
Di suatu sudut ruang kantor di kota Seoul, Lee Moon mengeluarkan sebuah foto yang dibingkai dengan ukuran 5R. Jemari gadis itu mengelus wajah seorang pria dalam potret itu sembari tersenyum, pikirannya menerawang
membayangkan kehadiran sesungguhnya dari sang pemilik wajah. Betapa ia merindukannya dan berharap dapat segera bertemu lagi dengannya. Moon meletakkan kembali foto keluarga yang berisi Seo Jun bersama kedua orangtuanya itu pada tempatnya. Sudah saatnya fokus pada realita, dan masih belum terlambat untuk
mendapatkan apa yang belum ia dapatkan pada masa lalu.
Flashback ingatan masa kecil Moon ….
Dua orang penata rias sedang memakaikan jas kepada Seo Jun, hari ini anak lelaki kecil itu tampak bersinar-sinar di mata Lee Moon. Ia bak bintang yang paling terang di antara ribuan bintang yang berkilauan. Mata kecil Lee Moon begitu terbuai menatapnya, meskipun hanya dari pojokan.
“Oppa, habis acara jadi kan ajak aku jalan-jalan?” Moon merengek manja pada Seo Jun yang menghampirinya. Acara yang dimaksud gadis kecil itu adalah sesi foto keluarga Seo Jun yang akan berlangsung sesaat lagi.
Moon hadir sebagai penonton dan menyaksikan kebahagiaan keluarga yang tidak bisa ia rasakan. Namun ia masih tetap tersenyum bahagia dengan polosnya, sepolos anak usia enam tahun yang tidak tahu intrik orang dewasa.
Seo Jun mengangguk, “Ng, tunggu di sana. Jangan nangis ya, aku hanya sebentar.” Seo Jun kecil menepuk pundak Moon, meyakinkan gadis kecil itu sebelum ia ikut bergabung dalam sesi pemotretan.
Sayangnya, janji tinggallah janji. Ucapan dua orang anak kecil yang harusnya tidak perlu terkontaminasi campur tangan orang dewasa, nyatanya tak luput dari perhatian ibunda Seo Jun. Sejak awal dua anak kecil itu bicara, wanita itu terus menatap dan menguping apa yang mereka bicarakan. Dan iapun tak akan membiarkan putra semata wayangnya pergi bermain begitu saja dengan anak yang tidak ia sukai.
“Setelah ini kita langsung pergi makan malam, mumpung kita sudah rapi. Bagaimana sayang?” Ibunda Seo Jun berucap sembari memegang tangan suaminya. Tak sulit untuk mengabulkan permintaannya, lantaran ayah Seo
Jun itu langsung menyanggupinya.
“Seo Jun, ayo bersiap! Hari ini adalah hari special keluarga kita, ibu sudah lama menantikan kita kumpul bersama ayah.” Ujar ibunda Seo Jun yang melihat ekspresi kecewa dari wajah putranya.
__ADS_1
Seo Jun mengangguk pasrah, ia menatap Moon yang masih duduk dengan setia menunggunya. Gadis kecil itu mengangguk sembari tersenyum, tangannya mengibas seolah mengisyaratkan agar Seo Jun segera mengikuti orangtuanya dan tak perlu menghiraukannya.
Lamat-lamat ia melihat punggung Seo Jun menjauh, semakin jauh hingga ia bisa leluasa menangis. Mengapa sesulit itu hanya untuk bermain bersama seorang kakak sepupu? Seorang kakak yang juga merupakan satu-satunya
keluarga yang Moon miliki di dunia ini, lebih tepatnya menganggapnya ada dan berarti di dunia ini.
Flashback selesai. Moon mengusap air matanya, tak dihiraukannya hidung yang sudah memerah karena tangisan tertahan itu. Mendadak ia terbawa perasaan lantaran tiada kabar dari Seo Jun hingga sekarang, perasaan
kehilangan seperti yang dirasakannya waktu kecil pun kembali terngiang. Betapa ia tidak siap dengan kenyataan bahwa pria yang selama ini ia sayangi itu tersesat entah kemana di Negara orang.
Moon meraih ponselnya, belum ada notifikasi dari Devi sampai sekarang. Kesabarannya mulai kehabisan daya, Moon bisa hilang akal jika sampai sekarang guide itu belum menemukan keberadaan Seo Jun.
