Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta

Cowok Koreaku Nyasar Di Jakarta
Episode 74 DILEMA


__ADS_3

Manda masih panik mencari di sekitar kamar perawatan ayahnya, hingga ia sadar sendiri bahwa ayahnya tidak ada lagi di sini.


Sekarang Manda sungguh ketakutan, ia takut sesuatu yang buruk terjadi padanya lalu ia menjadi sebatang kara.


"Tidaak!" Pekik Manda histeris membuat Seo Jun segera berlari mendekapnya.


Seo Jun berusaha menahan Manda yang meronta, ia tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu sehingga terlihat sangat panik.


"Hei, be Quite okay. Tell me what happened?"


Tanya Seo Jun berusaha menenangkan Manda.


Manda berhenti meronta, kesadarannya mulai terkontrol. "I must found my father." Jawab Manda singkat kemudian melepaskan diri dari jangkauan Seo Jun. Ia segera berlari menuju lift dan hendak menuju bagian resepsionis.


"Hei... Wait!" Pekik Seo Jun lalu berlari cepat mengejar Manda.


Manda berhenti berlari, ia ingat betul Seo Jun punya trauma. Jangan sampai ia juga ikut kehilangan pria itu. Seo Jun berhasil mengejar Manda yang sudah berhenti, sengaja demi menunggunya. Kemudian tanpa berkata-kata, Manda meraih tangan Seo Jun lalu kembali berlari mendekati lift dengan berpegangan tangan.


Seo Jun melirik iseng tangan Manda yang menggenggamnya dengan erat, hingga Manda menyadari lalu melepaskan tangannya. Di dalam lift, mereka hanya diam saja. Manda sibuk dengan kekhawatirannya sementara Seo Jun sibuk tersenyum dengan khayalan manisnya.


Lift berhenti, sama halnya dengan khayalan Seo Jun yang terpaksa berhenti juga. Ia bergegas menyusul Manda yang lincah berlari mendekati loket pendaftaran.


"Mbak, pasien atas nama Antonio Salim dipindahkan ke ruangan mana?" Tanya Manda tergesa-gesa. Ia bahkan tak segan menerobos antrian seseorang yang sesuai nomor pendaftaran.


"Maaf mbak, utamakan antrian dulu ya. Silahkan nomor 129." Ujar petugas itu cuek.


Manda menghalangi pria yang memiliki nomor antrian itu, tetapi pria itu juga gigih mempertahankan haknya, hingga terpaksa Manda mengambil kesempatan lengahnya pria itu lalu merebut kertas antrian di tangan si pria.


"Hei, wanita nggak tahu diri, kembalikan nomorku!" Protes pria itu kesal.


Manda tak peduli, ia meletakkan nomor antrian itu tepat di hadapan petugas yang hanya geleng-geleng kepala saja.

__ADS_1


"Aku hanya minta tolong dicek pasien atas nama Antonio Salim sekarang dipindahkan ke ruangan mana." Ujar Manda mengulang permintaannya.


Petugas itu menghela napas dan dengan terpaksa meladeni pertanyaan Manda, "Tunggu sebentar." Jawabnya singkat.


Manda tampak tak sabar, ia mengetuk jemarinya di atas meja. Ia tak menyadari pria yang direbut nomornya itu bersiap menariknya pergi dari belakang. Namun belum sampai tangan pria itu menyentuh Manda, justru aksinya sudah dilumpuhkan oleh Seo Jun.


Si Oppa menggenggam lengan pria itu dengan kencang, dan begitu pria itu menoleh, Seo Jun memasang wajah menakutkan hingga nyali pria itu ciut.


"Don't touch her!" Ancamnya dengan pelan namun tegas.


Pria itu menanggapi ancaman Seo Jun dengan serius, ia mundur teratur tanpa perlawanan. Meskipun masih sempat menoleh dan memberikan tatapan sinis pada dua orang anak muda itu.


"Jadi gimana mbak?" Tanya Manda tak sabaran, ia seperti dipersulit untuk sekedar tahu informasi pasien yang statusnya masih keluarganya sendiri.


"Pasien atas nama tersebut sudah keluar rumah sakit sejak tadi pagi." Jawab petugas itu yang akhirnya memberikan jawaban setelah ditodong ulang.


