membuat moodnya membaik seketika.
Seo Jun ditawari minuman yang sama namun ia menolaknya halus, Manda melihat itu dan enggan membuang rejeki nomplok begitu saja. Ia segera mewakili Seo Jun menghabiskan jatahnya, gelas kosongnya ia tukar dengan jatah Seo Jun lalu dengan senang hati menghabiskannya.
__ADS_1
Seo Jun menahan tawa ketika melihat tingkah Manda, barang-barang yang ia dan Manda bawa kini berpindah ke tangan pelayan yang akan mengantarkan ke kamar mereka. “Ayo !” Ujar Seo Jun singkat sembari menarik lengan Manda, mengikutinya ….
***