“Devi, sudah ketemu oppaku?” Todong Moon ketika panggilannya tersambung.
“Sampai kapan kamu mau berkelit? Aku tidak mau dibodohi terus-terusan, jangan sampai kesabaranku habis dan aku yang langsung turun tangan. Kutegaskan sekali lagi, jika terjadi sesuatu yang buruk pada oppaku, jangan harap kariermu selamat.”
Moon memutus pembicaraan sepihak, ia bernapas lebih cepat saking kesalnya. Betapa menyesalnya ia memilih seorang guide yang tidak professional untuk Seo Jun. Rencana liburan sepupunya itu berubah jadi mimpi buruk, Moon tak bisa tenang sedetikpun sejak Seo Jun dinyatakan hilang oleh Devi.
“Haruskah aku menyusul ke sana?” Moon mengetuk meja dengan jemarinya, pikirannya mulai kacau dan menerawang ke rencana yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
***
Manda tengah berhadapan dengan seorang wanita muda yang berdiri di belakang meja resepsionis. Dari raut wajah gadis itu, terbaca jelas kegelisahannya. Ia terlalu berani melangkahkan kaki kemari meskipun tahu bahwa ia tak memiliki modal untuk sepercaya diri itu mengambi keputusan memperpanjang sewa kamar.
__ADS_1
“Maaf membuat anda menunggu lama, Bu. Biaya untuk perpanjang sewa kamar satu malam sebesar sepuluh juta rupiah, anda ingin melakukan pembayaran debit atau dengan kartu kredit?”
Manda terbelalak, untung saja ia masih sadar untuk sedikit jaga image dan tidak mempermalukan dirinya dengan tampang bodoh. Seketika itupula ia merubah raut wajahnya yang gugup dan memaksanya sedikit tenang dengan senyuman yang tampak dipaksakan.
“Oh, begitu. Ha ha ha ….” Manda tersenyum canggung.
“Apa semahal itu untuk satu malam, ng … Bisa downgrade nggak ke kamar biasa?” Niat tidak mau mempermalukan diri itu malah gagal total, Manda barusan mengungkapkan ketidak-mampuannya dan semua itu memang sesuai kenyataan.
Resepsionis itu menatap bingung ke Manda, namun ia kembali dengan ramah memberikan jawabannya. “Kamar biasa kami sejak kemarin masih full book. Waktu check out anda juga sudah lewat, jadi secara otomatis sewa anda telah diperpanjang. Silahkan untuk segera menyelesaikan pembayarannya, bu.”
Manda menggigit bibir bawahnya, ia mengingat dan menghitung jumlah seluruh sisa uangnya dalam hati. Sisa tabungannya ditambah gaji yang ia terima kemarin dari Seo Jun pun tidak akan cukup membayar biaya kamar hotel ini. Tamat sudah riwayatku. Keluh Manda dalam hatinya.
“Mbak, jadi gini … Yang pesan kamar inikan teman saya, dia lagi sakit. Bisa nggak kalau pembayarannya diselesaikan besok pas mau check out?” Manda dengan modal tampang melas terpaksa harus meyakinkan resepsionis itu. Ia tak akan bisa memaksakan diri untuk bertanggung jawab penuh, ini sudah di luar batas kemampuannya. Sekarang ia malah menyayangkan Seo Jun yang terlalu boros sehingga harus memilih kamar semahal ini hanya untuk tiduran dan sakit.
Kenapa aku jadi terlibat begitu dalam dengan pria itu? Batin Manda menjerit, andai urat malunya sudah terlanjur putus, mungkin ia tanpa malu akan menangis sejadi-jadinya di hadapan resepsionis yang masih tercengang mendengar jawabannya.
***
Mata Seo Jun perlahan terbuka, ia mulai merasa tubuhnya bertenaga setelah ketiduran karena efek obat. Pandangannya menyebar ke sekeliling, ada sosok yang ingin segera dilihatnya begitu sadar. Namun sepanjang
mata memandang, sosok gadis yang dicarinya belum juga tampak. Seo Jun merengut sejenak, kemana perginya gadis itu tanpa memberitahunya?
***
__ADS_1