Manda terkesiap, ia tampak belum puas.


petugas itu menatap malas pada Manda. "Bukankah dia narapidana? Polisi sudah membawanya kembali ke penjara. Hanya itu yang bisa saya sampaikan, nomor antrian berikutnya." Teriak petugas itu sambil memencet nomor antrian selanjutnya.


Manda geram mendapatkan perlakuan tak adil itu, ia merasa semua itu karena status ayahnya sebagai tahanan. Tapi bukan berarti semua orang boleh memandang sinis dan hina pada Manda dan Antonio. Sungguh Manda tidak bisa terima ditindas seperti ini.


"Mbak, kalau kerja itu yang tulus. Mbak kerja di bidang pelayanan, tapi sikap mbak sangat kebangetan. Mau dengar saran gratis dari saya? Mbak mundur aja dari posisi ini, masih banyak yang lebih ramah dan baik daripada mbak." Geram Manda, tapi ia masih bisa menahan diri dan memaksakan senyuman elegannya.


Wajah petugas itu berubah masam, ingin ia membalas perkataan Manda namun jika dipikir apa yang Manda katakan memang benar. Terpaksa ia hanya menelan kekesalan dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


Manda membalikkan badan lalu tersenyum pada Seo Jun yang ia tahu telah membantunya. Kertas antrian yang diserobot Manda masih dipegang, dan saat ia berjalan melewati tempar pria tadi berdiri, pria itu menatapnya sinis. Manda justru mendekatinya sehingga membuat Seo Jun spontan menarik tangan Manda agar menjauhi pria itu.


Manda menatap Seo Jun, meskipun tanpa kata-kata tetapi Manda bisa menyampaikan isyarat pada si oppa agar membiarkannya.


Manda menatap pria yang juga acuh menatapnya.

__ADS_1


"Ini, belum telat buat ke sana, maaf ya dan makasih pak." Bisik Manda sembari menyodorkan kertas antrian yang tadi ia rebut.


Pria itu menerima lalu mempercayai Manda, padahal ia sudah mengambil nomor antrian baru namun ia tetap berusaha mendatangi loket pendaftaran. Sementara Manda segera berlalu dari hadapannya disusul oleh Seo Jun tentunya.


Manda dan Seo Jun tidak menyadari gerak-gerik mereka diawasi dua pasang mata yang duduk di pojokan, pura-pura sebagai pasien.


"Cewek lu itu tingkahnya kayak preman ternyata." Gumam Devi yang tampak sibuk membaca koran terbalik.


Jovas melirik malas pada Devi yang mengomentari Manda. "Benerin dulu bacaan lu, heran deh lu bisa ngomongin orang tapi nggak bisa lihat kekurangan diri sendiri." Kesal Jovas.


Devi nyengir sendiri, ia buru-buru membalikkan koran ke posisi yang benar. Tak lupa sengaja berdehem agar tidak malu malu amat.


"Ehem... Mereka udah pergi, buruan!" Seru Devi bergegas bangun dari kursinya.


Jovas malah masih duduk santai lalu dengan satu tangannya menarik Devi agar kembali duduk.


"Santai aja, gue tahu mereka mau ke mana habis ini. Biarin aja dulu." Ujar Jovas penuh optimis.


Devi tersenyum sumringah, bekerja sama dengan Jovas adalah hal yang paling beruntung bagi Devi. Ia tidak perlu berpikir dan bertindak sendiri, bersatu mengejar kepentingan yang sama jelas lebih bagus daripada mengejarnya masing-masing.


"Oke, aku nurut." Jawab Devi antusias sambil terus mengangguk.


💖💖💖


Manda dan Seo Jun masuk ke dalam mobil, namun Manda tampak serius berpikir. Ia sangat penasaran bagaimana keadaan ayahnya sekarang, tetapi Seo Jun terus membuntutinya sehingga ia tidak punya kebebasan.


"Mau ke mana kita? Ayahmu mungkin sudah pulang, kita jenguk di rumahmu saja." Tanya Seo Jun yang belum tahu apa-apa. Senyumnya yang polos dan manis itu tiba-tiba membuat Manda makin pusing.


Rumah? Apa aku harus ajak kamu menjenguk ayahku di penjara? Batin Manda yang tiba-tiba merasa dilema.


⏳⏳⏳

__ADS_1


__ADS_2